Surat KSKG Diterima UNESCO, Perjuangan Menyelamatkan Karst Gunungsewu Berlanjut ke Tingkat Internasional

Uwrite.id - Upaya penyelamatan kawasan Karst Gunungsewu terus mendapatkan perhatian. Koalisi Selamatkan Karst Gunungsewu (KSKG), yang salah satu anggotanya adalah Paguyuban Tali Jiwa, mengumumkan bahwa surat resmi yang dikirimkan kepada UNESCO terkait berbagai ancaman terhadap kelestarian kawasan Karst Gunungsewu telah diterima pada 24 Mei 2026.
Kabar tersebut menjadi angin segar bagi masyarakat, pegiat lingkungan, akademisi, dan berbagai elemen yang selama ini konsisten mengawal keberlangsungan kawasan karst yang dikenal memiliki nilai ekologis, hidrologis, ilmiah, budaya, serta sosial yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat.
Dalam surat yang dikirimkan kepada UNESCO, KSKG menyampaikan sejumlah poin penting yang menjadi perhatian bersama. Di antaranya adalah permohonan agar UNESCO mempertimbangkan pengiriman tim observasi independen guna melakukan peninjauan langsung terhadap kondisi kawasan Karst Gunungsewu. Selain itu, KSKG juga meminta UNESCO mengingatkan pemerintah dan para pemangku kepentingan mengenai komitmen konservasi yang melekat pada status kawasan sebagai bagian dari jaringan Global Geopark.
KSKG juga mendorong adanya evaluasi terhadap status Global Geopark apabila dalam perkembangannya ditemukan pengelolaan kawasan yang tidak sejalan dengan prinsip-prinsip pelestarian lingkungan dan keberlanjutan yang menjadi dasar pengakuan internasional tersebut.
Sebagai tindak lanjut atas surat yang telah diterima, UNESCO pada Sabtu, (30/5/26) telah memberikan respons positif dengan merencanakan audiensi bersama perwakilan KSKG di Jakarta dalam waktu dekat. Pertemuan tersebut diharapkan menjadi ruang dialog yang konstruktif untuk membahas berbagai persoalan yang dihadapi kawasan Karst Gunungsewu, sekaligus mendengarkan langsung aspirasi masyarakat yang selama ini hidup berdampingan dengan bentang alam karst tersebut.
Baca Juga: Ancaman Karst Gunung Sewu: Para Ahli Desak Pemerintah Membatalkan Pabrik Semen di Pracimantoro Wonogiri
Karst Gunungsewu merupakan salah satu bentang alam karst terbesar dan terpenting di Indonesia. Kawasan ini tidak hanya memiliki keunikan geologi yang diakui dunia, tetapi juga berfungsi sebagai sistem penyimpan dan penyedia air alami yang menopang kehidupan jutaan masyarakat di wilayah Gunungkidul, Wonogiri, Pacitan, dan daerah sekitarnya.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kawasan karst memiliki fungsi ekologis yang sangat vital. Rongga-rongga batuan karst berperan sebagai reservoir alami yang menyimpan air hujan dan mengalirkannya secara perlahan ke mata air serta sungai bawah tanah. Kerusakan terhadap sistem karst berpotensi mengganggu keseimbangan lingkungan, mengurangi ketersediaan air bersih, serta menimbulkan dampak jangka panjang bagi masyarakat.
Baca Juga: Raden Suwiryo: Pahlawan dari Pracimantoro yang Ikut Andil Membangun Fondasi Kemerdekaan Indonesia
Perwakilan Paguyuban Tali Jiwa, Suryanto Permen, menegaskan bahwa langkah yang ditempuh KSKG bukan merupakan bentuk penolakan terhadap pembangunan. Menurutnya, pembangunan dan pelestarian lingkungan seharusnya dapat berjalan beriringan tanpa saling mengorbankan.
“Perjuangan ini bukan untuk menghambat pembangunan. Kami ingin memastikan bahwa pembangunan dilakukan dengan mempertimbangkan aspek lingkungan, kajian ilmiah, dan keberlanjutan sumber daya alam yang menjadi penopang kehidupan masyarakat. Apa yang rusak hari ini belum tentu bisa dipulihkan oleh generasi berikutnya,” ujar Perment, Sabtu, (30/5/26).
Ia menambahkan bahwa dalam berbagai kasus, ancaman terhadap lingkungan sering kali dibungkus dengan narasi pertumbuhan ekonomi. Karena itu, keterbukaan informasi, pengawasan publik, dan kajian ilmiah yang independen menjadi sangat penting agar setiap kebijakan yang diambil benar-benar mempertimbangkan dampak jangka panjang.
Baca Juga: Pabrik Semen di Wonogiri: Mungkinkah Kita Mengorbankan Alam demi Kemajuan yang Salah Arah?
Menurut KSKG, keberadaan UNESCO sebagai lembaga internasional yang menaungi jaringan Global Geopark memiliki peran strategis dalam memastikan kawasan-kawasan yang telah memperoleh pengakuan dunia tetap dikelola sesuai prinsip konservasi dan pembangunan berkelanjutan.
Audiensi yang akan digelar di Jakarta diharapkan menjadi momentum penting untuk memperkuat dialog antara masyarakat sipil, pemerintah, dan lembaga internasional dalam menjaga keberlangsungan Karst Gunungsewu. Selain itu, proses tersebut juga diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi yang objektif, berbasis data ilmiah, dan berpihak pada kepentingan lingkungan serta kesejahteraan masyarakat.
Di tengah proses yang masih berjalan, Paguyuban Tali Jiwa menyampaikan apresiasi kepada seluruh anggota Laskar Tali Jiwa, komunitas lingkungan, akademisi, tokoh masyarakat, media, serta berbagai pihak yang selama ini turut membersamai perjuangan penyelamatan Karst Gunungsewu.
Baca Juga: Danyang Gunung Sewu Masih Ada: Tapi Bukan Seperti yang Kamu Bayangkan
Dukungan yang diberikan, baik dalam bentuk tenaga, pemikiran, pendampingan, doa, maupun solidaritas, dinilai menjadi energi penting yang menjaga semangat perjuangan tetap hidup. Menurut mereka, menjaga Karst Gunungsewu bukan hanya tentang melindungi bentang alam, tetapi juga menjaga sumber kehidupan, identitas budaya, dan warisan yang akan diwariskan kepada generasi mendatang.
“Perjalanan ini masih panjang. Namun diterimanya surat oleh UNESCO dan adanya rencana audiensi merupakan langkah maju yang menunjukkan bahwa suara masyarakat didengar. Kami percaya bahwa perjuangan menjaga Karst Gunungsewu adalah perjuangan bersama untuk masa depan yang lebih berkelanjutan,” kata Suryanto Permen.
Dengan perkembangan tersebut, KSKG menegaskan akan terus mengawal proses yang berjalan serta memastikan bahwa kepentingan lingkungan dan masyarakat tetap menjadi prioritas utama dalam setiap pengambilan keputusan yang menyangkut masa depan Karst Gunungsewu.

Tulis Komentar