Terpukul Skenario Pengerekan Tajam BBM Non-Subsidi, Owner Mobil Mewah Ramai-ramai Lego Unitnya

Uwrite.id - Jakarta - Imbas kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi yang lonjakannya terasa sedemikian tajam, bursa pasokan otomotif kelas atas kembali menggeliat. Sejumlah pemilik mobil mewah dikabarkan mulai melepas unitnya ke bursa mobil bekas dalam 36 jam terakhir. Fenomena ini terpantau di beberapa showroom mobil premium di Jakarta, Surabaya, dan Bandung, yang mengaku menerima titipan jual lebih banyak dari biasanya, khususnya untuk mobil dengan kapasitas mesin di atas 3.000 cc.
Salah satu pemilik showroom mobil bekas di kawasan Jakarta Selatan, Andi Prasetyo, menyebut tren ini cukup terasa sejak pertengahan April 2026. “Biasanya mobil Eropa tahun muda masuknya satu hingga dua unit per bulan. Sekarang dalam seminggu bisa ada empat unit yang dititipkan. Alasannya seragam: biaya operasional makin berat dan BBM non-subsidi ternyata memang benar-benar naik,” ujarnya saat ditemui, Selasa (21/04). Menurut Andi, tipe yang paling banyak dilepas adalah SUV dan sedan premium bermesin bensin V6 hingga V8.
Kekhawatiran pemilik mobil mewah ini bukan tanpa dasar. Dalam beberapa diskusi kebijakan energi, sempat mencuat skenario penyesuaian harga BBM non-subsidi mengikuti fluktuasi harga minyak mentah dunia dan nilai tukar rupiah yang belum stabil. Dengan skenario terberat terjadi, harga Pertamax Turbo dan produk setara pada akhirnya menyentuh angka psikologis baru yang jauh di atas Rp20.000 per liter. Bagi mobil mewah yang konsumsi BBM-nya 1:5 hingga 1:7, artinya biaya per kilometer bisa bengkak dua kali lipat dari kondisi normal.
Pengamat otomotif dari LPEM UI, Rino Fauzan, menilai reaksi pasar kali ini lebih cepat dibanding kenaikan BBM sebelumnya. “Pemilik mobil mewah sebenarnya sensitif terhadap sentimen, bukan cuma angka. Begitu ada skenario kenaikan tajam, mereka langsung menghitung ulang total cost of ownership. Pajak tahunan tinggi, harga spare part naik, ditambah BBM melonjak, maka opsi logisnya adalah melepas aset yang depresiasinya cepat,” jelas Rino. Ia menambahkan, sebagian pemilik beralih ke mobil hybrid atau listrik, sebagian lagi turun kelas ke mobil 1.500 cc yang lebih efisien.
Di sisi pembeli, kondisi ini justru membuka peluang. Showroom mobil bekas premium mencatat kenaikan inquiry hingga 30% karena harga unit second mulai terkoreksi. “Mobil yang biasanya buangan-nya lama, sekarang lebih cepat laku karena owner-nya pasang harga nego lebih agresif. Mereka ingin cepat lepas sebelum harga pasar benar-benar jatuh kalau kenaikan BBM jadi kenyataan,” kata Silvia, sales supervisor showroom di Surabaya. Namun ia mengingatkan, calon pembeli tetap harus memperhitungkan biaya perawatan yang tidak ikut turun.
Sementara itu, komunitas pemilik mobil mewah terbelah menyikapi isu ini. Sebagian memilih bertahan dengan mengurangi pemakaian harian dan beralih ke transportasi lain untuk rute dalam kota. “Mobil dipakai akhir pekan saja. Sayang kalau dijual sekarang, harganya jatuh,” tulis seorang anggota komunitas mobil Eropa di forum daring. Namun tak sedikit yang sudah pasang iklan di platform jual-beli dengan keterangan “BU, siap lepas cepat”.
Usai pemerintah mengumumkan keputusan final soal penyesuaian harga BBM non-subsidi. pasar terus menunjukkan tren penambahan stok. Gejolak di pasar mobil mewah memang sudah terlanjur terjadi. Jika kenaikan benar-benar diketok tajam, tren “lego unit” diprediksi bakal meluas, sekaligus mengubah peta pasar otomotif premium di Indonesia jadi lebih mengarah ke kendaraan elektrifikasi dan mesin kecil bertenaga. (*)

Tulis Komentar