Siklus 30 Tahunan: Mengapa Dunia Selalu Jatuh dalam Krisis yang Sama?

Opini | 24 Feb 2026 | 00:25 WIB
Siklus 30 Tahunan: Mengapa Dunia Selalu Jatuh dalam Krisis yang Sama?

Uwrite.id - Sejarah tidak pernah berjalan lurus tanpa gangguan. Peristiwa besar seperti pandemi, krisis ekonomi, dan konflik geopolitik sering kali saling terkait — membentuk gelombang yang memengaruhi jutaan kehidupan. Bila kita menengok kembali pengalaman umat manusia sepanjang abad ke-20 dan ke-21, terlihat pola tertentu: pandemi → krisis ekonomi → gejolak sosial → perebutan kekuasaan — hingga akhirnya peperangan besar.

Kita sekarang berada di era digital yang dimulai sejak pandemi global di awal 2020-an. Karena itu penting untuk memahami sejarah sekaligus kewaspadaan terhadap kemungkinan ancaman Perang Dunia III jika para pemimpin dunia gagal menahan diri dari rivalitas yang destruktif.

1. Pandemi 1918 dan Latar Perang Dunia II

Pandemi Influenza Spanyol tahun 1918 terjadi di tengah Perang Dunia I, menewaskan puluhan juta orang di seluruh dunia. Dampaknya pada tatanan sosial dan ekonomi sangat besar — sistem kesehatan kolaps, tenaga kerja berkurang drastis, dan ketidakstabilan ekonomi menjadi makin parah.

Walaupun Perang Dunia II (1939-1945) dimulai dua dekade setelah itu, kondisi pascaperang pertama dan trauma sosial akibat pandemi dan konflik memberikan fondasi yang rapuh. Kelemahan ekonomi di Eropa dan Asia, disintegrasi sistem politik tradisional, serta kebangkitan ideologi ekstrem memberi ruang bagi konflik global berikutnya.

2. Siklus Krisis Ekonomi 30 Tahunan: Pola yang Berulang

Dalam sejarah modern, krisis ekonomi besar cenderung muncul secara siklikal setiap ±30 tahun, dan seringkali dimanfaatkan oleh kekuatan tertentu untuk memperluas pengaruh atau merebut kekuasaan — dengan rakyat berada di garis depan penderitaan.

a. Depresi Besar (1930-an) — Hindia Belanda dan Dunia

Usai Wall Street Crash 1929, Depresi Besar melanda perekonomian global. Penurunan tajam produksi, dagang, dan konsumsi membuat jutaan orang kehilangan pekerjaan. Di Hindia Belanda, ekonomi yang bergantung pada ekspor komoditas hancur, penduduk hidup dalam kemiskinan ekstrem, dan ketidakpuasan sosial menguat.

Trump Gempur Venezuela: Maduro Ditangkap, Minyak Jadi Sasaran Utama Amerika

Di Eropa sendiri, depresi ini menjadi panggung bagi ideologi totaliter dan ekspansionis seperti Nazi di Jerman yang menjanjikan “pemulihan ekonomi” sekaligus dominasi geopolitik. Krisis ekonomi dimanfaatkan oleh mereka untuk merebut dukungan rakyat, yang pada akhirnya memicu pecahnya Perang Dunia II.

b. Inflasi dan Peristiwa Politik Pascakemerdekaan Indonesia (1960-an)

Setelah Indonesia merdeka, perekonomian mengalami tekanan hebat — terutama periode inflasi tinggi di akhir 1950-an hingga awal 1960-an. Inflasi yang mencapai angka ribuan persen membuat daya beli masyarakat hancur dan kehidupan sosial ekonomi memburuk.

Krisis ekonomi ini menjadi bagian dari ketegangan politik yang akhirnya memuncak pada peristiwa 1965. Ketidakstabilan ekonomi membuka ruang perebutan pengaruh antara kekuatan politik, militer, dan ideologi, dengan rakyat yang menjadi korban utama dari konflik internal tersebut.

c. Krisis Moneter Asia 1998 — Reformasi Indonesia

Krisis moneter Asia 1997-1998 kembali menunjukkan bagaimana tekanan ekonomi global bisa menjadi pemicu pergolakan politik besar. Nilai tukar rupiah jatuh drastis, inflasi meroket, dan sistem perbankan hampir runtuh. Ketidakpastian ekonomi mempercepat ketidakpuasan publik terhadap rezim yang ada, sehingga memunculkan tuntutan perubahan struktural.

Jejak Pendanaan Kelompok Radikal Jadi Alasan, AS Resmi Cap Ikhwanul Muslimin Organisasi Teroris

Krisis ini pada akhirnya melahirkan Reformasi di Indonesia, menggulingkan Soeharto yang telah berkuasa puluhan tahun. Sekali lagi, tekanan ekonomi besar dimanfaatkan dalam perebutan kekuasaan dan transformasi politik — dengan rakyat menyaksikan dampaknya langsung.

3. Era Digital dan Pandemi 2020-an: Titik Balik Baru

Pandemi global yang muncul awal 2020-an bukan hanya krisis kesehatan, tetapi juga katalis perubahan ekonomi, sosial, dan geopolitik global. Resesi di banyak negara, disrupsi rantai pasok global, dan transformasi digital yang diakselerasi menunjukkan bahwa dunia sedang memasuki fase baru yang berbeda dari masa lalu.

Namun di tengah optimisme teknologi, muncul pula gesekan geopolitik baru — persaingan antara kekuatan besar seperti Amerika Serikat, China, dan blok ekonomi lain di Eropa. Energi, teknologi, keamanan siber, dan kendali atas data menjadi arena baru dominasi global yang bisa sedemikian tajam hingga berpotensi menimbulkan konflik berskala besar.

Bayang-Bayang Perang Dunia III, Budiman Sudjatmiko Jelaskan Keresahan Pemimpin Dunia di Davos

Para pemimpin dunia di forum internasional seperti WEF Davos telah menyuarakan keresahan mereka tentang potensi konflik besar ini, yang bahkan disebut bisa menyerupai “Perang Dunia III” jika rivalitas kekuatan besar tidak dikendalikan secara diplomatis dan adil. Pendekatan konfrontatif — baik secara ekonomi maupun militer — bisa memperbesar ketegangan yang pada akhirnya kembali menempatkan rakyat di garis depan dampak terdalamnya.

4. Peringatan: Waspada Agar Tidak Mengulang Sejarah

Sejarah menunjukkan bahwa:

Pandemi bisa melemahkan tatanan sosial dan ekonomi, menciptakan ruang konflik.

Krisis ekonomi besar sering dimanfaatkan untuk perebutan kekuasaan, dengan rakyat menjadi korban.

Geopolitik yang tidak terkendali bisa berubah menjadi perang skala besar, terutama di era perubahan cepat seperti sekarang.

Kita hidup di era digital yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ancaman Perang Dunia III bukan sekadar fiksi — itu adalah peringatan nyata bila para pemimpin dunia tidak bisa menahan rivalitas dan beralih pada kolaborasi yang damai dan saling menghormati.

Sebagai masyarakat global, kita perlu memahami sejarah bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk mencegah tragedi yang sama terulang. Belajar dari pandemi, dari depresi ekonomi, dari perang, dari reformasi — adalah bekal bagi kita untuk memilih strategi pembangunan ekonomi, kedamaian politik, dan solidaritas antarbangsa.

Menulis di Uwrite bisa dapat penghasilan, Investasikan tulisan anda sekarang juga
Daftar di sini

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar