Biar Tepat Sasaran, Ketua DPP PDIP Usul Penerima Subsidi LPG 3 Kg Pakai Sidik Jari atau Retina Mata

Uwrite.id - Ketua DPP PDIP sekaligus Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah, mengusulkan penerapan teknologi scan biometrik, seperti sidik jari atau retina mata sebagai syarat bagi penerima subsidi LPG 3 kilogram (kg). Langkah ini dimaksudkan agar subsidi lebih tepat sasaran dan anggaran negara tidak terbuang sia-sia.
Usulan tersebut muncul saat Said menanggapi wacana pengurangan subsidi bahan bakar minyak (BBM), yang beberapa pihak nilai membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Said menegaskan, pihaknya tidak setuju jika subsidi BBM dikurangi, tetapi penyaluran subsidi LPG 3 kg harus lebih terfokus kepada warga yang benar-benar berhak.
"Kalau subsidi BBM dikurangi, kami nggak setuju. Yang diperlukan justru adalah subsidi LPG 3 kg itu harus tepat sasaran, targeted," kata Said di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (6/4/26).
KPK Sita Uang dari Rumah Kader PDIP Ono Surono, Dalami Peran dalam Kasus Ijon Proyek Bekasi
Said menyoroti distribusi LPG 3 kg yang selama ini dianggap belum optimal. Menurutnya, data pemerintah tentang penerima subsidi tidak cukup untuk menjamin keakuratan penyaluran. Oleh karena itu, ia mengusulkan verifikasi berlapis menggunakan teknologi biometrik untuk memastikan setiap penerima benar-benar berhak menerima subsidi.
"Caranya bukan sekadar pemerintah punya data sentral, tapi juga lakukan berulang kali verifikasi dengan sidik jari atau retina mata bagi orang yang berhak mendapatkan tabung LPG 3 kg," ujar Said.
Dengan sistem ini, Said memperkirakan jumlah penerima subsidi yang tepat sasaran hanya sekitar 5,4 juta orang dari pagu semula 8,6 juta. Menurutnya, langkah ini penting agar anggaran negara tidak terbuang percuma.
"Kalau mau tepat sasaran, tidak sia-sia menghambur-hamburkan anggaran, LPG 3 kilo tabung 3 kg itu hanya 5,4 juta cukup, dari 8,6 yang ada di pagu," jelasnya.
Presiden Prabowo Beri Subsidi Pupuk Organik, Dorong Keberlanjutan Pertanian Indonesia
Said juga menyoroti dampak kenaikan harga minyak dunia terhadap berbagai sektor, termasuk harga BBM dan LPG. Ia menegaskan, subsidi bagi rakyat miskin sebaiknya tidak disentuh, sementara perhatian bisa diarahkan pada harga produk nonsubsidi yang belum mencerminkan harga keekonomian.
"Kenapa yang untuk orang miskin yang diotak-atik? Jangan dong. Kalau mau diotak-atik yang sudah dijual di pasar yang nggak harga keekonomian, itu lebih make sense," kata Said.
Ia pun mengimbau semua pihak untuk menanggapi fluktuasi harga energi global dengan kepala dingin, tanpa terburu-buru mengubah kebijakan subsidi. Menurutnya, reaksi panik justru bisa merugikan rakyat kecil yang sangat bergantung pada subsidi energi.
"Jadi kita lagi berhitung betul. Kasih kesempatan lah. Jangan kemudian BBM begitu harga minyak naik, kita kayak kebakaran jenggot seakan-akan besok langit akan runtuh," tambah Said.

Tulis Komentar