Tol dan Jembatan IKN Alihkan Pemudik, Penyeberangan Kariangau Alami Penurunan di Musim Lebaran 1447 Hijriah

Peristiwa | 28 Mar 2026 | 08:54 WIB
Tol dan Jembatan IKN Alihkan Pemudik, Penyeberangan Kariangau Alami Penurunan di Musim Lebaran 1447 Hijriah
Pelabuhan Penyeberangan Kariangau yang dulu menjadi simpul penting penyeberangan, kini justru kehilangan sebagian besar pemudiknya.

Uwrite.id - IKN Nusantara - Musim mudik Lebaran 1447 Hijriah menghadirkan peta baru mobilitas masyarakat. Pelabuhan Penyeberangan Kariangau yang dulu menjadi simpul penting penyeberangan, kini justru kehilangan sebagian besar pemudiknya.

Sejak H-6 hingga H-5 Idulfitri, jumlah penumpang yang melintas tercatat di bawah 300 orang per hari, anjlok tajam dibandingkan tahun sebelumnya saat pelabuhan ini dipadati pemudik menuju Kabupaten Penajam Paser Utara.

Perubahan ini bukan sekadar penurunan angka, melainkan pergeseran besar dalam pilihan transportasi. Hadirnya Jembatan Pulau Balang dan akses tol menuju Ibu Kota Nusantara (IKN) menjadi faktor utama yang mengalihkan arus mudik ke jalur darat.

“Penurunannya sangat signifikan. Tahun ini jauh berbeda, jumlah pemudik jauh lebih sedikit,” kata Karolus Makin, Pengawas Satuan Pelayanan Pelabuhan Kariangau, pada hari Rabu, 18 Maret 2026.

Kemudahan akses, waktu tempuh yang lebih singkat, hingga kebijakan bebas biaya di sejumlah ruas membuat jalur darat semakin diminati. Bahkan, arus mudik ke Penajam melalui pelabuhan nyaris hilang.

“Pemudik hampir tidak ada lagi ke arah Penajam lewat Kariangau, kecuali malam hari saat tol ditutup,” jelas Karolus.

Data Posko Angkutan Lebaran 2026 memperkuat tren ini. Pada 14 Maret 2026, kendaraan roda dua turun 59 persen menjadi 535 unit, sementara roda empat turun 62 persen menjadi 910 unit.

Penurunan lebih tajam terjadi pada periode H-8, dengan roda dua anjlok 70 persen dan roda empat turun hingga 75 persen dibandingkan tahun lalu.

Walaupun kehilangan dominasi pada rute lokal, Kariangau tetap memainkan peran penting untuk perjalanan antarpulau. Pelabuhan ini masih melayani penumpang menuju wilayah Sulawesi seperti Palu dan sekitarnya.

Operasional pun tetap berjalan normal dengan 12 kapal setiap hari, didukung posko Lebaran dan pengamanan dari berbagai instansi.

Menariknya, jumlah penumpang sempat menunjukkan fluktuasi. Pada satu hari tertentu terjadi kenaikan tipis, namun kembali turun signifikan pada periode berikutnya menandakan fase transisi pola perjalanan masyarakat.

Fenomena ini menjadi bukti nyata bahwa pembangunan infrastruktur tidak hanya mempercepat konektivitas, tetapi juga mengubah kebiasaan masyarakat secara fundamental.

Jalur laut yang dulu menjadi andalan kini mulai bergeser, digantikan oleh jalan darat yang lebih efisien. Kariangau pun memasuki babak baru dari gerbang utama mudik lokal menjadi simpul transportasi yang lebih spesifik. (*)

Menulis di Uwrite bisa dapat penghasilan, Investasikan tulisan anda sekarang juga
Daftar di sini

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar