Wapres: Ruang Laktasi Bayi Lebih Utama Disiapkan Ketimbang Gerbong Perokok

Surakarta - WAKIL PRESIDEN GIBRAN RAKABUMING RAKA menilai ruang laktasi atau ibu menyusui dan ruang ganti popok untuk bayi lebih prioritas dalam perjalanan kereta jarak jauh.
Pernyataan Gibran tersebut menanggapi usulan dari salah satu anggota legislatif yang menilai perlunya gerbong khusus perokok untuk perjalanan kereta jarak jauh.
“Jika ada ruang fiskal, kalau pendapat saya pribadi, lebih baik diprioritaskan untuk misalnya ibu hamil, ibu menyusui, balita, lansia, kaum difabel,” kata Wapres Gibran usai meninjau revitalisasi Stasiun Solo Balapan di Solo, Jawa Tengah, Minggu.
Gibran menilai bahwa dalam sebuah perumusan kebijakan yang menyangkut masyarakat, harus ditentukan terlebih dahulu skala prioritas sesuai kebutuhan.
Menurut Gibran, jika ada ruang fiskal yang dapat dianggarkan oleh PT KAI, lebih baik diprioritaskan untuk ibu hamil, ibu menyusui, lansia, hingga kaum difabel.
“Misalnya ada ruang laktasi di gerbongnya, mungkin toiletnya, kamar mandinya bisa dilebarkan sehingga ibu-ibu bisa mengganti popok bayi dengan lebih nyaman. Saya kira itu lebih prioritas. Sekali lagi, dalam perumusan sebuah kebijakan ada skala prioritasnya,” ujar Gibran.
Karena alasan tersebut, Wapres meminta maaf kepada anggota DPR yang menyampaikan usulan untuk disediakan gerbong khusus perokok oleh PT KAI. Lebih lanjut Wapres menilai bahwa perumusan kebijakan akan memperhitungkan skala prioritas yang dibutuhkan masyarakat.
Akan halnya demikian, seluruh aspirasi dari anggota DPR untuk peningkatan pelayanan KAI akan ditampung.
“Apakah mungkin terdapat kebutuhan-kebutuhan lain-lainnya yang mungkin lebih prioritas? Silakan, ini semua untuk kebaikan KAI ke depan, untuk kebaikan dan peningkatan pelayanan KAI ke depan. Saya mohon maaf kepada bapak, ibu anggota dewan yang terhormat, masukannya tetap kami tampung, tapi ada hal-hal lain yang lebih prioritas,” imbuh Wapres lagi.
Tuntutan bagi penyediaan gerbong khusus untuk perokok di kereta api jarak jauh baru-baru ini mencuat di diskursus digital.
Hal ini viral setelah disampaikan salah seorang anggota dewan, Nasim Khan pada Rapat Dengar Pendapat dengan Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin pada Rabu (20/08).
Menanggapi hal itu, PT Kereta Api Indonesia (Persero) menegaskan seluruh layanan kereta api yang dioperasikan tetap bebas asap rokok, sebagai bagian dari upaya perusahaan untuk menjaga kenyamanan dan keselamatan seluruh pelanggan.
Kereta Khusus Pedagang dan Hasil Bumi
SEMENTARA itu, Kereta Khusus Pedagang dan Hasil Bumi hasil modifikasi Kereta Penumpang Kelas Ekonomi (K3) yang dibuat di UPT Balai Yasa Surabaya Gubeng, telah siap diluncurkan pada 28 September nanti. Desainnya mengutamakan akses barang dan ruang angkut yang lebih luas.
Bangku penumpang dipasang sejajar di sisi kiri dan kanan, sehingga area tengah lebih lapang untuk menaruh hasil bumi atau dagangan. Pintu bordes juga diperlebar dari 800 mm menjadi 900 mm, sekat partisi dihilangkan, serta jumlah bangku berkurang, dari 106 bangku kini tinggal 73 bangku.
Hal ini sesuai dengan komitmen pemerintah Prabowo Subianto - Gibran Rakabuming Raka yang memberi highlights bagi kebutuhan pedagang, penyuplai hasil bumi mikro-kecil dan kaum petani. Tentunya ke depan hal ini akan memudahkan mereka yang akan menjual hasil buminya keluar daerah tanpa bercampur baur dengan kereta penumpang biasa.

Foto; Kereta Khusus Pedagang dan Hasil Bumi besutan KAI terbaru, yang akan memberikan cukup ruang bagi penumpang untuk mengangkut hasil bumi mereka. (Source foto: VOI)
Kereta Khusus Pedagang dan Hasil Bumi ini telah diuji secara statis di tanggal 14–15 Agustus 2025, dan telah melalui uji dinamis dengan rute Surabaya Gubeng–Lamongan (PP) pada 15 Agustus 2025 yang lalu.
Uji tahap pertama dilakukan internal KAI, sementara uji tahap kedua melibatkan Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan hingga kereta mendapatkan sertifikasi keselamatan. (*)
Tulis Komentar