Aji Saka dan Awal Cerita Peradaban Jawa: Bukan Raja, tapi Penanda Zaman

Uwrite.id - Dalam kebudayaan Jawa, nama Aji Saka bukan sekadar tokoh cerita. Ia hadir dalam buku pelajaran, tembang, wayang, hingga percakapan sehari-hari sebagai simbol awal peradaban: datangnya aksara, hukum, dan tatanan hidup yang lebih tertib. Namun seiring tumbuhnya kesadaran kritis masyarakat, pertanyaan pun kian sering diajukan: apakah Aji Saka benar-benar tokoh sejarah, atau sekadar legenda yang diwariskan turun-temurun?
Pertanyaan ini sejatinya bukan ancaman bagi kebudayaan, melainkan pintu masuk untuk memahami sejarah secara lebih matang dan dewasa.
Antara Sejarah Modern dan Ingatan Budaya
Jika Aji Saka diuji dengan standar sejarah modern—berdasarkan prasasti, kronik sezaman, atau catatan asing—hasilnya relatif jelas. Tidak ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa Aji Saka merupakan tokoh historis yang benar-benar hidup dan memerintah di Jawa. Tidak ditemukan prasasti yang menyebut namanya, tidak ada kronik Tiongkok atau India yang mencatat keberadaannya, dan kisah-kisah tentang dirinya baru ditulis jauh setelah periode yang dikaitkan dengannya.
Danyang Gunung Sewu Masih Ada: Tapi Bukan Seperti yang Kamu Bayangkan
Tahun 78 Masehi yang kerap dilekatkan pada Aji Saka pun sejatinya merujuk pada awal Kalender Saka dari India, yang kemudian diadopsi di Nusantara. Kalender ini menandai masuknya pengaruh budaya India, bukan bukti kelahiran atau naik tahtanya seorang raja Jawa bernama Aji Saka.
Namun, di sinilah letak kesalahpahaman yang kerap muncul. Tidak semua yang tidak tercatat secara historis lantas menjadi tidak penting. Sejarah bukan hanya tentang apa yang benar-benar terjadi, tetapi juga tentang bagaimana manusia memahami, mengingat, dan memberi makna pada masa lalu.
Aji Saka sebagai Simbol Perubahan Zaman
Dalam kajian sejarah dan antropologi, Aji Saka lebih tepat dipahami sebagai figur simbolik—personifikasi dari perubahan sosial besar yang dialami masyarakat Jawa. Ia melambangkan masa transisi penting: dari masyarakat lisan menuju masyarakat beraksara, dari hukum berbasis kekuatan menuju tatanan berbasis norma dan aturan.
Kisah Dewata Cengkar, raja pemakan manusia yang dikalahkan Aji Saka, bukan sekadar dongeng horor. Ia merupakan metafora tentang kekacauan, kekerasan, dan ketidakadaban yang kemudian digantikan oleh keteraturan. Demikian pula kisah dua abdi setia, Dora dan Sembada, yang saling membunuh demi menjalankan amanat—sebuah pelajaran moral tentang kesetiaan, tanggung jawab, sekaligus tragedi akibat komunikasi yang terputus.
Dengan demikian, Aji Saka adalah bahasa simbolik masyarakat Jawa untuk menjelaskan lahirnya peradaban mereka sendiri.
Jawa Tidak Sendirian
Cara ini bukan kekhasan Jawa semata. Hampir semua peradaban besar di dunia menjelaskan masa awalnya melalui tokoh-tokoh mitologis.
Bangsa Romawi mengenal Romulus, pendiri Roma, yang dikisahkan sebagai anak dewa Mars dan dibesarkan oleh serigala. Sejarawan modern sepakat bahwa Romulus bukan tokoh historis yang dapat diverifikasi, namun mitosnya menjadi fondasi identitas Romawi dan legitimasi kekuasaan negara.
Rebuwes dan Jejak Bahasa Belanda dalam Bahasa Jawa: Sejarah, Budaya, dan Cerita Kehidupan
Tiongkok memiliki Huangdi (Kaisar Kuning), leluhur bangsa Han yang dipercaya menciptakan tulisan, kalender, pengobatan, dan sistem pemerintahan. India mengenal Manu, figur kosmologis yang dianggap manusia pertama sekaligus pembuat hukum. Di Amerika Tengah, peradaban Aztek dan Toltek mengenal Quetzalcoatl, pembawa pengetahuan dan seni.
Pola ini berulang: ketika catatan sejarah belum mapan, mitos menjadi sarana untuk menjelaskan perubahan besar dalam kehidupan manusia.
Fungsi Mitos dalam Sejarah
Mitos kerap disalahartikan sebagai kebohongan. Padahal dalam ilmu sosial, mitos dipahami sebagai alat kognitif dan kultural. Ia berfungsi untuk menyederhanakan proses sejarah yang kompleks, menanamkan nilai moral, membangun identitas kolektif, serta menjembatani masa lalu dengan masa kini.
Mitos tidak bertugas menggantikan fakta sejarah, melainkan memberi makna pada fakta yang belum atau tidak bisa dicatat secara rinci.
Karena itu, memperdebatkan apakah Aji Saka “nyata atau tidak” sering kali menjadi perdebatan yang kurang produktif jika berhenti pada jawaban ya atau tidak. Pertanyaan yang lebih penting adalah: mengapa masyarakat Jawa membutuhkan Aji Saka dalam ingatan kolektifnya?
Membaca Aji Saka Secara Dewasa
Mengakui bahwa Aji Saka adalah legenda tidak membuat kebudayaan Jawa runtuh. Justru sebaliknya, hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Jawa sejak lama memiliki cara berpikir simbolik yang halus dan reflektif.
Apakah Jawa Pernah Menjadi Bagian dari Kekuasaan India Kuno? Mengurai Jejak Sejarah Nusantara
Legenda tidak harus dibela sebagai fakta, dan sejarah tidak perlu memusuhi mitos. Keduanya dapat berdampingan bila dibaca dengan kacamata yang tepat. Romulus tidak membuat Roma menjadi palsu, Huangdi tidak menjadikan Tiongkok fiktif, dan Aji Saka tidak membuat sejarah Jawa irasional.
Yang bermasalah bukanlah mitosnya, melainkan cara memahaminya secara naif atau menolaknya secara mentah-mentah.
Edukasi Publik yang Membebaskan
Di tengah masyarakat yang semakin kritis, edukasi sejarah seharusnya tidak memaksa publik memilih antara percaya atau menolak legenda. Yang dibutuhkan adalah kemampuan membaca cerita lama dengan akal sehat dan kedewasaan budaya.
Aji Saka tidak perlu dibuktikan sebagai raja sungguhan untuk tetap bermakna. Ia penting karena menjadi cermin cara orang Jawa memahami perubahan besar dalam hidup mereka: dari kekacauan menuju keteraturan, dari lisan menuju tulisan, dari kekuasaan brutal menuju norma.
Dalam pengertian itulah, Aji Saka bukan sekadar legenda masa lalu, melainkan pelajaran tentang bagaimana manusia memberi makna pada sejarahnya sendiri.
Dan justru di situlah legenda bertemu pencerahan.

Tulis Komentar