Upaya Pencarian Sebelum Golden Time Terlewati, Tim SAR Diterjunkan Cari Dua Survivor Gunung Bismo Alfin & Yufaidin

Lingkungan Hidup | 09 Jul 2026 | 12:40 WIB
Upaya Pencarian Sebelum Golden Time Terlewati, Tim SAR Diterjunkan Cari Dua Survivor Gunung Bismo Alfin & Yufaidin
Tim Basarnas Wonosobo berupaya keras mencari 2 remaja asal Watumalang yang hilang di Gunung Bismo.

Uwrite.id - Wonosobo - Upaya pencarian dua remaja yang hilang di kawasan hutan Pegunungan Bismo, Dieng, Kabupaten Wonosobo, terus dikebut sebelum masa Golden Time terlewati. Tim SAR gabungan mengerahkan seluruh kekuatan untuk menyisir medan ekstrem yang dikenal rawan dan sulit dijangkau.

Dua remaja asal Dusun Rejosari, Desa Krinjing, Kecamatan Watumalang itu dilaporkan hilang secara misterius sejak pamit untuk beraktivitas di hutan. Hingga memasuki hari keenam, keberadaan keduanya masih belum diketahui.

Korban diketahui bernama Alfin Nurohmat, 18 tahun, dan Yufaidin, 15 tahun. Keduanya masih berstatus pelajar dan telah kehilangan orang tua. Alfin yang duduk di bangku SMA telah kehilangan ibunya, sementara Yufaidin pelajar SMP telah ditinggal wafat oleh ayahnya.

Kedekatan keduanya sebagai sahabat karib menambah keprihatinan warga. Kehilangan dua anak yatim piatu sekaligus dalam waktu bersamaan membuat masyarakat Dusun Rejosari diliputi kecemasan.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanda-tanda yang mengarah pada keberadaan Alfin dan Yufaidin. Tim SAR masih melanjutkan penyisiran dengan metode grid search dan berharap mendapat petunjuk dari masyarakat.

Pemerintah Desa Krinjing mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan membantu dengan informasi jika menemukan ciri-ciri korban. Doa bersama juga digelar warga agar kedua remaja tersebut segera ditemukan dalam keadaan selamat.

Peristiwa bermula ketika keduanya pamit kepada keluarga untuk memancing dan mencari burung di kawasan hutan Gunung Bismo. Aktivitas itu merupakan rutinitas yang kerap mereka lakukan di waktu senggang sepulang sekolah.

Berdasarkan keterangan warga, tiga orang petani sempat berpapasan dengan korban di area perladangan menuju arah hutan. Setelah pertemuan itu, tidak ada lagi kabar mengenai keberadaan Alfin dan Yufaidin.

Kecurigaan baru muncul setelah dua hari kedua anak tersebut tidak kunjung kembali ke rumah. Keluarga yang khawatir kemudian berinisiatif mencari ke lokasi yang biasa dikunjungi korban, namun hasilnya nihil.

Pihak keluarga akhirnya melaporkan hilangnya kedua remaja tersebut kepada warga dan pemerintah desa setempat. Laporan diteruskan ke aparat untuk segera ditindaklanjuti mengingat medan di Gunung Bismo cukup berbahaya.

Merespons laporan tersebut, operasi SAR gabungan skala besar langsung digelar. Komando operasi dibentuk di posko terdekat untuk mengoordinasikan seluruh unsur yang terlibat dalam pencarian.

Berpacu dengan Waktu, 3 Hari Krusial Pertama

Golden Time dalam operasi SAR gunung artinya "waktu emas" — periode paling krusial di awal pencarian di mana peluang survivor ditemukan dalam kondisi hidup paling tinggi.

Ketika dimintai komentar mengenai kasus ini, personil Wanadri senior yang kini tinggal di Banyuwangi, Sugiarto atau dikenal di dunia maya dengan panggilan Sugi (55) kepada kontributor Uwrite.id menyebutkan secara mental, survivor biasanya masih memiliki tenaga dan kesadaran untuk bertahan, memberi sinyal, atau bergerak ke tempat yang lebih aman.

Lebih lanjut Sugi menyebutkan setelah terlampauinya Golden Time, operasi tetap berjalan namun berganti menjadi "extended search". Fokus mulai bergeser dari penyelamatan cepat ke pencarian lebih teliti, disebabkan peluang hidup makin menurun.

"Singkatnya, Golden Time adalah masa tim SAR berpacu dengan waktu. Semakin cepat ditemukan di 1-2 hari pertama, semakin besar peluang survivor selamat," ulasnya.

Dalam pada itu, sebanyak 500 personel diterjunkan ke lokasi. Kekuatan itu terdiri dari Tim SAR, Basarnas, aparat TNI-Polri, relawan, hingga ratusan masyarakat setempat yang mengenal medan sekitar Pegunungan Bismo.

Komandan Pos SAR Wonosobo, Widi, menjelaskan pembagian wilayah kerja telah dilakukan sejak hari pertama operasi. Radius pencarian dibagi menjadi tiga Search and Rescue Unit atau SRU untuk mengefektifkan penyisiran.

Masing-masing SRU mendapat tanggung jawab menyisir jalur pendakian resmi, jalur pintas yang biasa digunakan pencari kayu, serta area hutan lebat yang rawan longsor. Pembagian ini dilakukan untuk mencegah adanya titik yang terlewat.

Medan menjadi tantangan utama. Vegetasi yang rapat dan tebing curam menyulitkan pergerakan tim penyelamat. Jarak pandang terbatas dan minimnya sinyal komunikasi membuat koordinasi lapangan harus dilakukan secara manual.

Selain kendala alam, faktor waktu juga menjadi tekanan tersendiri. Mengingat ini sudah hari keenam, tim memacu pencarian agar tidak melewati batas 24 hingga 72 jam pertama yang dianggap krusial dalam operasi penyelamatan itu tadi. (*)

Menulis di Uwrite bisa dapat penghasilan, Investasikan tulisan anda sekarang juga
Daftar di sini

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar

0 Komentar