Utang Tembus Rp7.849,8 T, Pemerintah Rencanakan Penarikan Utang Rp 973,6 T untuk Atasi Defisit Anggaran Tahun 2022

Ekonomi | 26 May 2023 | 08:03 WIB
Utang Tembus Rp7.849,8 T, Pemerintah Rencanakan Penarikan Utang Rp 973,6 T untuk Atasi Defisit Anggaran Tahun 2022
Ilustrasi utang negara (indonesia.go.id)

Uwrite.id - Pemerintah Indonesia berencana untuk menarik utang sebesar Rp 973,6 triliun guna membiayai defisit anggaran sebesar Rp 868 triliun yang dihadapi pada tahun 2022. Hal ini tercatat oleh Kementerian Keuangan yang mencatat bahwa posisi utang pemerintah hingga 30 April 2023 telah mencapai angka Rp 7.849,89 triliun. Meskipun jumlah ini lebih rendah daripada periode akhir Maret 2023 yang mencapai Rp 7.879,07 triliun, rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tetap berada dalam batas aman sesuai dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.

Dalam Buku APBN KiTA edisi Mei 2023 yang dirilis pada Kamis, 25 Mei 2023, Kementerian Keuangan menjelaskan bahwa pemerintah telah melakukan pengelolaan utang secara baik dengan risiko yang terkendali. Salah satu faktor yang berkontribusi adalah komposisi utang yang optimal, baik dalam hal mata uang, suku bunga, maupun jatuh tempo. Komposisi utang pemerintah didominasi oleh utang domestik sebesar 72,88 persen, sementara Surat Berharga Negara (SBN) menjadi mayoritas dari instrumen utang pemerintah dengan proporsi 89,26 persen.

Pemerintah juga telah mengutamakan pengadaan utang dengan tenor menengah-panjang dan secara aktif mengelola portofolio utang. Data yang dirilis Kementerian Keuangan menunjukkan bahwa pada akhir April 2023, profil jatuh tempo utang Indonesia terbilang aman dengan rata-rata tertimbang jatuh tempo (average time maturity/ATM) sekitar 8 tahun.

Dalam upaya untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan utang dalam jangka panjang, pemerintah terus berupaya mendukung terbentuknya pasar SBN domestik yang dalam, aktif, dan likuid. Salah satu strategi yang dilakukan adalah pengembangan berbagai instrumen SBN, termasuk pengembangan SBN tematik berbasis lingkungan (Green Sukuk) dan SDG Bond yang bertujuan untuk mencapai Sustainable Development Goals (SDGs).

Selain itu, transformasi digital juga memainkan peran penting dalam proses penerbitan dan pemasaran SBN, terutama SBN Ritel yang didukung oleh sistem online. Hal ini telah meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan kepastian pengadaan biaya melalui SBN. Demikian yang disampaikan dalam catatan APBN KiTA edisi Mei 2023.

Dengan rencana menarik utang sebesar Rp 973,6 triliun untuk mengatasi defisit anggaran pada tahun 2022, pemerintah Indonesia berharap dapat memperkuat posisi keuangan negara dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar

0 Komentar