Terminal Cicaheum Tutup, Layanan Bus Pindah ke Leuwipanjang

Uwrite.id - Bandung - Pemerintah Kota Bandung resmi menutup operasional Terminal Cicaheum di Jalan Jenderal Ahmad Yani, Kiaracondong. Penutupan ini merupakan langkah awal pembangunan Depo Bus Rapid Transit BRT Bandung Raya. Keputusan ini sudah berlaku penuh sejak Jumat, 26 Juni 2026 untuk layanan AKAP dan AKDP.
Penutupan terminal bukan tanpa alasan. Kawasan Cicaheum dipilih sebagai lokasi strategis untuk depo utama BRT Bandung Raya. Proyek ini merupakan hasil kolaborasi pemerintah pusat, provinsi, dan Kota Bandung. Tujuannya untuk mengintegrasikan sistem transportasi massal di wilayah Bandung Raya.
Seluruh aktivitas bus antarkota antarprovinsi AKAP dan antarkota dalam provinsi AKDP kini dialihkan ke Terminal Leuwipanjang. Dari total 110 armada yang tercatat, sekitar 80 persen atau lebih dari 60 armada sudah pindah. Pemindahan dilakukan bertahap agar tidak mengganggu mobilitas penumpang.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan memastikan transisi ini berjalan dengan komunikasi intensif. Pihaknya terus melakukan dialog dengan operator bus dan pengelola terminal. Pemkot ingin memastikan penumpang tidak kebingungan saat mencari titik keberangkatan baru.
Bagi masyarakat, perubahan ini berarti harus menyesuaikan titik naik-turun bus. Terminal Leuwipanjang kini menjadi pusat pemberangkatan utama ke luar kota dan antarkota. Pemkot juga menyiapkan rambu dan petugas di lapangan untuk mengarahkan penumpang.
Dampak penutupan paling terasa oleh para pedagang kecil di dalam terminal. Selama puluhan tahun mereka menggantungkan hidup dari aktivitas terminal. Dengan ditutupnya Cicaheum, lapak mereka otomatis kehilangan tempat.
Merespons hal itu, Pemkot Bandung menyiapkan skema kompensasi. Wali Kota Farhan menyebut kompensasi untuk pedagang pasti ada. Besaran dan mekanisme teknisnya sedang disiapkan Dinas Perhubungan Kota Bandung.
Berdasarkan data awal, ada 116 penerima kompensasi yang datanya sudah diverifikasi. Dari jumlah itu, 51 pedagang kecil disebut akan menerima uang ganti rugi di kisaran Rp 2-3 juta. Proses pencairan disebut siap dilakukan setelah administrasi selesai.
Farhan menegaskan kompensasi ini bentuk tanggung jawab pemerintah kepada warga terdampak. "Untuk pedagang ada. Nilainya yang tahu Dinas Perhubungan, tapi ada," ujarnya di Balai Kota Bandung. Pemkot tidak ingin ada warga yang dirugikan akibat proyek strategis ini.
Dialog dengan pedagang terus dilakukan secara persuasif. Beberapa pedagang masih bertahan di area Cicaheum karena menunggu kepastian. Pemkot meminta mereka segera pindah agar proses pembangunan depo bisa dimulai.
Proyek Depo BRT Bandung Raya sendiri ditargetkan menjadi pusat perawatan dan parkir armada BRT. Fasilitas ini akan mendukung operasional bus di koridor-koridor utama. Dengan adanya depo, pelayanan BRT diharapkan lebih efisien dan tepat waktu.
Konsep BRT Bandung Raya juga mengatur peran angkot. Angkot tidak dihapus, melainkan difungsikan sebagai feeder. Angkot akan mengantar penumpang dari permukiman ke halte BRT terdekat. Ini untuk memastikan konektivitas tetap terjaga.
Di Indonesia, terminal ini mungkin menjadi salah satu yang paling populer walaupun sebagian orang kerap sulit melafalkannya secara tepat. Pasalnya, sejak tahun 2015 hingga berakhir pada 2025 lalu, terminal ini dijadikan lokasi syuting utama opera sabun televisi populer Preman Pensiun yang menggambarkan kehidupan etnografis terminal secara riil. Distribusi pengetahuan tentang masyarakat Bandung, lika-liku kehidupan terminal, hingga praktik premanisme terekspos nyata ke ruang publik.
Hal ini berkontribusi signifikan secara kultural maupun ekonomis sebagai tempat kunjungan temporer para penikmat opera sabun dari berbagai daerah. Lahirnya cerita Preman Pensiun di Cicaheum bukan terjadi secara tiba-tiba, melainkan berakar dari sejarah kawasan, memori kolektif warga dalam dinamika spasial, serta aktivitas ekonomi formal-informal yang telah terbentuk lebih dari delapan dekade.
Berubah wajah dari episentrum ekonomi fromal-informal, pembangunan depo di Cicaheum juga diharapkan mengurai kemacetan di kawasan timur Bandung. Selama ini Cicaheum dikenal sebagai salah satu titik rawan macet. Dengan berkurangnya bus besar yang parkir dan ngetem, arus lalu lintas bisa lebih lancar.
Secara historis, Terminal Cicaheum sudah beroperasi sejak 23 Agustus 1975. Terminal tipe A ini sempat menjadi salah satu pintu utama Bandung dari arah timur. Kini fungsinya berubah mengikuti kebutuhan transportasi modern.
Pemkot menekankan bahwa perubahan ini bukan mematikan usaha kecil. Justru, dengan sistem transportasi yang tertata, potensi ekonomi baru akan muncul di sekitar koridor BRT. Pedagang bisa mencari lokasi baru di area yang dilalui BRT dan feeder.
Pemerintah pusat melalui program BRT nasional juga mendukung penuh proyek ini. Dukungan anggaran dan teknis dari kementerian terkait sudah dikucurkan. Provinsi Jawa Barat turut mengawal agar proyek berjalan sesuai target.
Warga sekitar Cicaheum menyambut proyek ini dengan campuran harapan dan kekhawatiran. Mereka berharap ada lapangan kerja baru dari pembangunan depo. Namun mereka juga khawatir jika kompensasi tidak cair tepat waktu.
Untuk itu, Pemkot berjanji transparan dalam penyaluran kompensasi. Data penerima sudah didata dan diverifikasi bersama. Dinas terkait diminta mempercepat proses agar dana segera diterima.
Selain kompensasi, Pemkot juga menyiapkan opsi relokasi usaha. Pedagang akan dibantu mencari tempat di pasar atau titik strategis lainnya. Tujuannya agar mata pencaharian mereka tetap bisa berjalan.
Ke depan, keberhasilan BRT Bandung Raya sangat bergantung pada dukungan masyarakat. Jika semua pihak patuh dan beradaptasi, sistem transportasi massal ini bisa jadi solusi macet. Cicaheum yang dulu terminal, kini akan jadi simbol modernisasi transportasi Bandung.
Dengan penutupan Cicaheum dan lahirnya depo BRT, Bandung memasuki babak baru. Tantangannya adalah memastikan tidak ada yang tertinggal. Kompensasi, dialog, dan penataan harus jalan beriringan. (*)

Tulis Komentar