Siap-Siap! BMKG Sebut Kemarau 2026 Bisa Jadi yang Terparah dalam 30 Tahun Terakhir

Uwrite.id - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengingatkan bahwa musim kemarau tahun 2026 di Indonesia berpotensi menjadi salah satu yang paling ekstrem dalam tiga dekade terakhir. Peringatan ini disampaikan berdasarkan analisis kondisi iklim global yang menunjukkan kecenderungan penurunan curah hujan secara signifikan.
Fenomena El Nino yang diperkirakan menguat menjadi salah satu faktor utama yang mendorong potensi kemarau panjang tersebut.
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, dalam keterangannya menyebutkan bahwa masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan sejak dini terhadap dampak yang mungkin ditimbulkan.
“Berdasarkan hasil pemantauan dan proyeksi iklim, tahun 2026 memiliki potensi mengalami kemarau yang lebih kering dibandingkan rata-rata normal, bahkan bisa menjadi salah satu yang terparah dalam 30 tahun terakhir,” ujar Dwikorita, dikutip dari Jawa Pos, Senin, (7/4/26).
BMKG memproyeksikan sejumlah wilayah seperti Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga sebagian Kalimantan akan mengalami hari tanpa hujan lebih panjang dari biasanya. Kondisi ini berpotensi mengganggu sektor pertanian dan ketersediaan air bersih.
Baca Juga: Mendagri Terbitkan Instruksi Siaga Nasional Hadapi Potensi Bencana Hidrometeorologi
Di tingkat lokal, wilayah selatan Wonogiri, Jawa Tengah juga menjadi salah satu daerah yang perlu mendapat perhatian khusus. Sejumlah wilayah di kecamatan seperti Pracimantoro, Paranggupito, Giritontro, dan Giriwoyo diketahui hampir setiap tahun masih sering menghadapi persoalan kekeringan saat musim kemarau panjang.
Kondisi geografis berupa kawasan karst dan minimnya sumber air permukaan membuat warga di wilayah tersebut kerap mengalami krisis air bersih, sehingga bergantung pada bantuan distribusi air dari pemerintah maupun relawan.
Baca Juga: Ahmad Luthfi Ajak Semua Elemen Bersatu Bangun Jawa Tengah dengan Semangat Gotong Royong
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Herizal, turut menegaskan adanya peningkatan risiko bencana akibat kondisi kering ekstrem tersebut.
“Wilayah-wilayah tertentu berpotensi mengalami hari tanpa hujan yang lebih panjang. Ini tentu berdampak pada ketersediaan air bersih, sektor pertanian, serta meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan,” jelas Herizal.
BMKG juga mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk segera melakukan langkah mitigasi, mulai dari pengelolaan sumber daya air hingga penyesuaian pola tanam.
“Kami mengimbau seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan kesiapsiagaan sejak dini, termasuk mitigasi di sektor pertanian dan penguatan cadangan air,” tegasnya.
BMKG menambahkan bahwa prediksi ini akan terus diperbarui mengikuti perkembangan dinamika atmosfer global. Oleh karena itu, masyarakat di wilayah rawan kekeringan, termasuk selatan Wonogiri, diharapkan tetap memantau informasi resmi serta melakukan langkah antisipasi untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan.

Tulis Komentar