Dari Lesung ke Panggung: Sejarah Kelahiran dan Perkembangan Kethoprak dalam Tradisi Seni Jawa

Budaya | 21 Jan 2026 | 23:50 WIB
Dari Lesung ke Panggung: Sejarah Kelahiran dan Perkembangan Kethoprak dalam Tradisi Seni Jawa
Pertunjukan ketoprak dengan lakon Lahire Angling Darmo (Lahirnya Angling Darma), dibawakan oleh Sanggar Seni Ketoprak Siswo Budoyo, JNC Audio Kds Kalen Blora (Foto: Dok. Cah TeamLo Punya)

Uwrite.id - Kethoprak merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan tradisional Jawa yang hingga kini masih bertahan dan dikenal luas, terutama di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Lebih dari sekadar hiburan rakyat, kethoprak berfungsi sebagai media penyampai nilai-nilai sejarah, budaya, moral, hingga kritik sosial yang halus. Melalui dialog, tembang, dan alur cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat, kethoprak menjadi cermin dinamika sosial orang Jawa dari masa ke masa.

Untuk memahami kethoprak secara utuh, penting menelusuri sejarah kelahirannya, latar sosial-budaya yang melingkupinya, serta proses panjang perkembangannya hingga mampu bertahan di tengah arus modernisasi.

Awal Mula Kelahiran Kethoprak

Secara historis, kethoprak diperkirakan lahir pada awal abad ke-20, sekitar tahun 1908 hingga dekade 1920-an. Kemunculan kethoprak tidak dapat dilepaskan dari kondisi sosial masyarakat Jawa pada masa kolonial Belanda. Pada periode tersebut, kesenian rakyat tumbuh sebagai sarana hiburan sekaligus ruang ekspresi sosial bagi masyarakat bawah yang akses hiburannya masih sangat terbatas.

Teater tradisional Jawa dalam dokumentasi lama, diperkirakan diambil pada periode 1900–1930-an. Foto: Koleksi Javanese Traditional Theatre.

Pada masa awal kemunculannya, kethoprak belum berbentuk drama panggung seperti yang dikenal saat ini. Pertunjukan kethoprak bermula dari kegiatan sederhana masyarakat desa yang memadukan bunyi lesung (alat penumbuk padi), tembang-tembang Jawa, serta dialog spontan yang sering kali bersifat improvisasi. Pertunjukan semacam ini biasanya digelar dalam suasana panen raya, hajatan, atau kegiatan gotong royong, sehingga nuansanya sangat lekat dengan kehidupan sehari-hari rakyat.

Nama “kethoprak” sendiri diyakini berasal dari bunyi “prak-prak” atau “thok-thok” yang dihasilkan dari alat musik sederhana atau keprak—alat pemukul kayu yang digunakan sebagai penanda pergantian adegan. Dari bunyi inilah istilah kethoprak kemudian melekat dan digunakan secara luas untuk menyebut bentuk pertunjukan ini.

Perkembangan Menjadi Teater Rakyat

Memasuki dekade 1920 hingga 1930-an, kethoprak mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Unsur cerita mulai disusun lebih sistematis, tokoh-tokoh diperjelas, dan alur cerita tidak lagi sepenuhnya improvisatif. Pada fase ini, kethoprak bertransformasi menjadi seni drama tradisional Jawa yang lebih utuh dan terstruktur.

Aji Saka dan Awal Cerita Peradaban Jawa: Bukan Raja, tapi Penanda Zaman

Dalam perkembangannya, kethoprak memadukan berbagai unsur penting, antara lain dialog berbahasa Jawa—mulai dari ngoko hingga krama—iringan gamelan, tembang-tembang Jawa, serta unsur humor yang kuat. Selain itu, kethoprak juga dikenal sarat dengan pesan moral, petuah hidup, dan kritik sosial yang disampaikan secara halus namun mengena.

Cerita yang diangkat umumnya bersumber dari sejarah Jawa, terutama kisah-kisah kerajaan seperti Majapahit, Pajang, hingga Mataram Islam. Selain itu, legenda rakyat dan cerita lokal juga sering dijadikan lakon. Karena kuatnya pengaruh kisah Kerajaan Mataram Islam, kethoprak kemudian populer dengan sebutan Kethoprak Mataram, khususnya di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya.

Kethoprak dan Kisah Kerajaan Mataram

Meski kethoprak bukan seni pertunjukan yang lahir pada masa Kerajaan Mataram, kisah-kisah Mataram justru menjadi bahan utama dalam banyak lakon kethoprak. Cerita tentang Panembahan Senopati, Sultan Agung, konflik internal istana, hingga intrik kekuasaan sering diangkat dan dikemas dalam bentuk drama yang mudah dipahami masyarakat.

Apakah Jawa Pernah Menjadi Bagian dari Kekuasaan India Kuno? Mengurai Jejak Sejarah Nusantara

Dalam konteks ini, kethoprak berperan sebagai media pendidikan sejarah rakyat. Masyarakat tidak hanya disuguhi hiburan, tetapi juga diajak mengenal sejarah dan nilai-nilai kepemimpinan melalui cerita dramatik. Menariknya, kisah sejarah tersebut kerap disisipi kritik sosial terhadap kondisi zamannya, sehingga kethoprak menjadi ruang refleksi bagi penonton.

Masa Keemasan Kethoprak

Puncak kejayaan kethoprak terjadi pada kurun waktu 1950 hingga 1980-an. Pada masa ini, kelompok-kelompok kethoprak tumbuh subur di berbagai daerah, baik yang bersifat keliling (tobong) maupun yang menetap di panggung tertentu. Kethoprak juga mulai masuk ke media radio dan televisi, yang membuat jangkauannya semakin luas dan populer di berbagai lapisan masyarakat.

Pementasan ketoprak modern yang merepresentasikan gaya pertunjukan masa lampau. Perkiraan periode 1960–1980-an.

Pada periode ini pula lahir tokoh-tokoh kethoprak legendaris yang menjadi idola masyarakat. Sebelum televisi dan hiburan modern berkembang pesat, kethoprak menjadi salah satu hiburan utama rakyat, terutama di pedesaan.

Tantangan dan Adaptasi di Era Modern

Memasuki era modern dan digital, kethoprak menghadapi tantangan besar. Perubahan selera hiburan, derasnya budaya populer global, serta menurunnya minat generasi muda terhadap seni tradisi menjadi persoalan serius. Namun demikian, kethoprak tidak serta-merta menghilang.

Berbagai upaya dilakukan untuk menjaga keberlanjutan kethoprak, mulai dari adaptasi cerita dengan isu-isu kekinian, pengembangan kethoprak humor dan parodi, hingga integrasi dengan media digital dan festival budaya. Dukungan pemerintah daerah, komunitas seni, serta pegiat budaya juga berperan penting dalam menjaga eksistensi kethoprak.

Bulan Suro Bulan Duka Cita Bagi Masyarakat Jawa, Budaya Jawa Melarang Menggelar Acara Pesta

Kini, kethoprak tidak hanya dipandang sebagai seni pertunjukan semata, tetapi juga sebagai warisan budaya tak benda yang mencerminkan cara berpikir, berbahasa, dan bersikap masyarakat Jawa.

Kethoprak merupakan produk budaya rakyat Jawa yang lahir pada awal abad ke-20 dan berkembang dari kesenian sederhana menjadi teater tradisional yang kaya nilai sejarah, budaya, serta kritik sosial. Meski sering mengangkat kisah Kerajaan Mataram, kethoprak sejatinya adalah cermin dinamika masyarakat Jawa lintas zaman.

Di tengah arus modernisasi, kethoprak tetap relevan sebagai pengingat bahwa seni bukan hanya soal hiburan, melainkan juga sarana menjaga identitas, merawat ingatan kolektif, dan menyuarakan kearifan lokal yang terus hidup dari generasi ke generasi.

Menulis di Uwrite bisa dapat penghasilan, Investasikan tulisan anda sekarang juga
Daftar di sini

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar