Sekolah Vokasional Harus Tajam

Opini | 07 Jun 2023 | 05:12 WIB
Sekolah Vokasional Harus Tajam
sourcepic:pixabay.com/illustrations/training-vocational-training-1848725/

Uwrite.id - SMK jurusan multimedia seolah cukup seksi dimata para lulusan siswa siswi SMP, sehingga jurusan ini cukup banyak peminatnya. Jurusan multimedia sepertinya  sejalan dengan derap perkembangan teknologi  terkini bidang media digital yang hampir selalu hadir disetiap denyut dunia kerja apapun itu sektornya. Vokasional multimedia di SMK-SMK seolah cukup prestisius dan menjadi kartu as bagi para lulusannya untuk bertarung didunia nyata. Vokasional multimedia nampaknya mempersiapkan para siswanya supaya akrab dengan teknologi terkini dunia digital multimedia yang melingkupi desain 2D&3D maupun audio-video disamping mampu pula memberikan sentuhan estetika yang memadai pada karyanya.

Sepanjang sepengetahuan penulis, para siswa SMK jurusan multimedia mempelajari banyak hal. Baiklah, mari kita absen satu persatu keahlian yang dipelajari dijurusan multimedia. Para siswa ada yang disodorkan Adobe Creative Suites. Beberapa software yang termasuk keluarga Adobe Creative Suites yang dipelajari adalah Adobe Illustrator, Adobe Photoshop, Adobe Premiere, Adobe After Effect, Adobe Audition hingga ada juga yang diberi materi Adobe Indesign. Kemudian para siswa juga belajar teknik videografi, fotografi, software 3D, belajar Desain Web dan komunikasi digital, Sistem Komputer Dasar, bahkan mungkin ada juga yang belajar animasi hingga desain percetakan. Wow, amazing! Sungguh banyak sekali keahlian yang dipelajari dalam kurun waktu 3 tahun di SMK jurusan multimedia, atau sebenarnya para siswa itu bahkan tidak benar-benar memiliki waktu sampai 3 tahun, karena para siswa disemester pertama mungkin baru hanya pengenalan lalu ditahun akhir sudah bertemu program magang selama 6 bulan.  Waktu kotor yang dimiliki para siswa mempelajari berbagai keahlian itu hanya 2 tahun saja, entahlah waktu bersihya berapa lama, yang jelas jauh lebih sedikit dari 2 tahun.

Penulis pernah berkesempatan menerima siswa magang SMK jurusan multimedia selama 6 bulan. Pada beberapa software Adobe Creative Suites cukuplah kiranya keahlian mereka bila untuk dimanfaatkan pekerjaan-pekerjaan semi-profesional, meskipun keahliannya belum pada level master, tapi mereka jelas mampu bertindak sebagai operator software-software keluaran Adobe. Itupun penulis belum menggali keahlian para siswa SMK multimedia pada keahlian lainnya misal desain web, desain 3D modeling atau animasi. Namun bisa jadi diluar sana banyak juga SMK jurusan multimedia yang sudah menjadi BLUD SMK dimana sekolah bisa memberikan layanan bagi kebutuhan multimedia dimasyarakat  tanpa mengutamakan komersialisasi layanannya. Jadi, bahwa SMK jurusan multimedia keren keahliannya adalah bisa benar adanya. Namun demikian, tentu masih menyisakan beberapa pertanyaan besar dalam benak penulis, beberapa diantaranya adalah : bagaimana sistem sertifikasi keahliannya? apakah dunia industri secara umum cukup percaya dengan nama SMK nya? Beberapa SMK boleh jadi telah bekerjasama dengan pabrik tertentu untuk dilakukan sistem teaching factory, namun apakah sistem teaching factory  atau tefa itu sudah menjadi standar nasional? ataukah masih bersifat kasuistik dan satu atau dua SMK saja yang kebetulan secara geografis dekat atau berada dikawasan industrial suatu wilayah? Sejatinya tefa seharusnya tidak berbatas wilayah maupun demografi tertentu. Atau mungkinkah sistem tefa itu sendiri masih menyimpan berbagai kendala?

Menurut hemat penulis, pada titik inilah negara harus benar-benar hadir dalam menjembatani persoalan sertifikasi yang benar-benar diakui oleh dunia industri dan atau dunia kerja yang sesungguhnya. Namun sebelum negara benar - benar mengadvokasi sekolah-sekolah SMK untuk mendapatkan sertifikasi dari para prinsipal pemilik softwear atau metoda tertentu, ada baiknya kementerian terkait pendidikan mengkaji ulang konsep SMK ini. Contoh, SMK multimedia misalnya, sebaiknya dalam 3 tahun tersebut cukup mempelajari 1 atau 2 keahlian saja namun tersertifikasi oleh prinsipal. Program magang didunia kerja tho tidak sepenuhnya juga mengenai keahlian dalam mengoperasikan software-software editing, foto, atau video, dan seterusnya. Dunia kerja lebih banyak diperlukan keahlian interdisipliner, softskill, komunikasi yang baik, dan manajemen konflik. Perusahaan yang baik sudah mengetahui bagaimana caranya meningkatkan kapabilitas keahlian para karyawannya. Penulis pernah bergabung dengan salah satu grup media besar di Indonesia, ada rekan sejawat yang tadinya samasekali tidak bisa mengoperasikan software CorelDraw, namun dengan budaya kantor yang memadai maka seiring berjalannya waktu, teman kantor saya itu jadi andalan dalam mendesain berbagai kebutuhan publikasi digital maupun printing berbasis software CorelDraw. Bahkan karyawan Telkom sekalipun diberikan pelatihan khusus power point untuk peningkatan tampilan presentasi yang lebih prosfesional, atau didivisi digital diberikan pelatihan secara berkala mengenai ui ux design. Jadi, tidaklah perlu kiranya para siswa SMK multimedia itu dijejali dengan berbagai macam keahlian. Vokasional itu harus tajam, bukan melebar.

Para siswa SMK harusnya lebih banyak dihadapkan pada persoalan-persoalan yang menyangkut manusia, bukan mesin atau software. Bisa jadi, siswa SMK juga lebih membutuhkan bagaimana caranya mengatasi stress, bagaimana mengelola konflik, manajemen komplain dari klien, bagaimana mengukur deadline, bagaimana memberikan harga yang pas untuk pekerjaannya, bagaimana cara negosiasi dengan klien, dan softskill lainnya yang familier dengan dunia industri atau pekerjaan yang sesungguhnya. Jadi menurut hemat penulis, bisa jadi program magang ini tidak usah terlalu lama, cukup 1 atau 2 bulan saja namun bermakna. Dunia kerja akan  terkesiap bila datang seorang calon pelamar kerja dari lulusan SMK membawa ijazah, namun dengan menyodorkan pula selembar advanced sertificate dalam editing berstandar Adobe, atau keahlian 3D dengan sertifikat master berlogo Autodesk Media & Entertainment, atau keahlian fotografinya berstandar Canon Jepang, atau keahlian komputasi standar Microsoft,  dan sertifikat advanced lainnya dengan cap standar para prinsipalnya. Kemudian sipelamar itu mampu melewati sesi wawancara dengan baik karena juga memiliki  kemampuan komunikasi yang memukau.  Disisi lain, dengan bermodal sertifikat standar prinsipal itu maka seorang siswa lulusan SMK sangat bisa untuk mandiri dengan membuat landingpage pribadi mengenai keahliannya sehingga berpotensi mengundang klien untuk memakai jasa para lulusan SMK itu.

 

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar

0 Komentar