Traffic Institute: Pemilu Raya UMM Tidak Sampai 20% Partisipan

Politik | 11 Jul 2023 | 23:50 WIB
Traffic Institute: Pemilu Raya UMM Tidak Sampai 20% Partisipan
foto Dok. Traffic Institute

Uwrite.id - Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) akan melaksanakan Pemilihan Umum Raya (Pemira). Agenda tersebut akan digelar pada hari rabu-kamis (12-13/7/23). Dalam agenda ini akan dilakukan pemilihan calon pimpinan lembaga eksekutif dan legistatif ditataran Universitas, Fakultas maupun Program Studi. Mahasiswa dituntut untuk memilih sesuai dengan pilihannya sebagaimana pemilu demokrasi pada umumnya.

Pemira UMM menuai sorotan dari banyak pihak, salah satunya Direktur Eksekutif Traffic Institute yang juga mahasiswa UMM, Abdul Qodir Alaydrus. Menurutnya, angka pemilih di pemira UMM tak pernah mencapai 50 persen dari keseluruhan jumlah mahasiswa aktif.

“Pada tahun 2022 jumlah suara masuk 7.120 mahasiswa dari jumlah total 38.482 mahasiswa, tidak sampai 20% yang berpartisipasi dalam pemira UMM 2022. Belum lagi ketika ditelisik kembali pada tahun-tahun sebelumnya,” bebernya.

Minimnya partisipasi mahasiswa, lanjut Qodir (sapaan akrabnya), dipengaruhi oleh minimnya sosialisasi penyelenggara. “Banyak faktor yang dapat memengaruhi, salah satunya yang paling bisa dilihat itu minimnya sosialisasi penyelenggara, itu membikin mahasiswa kurang ngerti pemira. Selain itu ya membuat pemira ini semacam tidak pasti, padahal ini sangat penting bagi mahasiwa untuk belajar berdemokrasi secara jujur dan adil,” tambah Abdul Qodir Alaydrus.

Dirinya mengaku telah melakukan survei preferensi pemilih di Universitas Muhammadiyah Malang, ia menemukan kesenjangan partisipasi. “Dari hasil penggalian data yang diperoleh kami (Traffic Institute), 43 persen responden tidak mengetahui pelaksanaan pemira dan juga tidak mengetahui tentang partai politik mahasiswa (Parpolma) yang disahkan penyelenggara pemira, 27 persen mengetahui dan tidak memilih ketika pelaksanaan,” ungkapnya.

“Angka diatas menurut kami penting untuk diperhatikan. Sebagian besar responden banyak yang tidak mengetahui tentang agenda ini, bahkan sebagian responden memilih untuk tidak memilih ketika hari-H,” lanjut dia.

Qodir menyayangkan minimnya partisipasi dalam pemira UMM. Menurutnya, partisipasi mahasiswa menentukan kualitas pemilu raya mahasiswa. “Baiknya penyelenggara harus lebih serius lagi. Sosialisasi terhadap mahasiswa harus digencarkan jauh-jauh hari. Menurut kami itu hal yang tidak begitu berat jika dilakukan secara inklusif salah satunya menggandeng parpolma,” ujarnya.

“Kualitas pemira itu sangat bergantung dengan partisipasi mahasiswa, secara teknis juga bergantung pada kualitas dan integritas penyelenggara. Jika pemilu kita sebagai mahasiswa selalu minim partisipasi artinya mahasiswa berhak meragukan penyelenggara. Maksud saya jika sudah ketiban begini, siapa yang mau disalahkan?” pungkas Abdul Qodir Alaydrus. 

 

Menulis di Uwrite bisa dapat penghasilan, Investasikan tulisan anda sekarang juga
Daftar di sini

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar