Nasionalisme di Zaman Kita: Diskusi Budaya di Cianjur

Pendidikan | 29 Jun 2026 | 21:21 WIB
Nasionalisme di Zaman Kita: Diskusi Budaya di Cianjur
Diskusi nasionalisme dan peran mahasiswa

Uwrite.id - CIANJUR – Semangat memperkuat nasionalisme di tengah perubahan zaman menjadi pokok pembahasan dalam Diskusi Terbuka bertajuk "Nasionalisme di Zaman Kita" yang diselenggarakan di Lapangan Parkir Padepokan Tjakra Poetra Padjadjaran, Desa Nagrak, Kabupaten Cianjur, Sabtu (28/6).

Forum tersebut mempertemukan berbagai unsur masyarakat, mulai dari mahasiswa, tokoh adat, komunitas budaya, pelajar, hingga perwakilan pemerintah daerah. Hadir sebagai narasumber utama, Dr. H. Tom Maskun, M.Pd., anggota DPRD Jawa Barat, sementara diskusi dipandu oleh Tedi Subarkah, sesepuh Padepokan Tjakra Poetra Padjadjaran sekaligus eksponen Gerakan Mahasiswa 1998.

Sekitar 70 peserta mengikuti kegiatan yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh dialog. Acara diawali dengan penampilan musik tradisional Kecapi Suling khas Cianjur yang semakin memperkuat nuansa pelestarian budaya lokal.

Dalam pemaparannya, Tom Maskun menekankan bahwa nasionalisme tidak berhenti pada rasa cinta tanah air, melainkan harus diwujudkan melalui tindakan nyata, salah satunya menjaga serta melestarikan seni dan budaya sebagai identitas bangsa. Ia juga mengajak kalangan akademisi, khususnya mahasiswa, untuk menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi secara utuh. Menurutnya, sikap kritis terhadap kebijakan pemerintah tetap diperlukan, namun sebaiknya didasarkan pada kajian ilmiah yang objektif, metodologis, dan disertai pengabdian kepada masyarakat.

Tom menilai mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan. Oleh karena itu, kontribusi mereka diharapkan tidak hanya berupa kritik, tetapi juga menghadirkan solusi melalui riset, inovasi, dan pemberdayaan masyarakat.

Sementara itu, Tedi Subarkah menyampaikan bahwa ruang dialog lintas elemen masyarakat semakin jarang dijumpai. Menurutnya, forum seperti ini penting untuk membangun budaya diskusi yang sehat, mempererat kebersamaan, serta mencari solusi atas berbagai persoalan kebangsaan secara kolektif.

Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari peserta mengenai tata kelola pemerintahan, implementasi nilai-nilai Pancasila di tengah dinamika global, hingga tantangan penggunaan media sosial. Menanggapi hal tersebut, Tedi menjelaskan bahwa prinsip-prinsip Pancasila telah lama tercermin dalam kebijakan politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif, termasuk melalui Konferensi Asia Afrika 1955 dan semangat Dasa Sila Bandung. Ia juga mengaitkan pentingnya pemerintahan yang adaptif dan inklusif dengan konsep Tri Sakti Bung Karno: berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Penyelenggaraan diskusi pada Bulan Bung Karno dinilai memiliki makna simbolis sebagai pengingat pentingnya menjaga semangat kebangsaan di tengah tantangan era digital. Selain membahas gagasan, peserta juga diperlihatkan berbagai program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan Padepokan Tjakra Poetra Padjadjaran, seperti pertanian, peternakan, serta pengelolaan limbah organik menjadi pupuk dan pakan ternak. Program-program tersebut menjadi contoh bahwa nasionalisme dapat diwujudkan melalui karya yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Pada akhir kegiatan, seluruh peserta sepakat bahwa forum bertema "Nasionalisme di Zaman Kita" perlu terus diselenggarakan secara berkelanjutan di lingkungan kampus, komunitas, maupun ruang publik lainnya. Diskusi semacam ini dinilai mampu memperkuat tradisi akademik, membangun budaya dialog yang konstruktif, serta menumbuhkan semangat kebangsaan dalam menghadapi berbagai tantangan global. Padepokan Tjakra Poetra Padjadjaran pun berharap dapat terus menjadi ruang kolaborasi bagi masyarakat, akademisi, pemuda, dan berbagai elemen bangsa dalam merawat nilai-nilai Pancasila, kebudayaan, dan nasionalisme Indonesia. 

Menulis di Uwrite bisa dapat penghasilan, Investasikan tulisan anda sekarang juga
Daftar di sini

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar

0 Komentar