Terungkap! Antraks di Gunungkidul: Sapi Sudah Dikubur, Digali Warga dan Konsumsi Dagingnya

Kesehatan | 05 Jul 2023 | 18:53 WIB
Terungkap! Antraks di Gunungkidul: Sapi Sudah Dikubur, Digali Warga dan Konsumsi Dagingnya
Petugas BBVet mengambil sampel tanah dari lokasi penyembelihan hewan ternak di Dusun Jati, Candirejo, Semanu, Gunungkidul, DIY, Rabu (5/7/23). (CNN Indonesia)

Uwrite.id - Puluhan warga Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), terinfeksi penyakit antraks. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengonfirmasi bahwa sebanyak 87 warga dari Dusun Jati, Semanu, Kabupaten Gunungkidul, dinyatakan positif terinfeksi antraks, dengan 3 orang meninggal dunia akibat penyakit mematikan tersebut.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan investigasi mendalam terkait kasus meninggalnya tiga warga akibat antraks ini. Pemerintah daerah juga ikut berkoordinasi dengan Kemenkes untuk mengatasi wabah ini secepat mungkin.

“Kalau kasus meninggal ada tiga orang di Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta. Kemenkes masih melakukan penyelidikan epidemiologi kasus tersebut,” kata Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi melalui keterangan persnya di Jakarta, Selasa (4/7/2023).

Hasil penelusuran terungkap, penularan antraks ini ditengarai karena warga menyembelih dan mengkonsumsi sapi yang telah mati.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Gunungkidul Wibawa Wulandari mengatakan ada beberapa sapi mati yang disembelih dan dikonsumsi. Bahkan ada sapi yang telah dikubur, kemudian digali dan dikonsumsi warga.

"Sapi sakit mati, kemudian suruh kubur melalui SOP sudah kita kuburkan tapi sama masyarakat ada yang 1 (sapi) digali lagi dikonsumsi," kata Wibawa, dikutip dari Kumparan, Rabu, (5/7/23).

Kabid Kesehatan Hewan (DPKH) Gunungkidul, Retno Widyastuti mengatakan total ada 6 sapi dan 6 kambing yang positif antraks mati di dusun itu. Lantaran bangkai sudah tak ditemukan maka yang diperiksa ke laboratorium adalah tanahnya.

"Yang kita periksakan ke lab itu bukan darahnya, bukan dagingnya, tapi tanah yang terkontaminasi darah saat disembelih," kata Retno.

Dari cerita masyarakat kepadanya, tiga ekor sapi itu mati mendadak pada bulan Mei. Dari situ, pihaknya melakukan penelusuran dan ternyata juga ada ternak yang mati mendadak pada November 2022.

"Tiga sapi itu mati bulan Mei. Tapi kita menemukan sejarah kalau 1 November ada sapi mati, sudah ditangani Puskeswan Semanu dan dikubur sesuai SOP tapi tidak diambil sampel karena dikira PMK atau LSD," ucapnya.

"Lalu ada inisiatif dari masyarakat untuk mengambil kembali dan dimanfaatkan. Terus kan terhenti dan muncul lagi Mei," lanjut Retno.

Lebih lanjut, ia menyebut 12 ternak yang terpapar antraks di Jati merupakan akumulasi dari bulan November hingga Mei. Retno pun menampik jika pihaknya disebut lamban karena tidak ada warga yang melaporkan kematian mendadak ternak.

"Karena untuk yang dilaporkan tidak tentu soal ternak mati mendadak, baru dilaporkan setelah sampai manusia (meninggal). Padahal tinggal telepon kita saja dan nanti ditindaklanjuti," ucapnya.

 

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar

0 Komentar