Darurat Narkoba Anak di Jateng, BNNP Perkuat Kompetensi Garda Rehabilitasi, Demi Dukung Ananda Bersinar

Uwrite.id - (Semarang) Penyalahgunaan narkoba saat ini menunjukkan tren yang semakin meningkat dan telah menyasar berbagai lapisan masyarakat, termasuk kalangan anak dan remaja.
Secara global, ratusan juta orang tercatat pernah menggunakan narkotika, sementara di Indonesia prevalensi penyalahgunaan mencapai sekitar 1,73 persen atau setara dengan 3,3 juta jiwa.
Kondisi ini menjadi perhatian serius karena anak sebagai kelompok rentan memerlukan pendekatan penanganan yang berbeda, lebih komprehensif, serta berbasis perlindungan dan pemulihan jangka panjang.
Menjawab tantangan tersebut, Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah menyelenggarakan kegiatan Peningkatan Kompetensi Teknis Petugas Rehabilitasi “Kurikulum Intervensi Pada Anak Dengan Gangguan Penggunaan Zat” yang dilaksanakan pada 5–8 Mei 2026 di Hotel @HOM Simpang Lima Semarang, Semarang.
Kegiatan ini diikuti oleh 20 petugas rehabilitasi dari BNNP, BNNK, serta lembaga mitra di Jawa Tengah.
Kepala BNNP Jawa Tengah, Toton Rasyid, S.H., M.H., menegaskan bahwa penanganan anak dengan gangguan penggunaan zat tidak dapat disamakan dengan pendekatan pada orang dewasa, karena anak berada dalam fase perkembangan yang sangat krusial.
“Anak-anak yang terpapar narkoba berada dalam fase pencarian jati diri, sehingga pendekatan rehabilitasi tidak bisa hanya berfokus pada penghentian penggunaan zat, tetapi juga harus menyentuh aspek psikologis, sosial, dan lingkungan mereka. Pendekatan yang dilakukan harus mempertimbangkan kondisi emosional, relasi keluarga, serta pengaruh lingkungan yang membentuk perilaku anak tersebut,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa penguatan kapasitas petugas rehabilitasi merupakan investasi jangka panjang dalam menyelamatkan generasi bangsa.
Peningkatan kapasitas petugas menjadi kunci agar layanan rehabilitasi mampu menjawab kebutuhan spesifik anak secara komprehensif, humanis, dan berkelanjutan.
“Dengan kompetensi yang semakin baik, petugas diharapkan mampu memberikan intervensi yang tepat sasaran, mengurangi risiko kekambuhan, serta mengembalikan anak ke lingkungan sosialnya secara optimal. Kegiatan ini juga merupakan bagian nyata dari dukungan terhadap program Ananda Bersinar, yang menekankan pentingnya perlindungan dan penyelamatan anak dari ancaman narkoba sebagai investasi masa depan bangsa,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Tim Kerja Rehabilitasi BNNP Jawa Tengah, Sholikhun, M.H., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan langkah konkret dalam memperkuat kualitas layanan rehabilitasi di Jawa Tengah.
“Melalui pelatihan ini, kami ingin memastikan setiap petugas memiliki pemahaman yang utuh terkait kurikulum intervensi pada anak, mulai dari aspek konseling, pendekatan psikososial, hingga teknik intervensi berbasis kebutuhan individu anak. Hal ini penting agar setiap layanan yang diberikan benar-benar sesuai dengan karakteristik dan permasalahan yang dihadapi oleh klien anak,” ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya inovasi dan kolaborasi dalam mendukung keberhasilan rehabilitasi.
“Kami mendorong agar petugas tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengembangkan inovasi layanan yang adaptif dan responsif terhadap dinamika di lapangan. Rehabilitasi harus mampu memberikan dampak jangka panjang, termasuk dalam mencegah kekambuhan serta mendukung reintegrasi sosial anak. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara BNNP, BNNK, dan seluruh mitra rehabilitasi, sehingga tercipta sistem layanan yang terpadu dan berkelanjutan,” tambahnya.
Salah satu peserta, Antonius Donni dari IPWL Yayasan Cahaya Kusuma Bangsa (YCKB) Surakarta, menyampaikan apresiasinya terhadap pelatihan yang dinilai sangat aplikatif dan relevan dengan kebutuhan di lapangan.
“Materi yang diberikan sangat komprehensif dan membuka perspektif baru bagi kami dalam menangani klien anak. Kami tidak hanya mendapatkan pemahaman teoritis, tetapi juga praktik melalui simulasi, diskusi, dan roleplay yang membantu kami lebih memahami pendekatan yang tepat dalam berinteraksi dengan anak,” ujarnya.
Ia juga menilai bahwa pendekatan yang diajarkan dalam pelatihan ini lebih humanis dan berorientasi pada kebutuhan anak.
“Pendekatan yang diajarkan sangat menekankan empati, komunikasi yang efektif, serta pemahaman terhadap kondisi psikologis anak, termasuk aspek trauma dan lingkungan sosialnya. Ke depan, kami optimis dapat menerapkan ilmu ini dalam praktik rehabilitasi sehari-hari, sehingga kualitas layanan di lembaga kami semakin meningkat. Harapannya, anak-anak yang kami dampingi tidak hanya pulih dari ketergantungan, tetapi juga mampu kembali berfungsi secara sosial dan memiliki masa depan yang lebih baik,” pungkasnya.
Klik & baca https://uwrite.id/ untuk mengupdate beraneka warta terkini dari Politik, Hukum, Ekonomi, Pendidikan, Kesehatan & Lingkungan Hidup. Juga berita Internasional & Olahraga dari berbagai belahan dunia serta ragam informasi Teknologi-Sains, Film-Musik, Selebriti-Tokoh, Seni-Budaya hingga Religi. Tak ketinggalan rubrik gaya hidup mulai Kuliner, Kesehatan, Pariwisata, Fashion & Otomotif.

Tulis Komentar