Protes Warga Berbuah Hasil, Pemprov Jateng Siapkan Rp5,2 M untuk Perbaikan Jalan Randublatung–Cepu

Uwrite.id - Gelombang protes masyarakat terkait kerusakan ruas jalan provinsi Randublatung–Cepu di Kabupaten Blora akhirnya mendapat respons langsung dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Setelah berbulan-bulan menjadi keluhan warga hingga melakukan aksi penanaman pohon pisang di tengah jalan berlubang, pemerintah akhirnya memastikan telah menyiapkan anggaran sekitar Rp5,276 miliar untuk penanganan ruas jalan tersebut pada tahun 2026.
Kepastian itu disampaikan setelah Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Cipta Karya (PUBMCK) Provinsi Jawa Tengah, Henggar Budi Anggoro, turun langsung meninjau lokasi kerusakan pada Minggu (31/5/26).
Peninjauan tersebut menjadi titik penting dalam rangkaian panjang persoalan jalan Randublatung–Cepu yang selama beberapa tahun terakhir terus menjadi keluhan masyarakat karena kerusakannya dinilai mengganggu aktivitas ekonomi, meningkatkan risiko kecelakaan, serta memperlambat mobilitas warga di wilayah perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Jalur Strategis Penghubung Jawa Tengah dan Jawa Timur
Ruas jalan Singget–Doplang–Cepu merupakan bagian dari jalan provinsi yang memiliki fungsi strategis sebagai penghubung Kabupaten Blora dengan wilayah Cepu serta akses menuju Jawa Timur.
Jalan tersebut setiap hari dilalui kendaraan pribadi, angkutan umum, kendaraan logistik, pengangkut hasil pertanian, hingga kendaraan industri yang mendukung aktivitas ekonomi kawasan Cepu sebagai salah satu wilayah penting sektor energi dan migas nasional.
Bagi masyarakat di Randublatung, Kedungtuban, Doplang, hingga Cepu, jalan ini menjadi urat nadi aktivitas harian. Jalur tersebut digunakan masyarakat untuk menuju sekolah, rumah sakit, pasar tradisional, pusat perdagangan, hingga berbagai layanan pemerintahan.
Karena memiliki peran vital, setiap kerusakan yang terjadi langsung berdampak terhadap aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat.
Kerusakan Jalan Sudah Lama Dikeluhkan
Berdasarkan berbagai laporan masyarakat, kondisi jalan Randublatung–Cepu sebenarnya sudah lama menjadi perhatian warga.
Sejak tahun 2025, masyarakat telah berulang kali mengeluhkan banyaknya titik kerusakan yang tersebar di sepanjang ruas jalan tersebut. Kondisi jalan yang bergelombang, berlubang, serta mengalami pengelupasan aspal membuat pengendara harus ekstra hati-hati saat melintas.
Bahkan pada April 2025, sejumlah laporan menyebut kerusakan jalan di jalur alternatif Randublatung–Cepu masih mencapai sekitar 11 kilometer dan sebagian besar hanya mendapatkan penanganan berupa tambal sulam. Kerusakan terparah disebut berada di sejumlah titik kawasan Kedungtuban hingga arah Cepu.
Baca Juga: Jalan Rusak Pracimantoro-Wonogiri Kembali Renggut Nyawa: Sampai Kapan Dibiarkan?
Saat musim penghujan, kondisi jalan semakin membahayakan karena lubang-lubang besar tertutup genangan air sehingga sulit terlihat oleh pengguna jalan.
Tidak sedikit warga yang mengaku mengalami kerusakan kendaraan akibat menghantam lubang. Para sopir angkutan juga mengeluhkan meningkatnya biaya operasional karena kondisi jalan yang buruk mempercepat kerusakan ban, suspensi, dan komponen kendaraan lainnya.
Sempat Dianggarkan Rp22,72 Miliar pada 2025
Sebelum muncul gelombang protes yang viral tahun ini, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sebenarnya telah mengalokasikan anggaran besar untuk perbaikan sebagian ruas Cepu–Randublatung.
Pada tahun anggaran 2025, pemerintah mengalokasikan dana sebesar Rp22,72 miliar untuk perbaikan sekitar 2,2 kilometer ruas jalan provinsi tersebut. Proyek tersebut direncanakan menggunakan kombinasi rigid beton dan overlay aspal pada sejumlah titik kerusakan berat.
Kala itu, Balai Pengelolaan Jalan Wilayah Purwodadi Dinas PU Bina Marga Jawa Tengah menjelaskan bahwa pekerjaan difokuskan di kawasan Desa Ngraho, Kecamatan Kedungtuban hingga wilayah Mrenung, Kecamatan Cepu dengan metode rigid beton, sementara beberapa titik lainnya menggunakan overlay aspal.
Perbaikan tersebut merupakan bagian dari upaya berkelanjutan pemerintah dalam menangani kerusakan jalan provinsi di wilayah Blora.
Sebelumnya lagi, ruas jalan tersebut juga pernah mendapatkan dukungan melalui Program Inpres Jalan Daerah (IJD) tahun 2023 dengan nilai anggaran mencapai Rp65,3 miliar untuk kegiatan betonisasi dan peningkatan kualitas jalan pada sejumlah segmen.
Namun karena panjang ruas jalan yang cukup besar dan tingkat kerusakan yang muncul di berbagai titik, masyarakat masih merasakan adanya bagian-bagian jalan yang memerlukan penanganan lanjutan.
Viral karena Pohon Pisang di Tengah Jalan
Memasuki tahun 2026, keresahan masyarakat kembali memuncak.
Warga yang merasa kerusakan jalan semakin membahayakan akhirnya melakukan aksi simbolis dengan menanam pohon pisang di sejumlah titik jalan berlubang.
Baca Juga: Tak Semua Jalan Rusak Tanggung Jawab Provinsi, Ini Penjelasan Resmi Pemprov Jateng
Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk protes sekaligus penanda bagi pengguna jalan agar tidak terjebak lubang yang berpotensi menyebabkan kecelakaan.
Foto dan video pohon pisang yang berdiri di tengah jalan rusak kemudian menyebar luas di media sosial dan menjadi perhatian publik.
Tidak hanya masyarakat Blora, warganet dari berbagai daerah turut menyoroti kondisi jalan tersebut. Banyak yang mempertanyakan mengapa jalur provinsi yang memiliki fungsi strategis masih mengalami kerusakan cukup parah.
Dalam waktu singkat, isu jalan Randublatung–Cepu berubah menjadi perbincangan luas dan menjadi salah satu topik yang ramai dibahas di berbagai platform digital.
Sorotan Publik Semakin Besar
Sorotan terhadap jalan Randublatung–Cepu semakin meningkat setelah muncul berbagai unggahan yang memperlihatkan kendaraan mengalami kerusakan akibat kondisi jalan.
Laporan media lokal juga menyebut kerusakan jalan di beberapa titik mulai memicu kecelakaan lalu lintas dan menimbulkan keresahan masyarakat.
Di tengah meningkatnya perhatian publik, persoalan tersebut akhirnya ikut dibahas dalam forum pembangunan tingkat provinsi.
Wakil Bupati Blora, Sri Setyorini, menyampaikan langsung kondisi jalan yang menjadi keluhan masyarakat kepada Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dalam agenda Rembug Pembangunan Provinsi Jawa Tengah.
Penyampaian tersebut menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Blora agar penanganan jalan provinsi di wilayahnya memperoleh perhatian lebih besar.
Respons Gubernur dan Dinamika di Tengah Masyarakat
Saat menanggapi persoalan tersebut, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyampaikan bahwa masalah jalan rusak bukan hanya terjadi di satu daerah, melainkan menjadi tantangan yang juga dihadapi banyak wilayah di Jawa Tengah.
Pernyataan tersebut kemudian ramai diperbincangkan masyarakat dan memicu berbagai tanggapan di media sosial.
Di satu sisi, sebagian masyarakat memahami bahwa pemerintah menghadapi keterbatasan fiskal dan harus menerapkan skala prioritas pembangunan. Namun di sisi lain, warga berharap jalan yang sudah mengalami kerusakan cukup berat tetap mendapatkan percepatan penanganan karena berkaitan langsung dengan keselamatan pengguna jalan.
Perdebatan di ruang publik justru membuat perhatian terhadap kondisi jalan Randublatung–Cepu semakin besar.
Pemprov Jateng Turun Langsung ke Lapangan
Merespons berkembangnya aspirasi masyarakat, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah akhirnya melakukan pengecekan langsung ke lapangan.
Kepala Dinas PUBMCK Jawa Tengah, Henggar Budi Anggoro, mendatangi lokasi untuk memastikan kondisi jalan serta mengevaluasi kebutuhan penanganan yang harus dilakukan.
Dalam keterangannya, Henggar menegaskan bahwa pemerintah telah menerima laporan masyarakat dan mulai melakukan penanganan awal.
"Kami mencoba mengecek langsung terkait apa yang kemarin disampaikan warga. Saat ini sudah ada penanganan yang dilakukan, termasuk pengiriman material dan pembongkaran di beberapa titik," ujarnya.
Menurut Henggar, langkah awal tersebut dilakukan agar kerusakan tidak semakin meluas sambil menunggu tahapan penanganan berikutnya.
Anggaran Baru Rp5,276 Miliar Disiapkan Tahun 2026
Dalam kunjungan tersebut, Henggar juga mengungkapkan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah menyiapkan anggaran sekitar Rp5,276 miliar untuk penanganan ruas Singget–Doplang–Cepu pada tahun 2026.
Alokasi tersebut menjadi sinyal bahwa pemerintah tetap melanjutkan perhatian terhadap ruas jalan yang selama ini menjadi sorotan masyarakat.
Selain itu, Pemprov Jateng juga tengah melakukan pengelompokan beberapa ruas jalan strategis di Kabupaten Blora agar dapat masuk dalam program peningkatan infrastruktur daerah yang lebih luas.
"Kami sedang mengklaster beberapa ruas jalan di Blora untuk didorong masuk program investasi jalan daerah. Mudah-mudahan penanganan bisa dilakukan secara cepat dan tepat," kata Henggar.
Harapan Baru bagi Warga Blora
Bagi masyarakat Randublatung, Cepu, dan wilayah sekitarnya, kepastian adanya anggaran baru menjadi harapan besar setelah panjangnya perjalanan aspirasi yang mereka sampaikan.
Dari keluhan warga, laporan media, pembahasan di forum pembangunan, aksi simbolis pohon pisang, hingga kunjungan langsung pejabat provinsi, seluruh rangkaian tersebut menunjukkan bagaimana persoalan infrastruktur dapat menjadi perhatian bersama ketika menyangkut kebutuhan dasar masyarakat.
Perbaikan jalan Randublatung–Cepu diharapkan tidak hanya menghadirkan kenyamanan berkendara, tetapi juga memperkuat aktivitas ekonomi, memperlancar distribusi barang, mengurangi risiko kecelakaan, serta meningkatkan konektivitas kawasan perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Kini masyarakat menunggu langkah berikutnya: realisasi pembangunan di lapangan. Jika seluruh rencana berjalan sesuai jadwal, jalan yang selama ini menjadi simbol keluhan warga berpotensi berubah menjadi contoh keberhasilan kolaborasi antara masyarakat, pemerintah daerah, dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam memperjuangkan pembangunan infrastruktur yang lebih baik.

Tulis Komentar