Donald Trump Klaim Selat Hormuz Akan Dibuka, Kesepakatan AS-Iran Disebut Hampir Rampung

Amerika | 24 May 2026 | 15:07 WIB
Donald Trump Klaim Selat Hormuz Akan Dibuka, Kesepakatan AS-Iran Disebut Hampir Rampung

Uwrite.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim proses negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran terkait stabilitas kawasan Timur Tengah telah mencapai tahap akhir. Salah satu poin utama yang disebut hampir disepakati adalah pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur laut strategis yang menjadi urat nadi distribusi minyak dunia.

Pernyataan itu disampaikan Trump melalui unggahan di platform Truth Social pada Minggu (24/5/26). Dalam unggahannya, Trump menyebut sebagian besar substansi kesepakatan telah dinegosiasikan dan kini hanya tinggal menunggu finalisasi bersama Iran serta sejumlah negara lain yang ikut terlibat dalam komunikasi diplomatik.

“Sebuah kesepakatan yang sebagian besar telah dinegosiasikan, menunggu finalisasi antara Amerika Serikat, Republik Islam Iran, dan berbagai negara lain,” tulis Trump.

Ia menegaskan bahwa salah satu hasil penting dari pembicaraan tersebut adalah rencana pembukaan kembali Selat Hormuz yang sebelumnya berada dalam situasi penuh ketegangan akibat meningkatnya konflik geopolitik di kawasan Teluk Persia.

“Selain banyak elemen lain dari kesepakatan tersebut, Selat Hormuz akan dibuka,” lanjut Trump.

Jalur Vital Minyak Dunia

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia. Jalur sempit yang berada di antara Iran dan Oman itu menjadi penghubung utama Teluk Persia dengan Laut Arab dan Samudra Hindia.

Menurut berbagai laporan energi internasional, sekitar 20 persen distribusi minyak mentah global melewati kawasan tersebut setiap harinya. Karena itu, ancaman penutupan atau gangguan di Selat Hormuz hampir selalu memicu lonjakan harga minyak dunia dan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global.

Dalam beberapa pekan terakhir, situasi di kawasan Teluk memanas setelah meningkatnya ketegangan antara Iran dan sejumlah negara Barat. Ketidakpastian itu membuat pasar energi global sempat bergejolak dan memicu kekhawatiran terjadinya gangguan pasokan minyak internasional.

Analis geopolitik menilai pernyataan Trump mengenai pembukaan Selat Hormuz merupakan sinyal bahwa Washington tengah berupaya menenangkan situasi regional sekaligus meredam dampak ekonomi global akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah.

Negara Arab Terlibat dalam Pembicaraan

Trump juga mengungkapkan bahwa sejumlah negara Timur Tengah ikut terlibat dalam pembicaraan diplomatik yang berlangsung pada Sabtu waktu setempat. Negara-negara tersebut antara lain Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Mesir, Yordania, dan Bahrain.

Baca Juga: Xi Jinping ke Trump: Tiongkok dan Amerika Serikat Harus Jadi Mitra di Tengah Gejolak Dunia

Keterlibatan negara-negara Arab itu dipandang penting karena mereka memiliki kepentingan langsung terhadap keamanan jalur perdagangan energi di kawasan Teluk. Selain itu, sebagian negara tersebut juga merupakan sekutu utama Amerika Serikat di Timur Tengah.

Pengamat hubungan internasional menilai keikutsertaan negara-negara Arab menjadi indikasi bahwa pembicaraan tidak hanya menyangkut hubungan bilateral AS-Iran, melainkan juga menyentuh isu keamanan regional yang lebih luas.

Selain membahas stabilitas kawasan, komunikasi tersebut diyakini turut menyinggung potensi normalisasi situasi keamanan maritim, pengurangan ancaman militer, hingga jaminan keselamatan kapal-kapal dagang internasional yang melintas di kawasan Teluk Persia.

Trump Bicara dengan Netanyahu

Dalam pernyataannya, Trump turut mengungkapkan bahwa dirinya melakukan komunikasi terpisah dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Trump mengatakan pembicaraan dengan Netanyahu berlangsung positif dan membahas perkembangan terbaru terkait negosiasi dengan Iran.

“Saya juga berbicara dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan percakapan tersebut berjalan sangat baik,” ujar Trump.

Keterlibatan Israel dalam dinamika negosiasi menjadi perhatian penting mengingat negara tersebut selama bertahun-tahun menjadi pihak yang paling vokal menentang pengembangan program nuklir Iran.

Baca Juga: Siklus 30 Tahunan: Mengapa Dunia Selalu Jatuh dalam Krisis yang Sama?

Pemerintah Israel sebelumnya beberapa kali menegaskan bahwa mereka tidak akan membiarkan Iran memperoleh kemampuan nuklir militer. Ketegangan antara Teheran dan Tel Aviv bahkan sempat memicu kekhawatiran akan konflik terbuka yang dapat menyeret negara-negara lain di kawasan.

Karena itu, komunikasi antara Trump dan Netanyahu dinilai sebagai langkah strategis untuk memastikan kepentingan keamanan Israel tetap diperhitungkan dalam setiap proses negosiasi yang berlangsung.

Iran Sebut Masih Ada Perbedaan

Meski Trump menunjukkan optimisme tinggi, pemerintah Iran memberikan respons yang lebih hati-hati.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan pembicaraan dengan Amerika Serikat memang menunjukkan perkembangan positif, namun belum berarti seluruh isu utama berhasil disepakati.

“Ada tren menuju pendekatan yang lebih baik, tetapi itu tidak berarti bahwa kami dan Amerika Serikat akan mencapai kesepakatan mengenai isu-isu penting,” kata Baqaei dalam wawancara di televisi pemerintah Iran.

Ia menjelaskan bahwa Iran saat ini tengah menyusun nota kesepahaman berupa kerangka kerja yang terdiri dari 14 poin utama. Dokumen itu nantinya akan menjadi dasar pembahasan menuju perjanjian akhir.

“Niat kami pertama-tama adalah menyusun nota kesepahaman, semacam perjanjian kerangka kerja yang terdiri dari 14 klausul,” ujarnya.

Menurut Baqaei, proses penyelesaian detail kesepakatan final diperkirakan membutuhkan waktu antara 30 hingga 60 hari setelah kerangka awal berhasil dirampungkan.

Baca Juga: Krisis! 10 Juta Warga Kuba Mengalami Gelap Gulita Akibat Runtuhnya Jaringan Listrik Nasional

Meski tidak menjelaskan isi lengkap 14 poin tersebut, sejumlah analis memperkirakan pembahasan mencakup isu program nuklir Iran, pencabutan sanksi ekonomi AS, keamanan regional, aktivitas militer di kawasan Teluk, serta jaminan kebebasan navigasi internasional di Selat Hormuz.

Negosiasi Panjang dan Tekanan Global

Pembicaraan antara Washington dan Teheran telah berlangsung selama berminggu-minggu melalui berbagai jalur diplomatik. Sejumlah laporan menyebut Pakistan turut berperan dalam memfasilitasi komunikasi tatap muka antara kedua pihak.

Namun hingga kini belum ada resolusi permanen yang diumumkan secara resmi kepada publik internasional. Ketidakpastian itu membuat banyak negara terus memantau perkembangan negosiasi karena dampaknya dinilai sangat besar terhadap keamanan global dan stabilitas ekonomi dunia.

Pasar internasional selama beberapa waktu terakhir juga terus bergerak fluktuatif mengikuti perkembangan situasi di Timur Tengah. Harga minyak dunia sempat mengalami kenaikan tajam ketika muncul kekhawatiran mengenai kemungkinan penutupan Selat Hormuz akibat konflik regional.

Sejumlah analis energi menilai jika pembukaan kembali Selat Hormuz benar-benar terealisasi dan situasi keamanan membaik, maka tekanan terhadap harga minyak global berpotensi menurun. Kondisi itu juga dapat membantu memulihkan stabilitas rantai pasok energi internasional yang selama ini terganggu akibat konflik geopolitik.

Meski demikian, para pengamat mengingatkan bahwa proses negosiasi masih sangat dinamis dan rentan berubah sewaktu-waktu. Perbedaan kepentingan antara AS, Iran, Israel, serta negara-negara Arab diyakini masih menjadi tantangan besar dalam mencapai kesepakatan permanen.

Sampai saat ini, baik Washington maupun Teheran belum mengumumkan jadwal resmi penandatanganan perjanjian final. Namun pernyataan terbaru Trump dinilai menjadi sinyal bahwa jalur diplomasi antara kedua negara masih terus bergerak di tengah tingginya tensi politik global.

Menulis di Uwrite bisa dapat penghasilan, Investasikan tulisan anda sekarang juga
Daftar di sini

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar

0 Komentar