Teka-teki Sepekan Mencekam: Mengapa Prabowo Panggil Kapolri, Jaksa Agung, hingga Panglima TNI Berulang Kali?

Uwrite.id - Jakarta - Sepekan setelah nama Febrie Adriansyah resmi jadi tersangka, Istana mendadak sibuk. Dalam rentang 9–11 Juli 2026, Presiden Prabowo Subianto memanggil para petinggi penegak hukum dan pertahanan lebih dari satu kali. Pertemuan tertutup, agenda samar, dan desas-desus penolakan di internal membuat publik bertanya: ada apa sebenarnya?
Hari ke-1: Penggeledahan Besar dan Temuan Fantastis
Semuanya bermula sehari setelah Polri menggeledah sejumlah lokasi yang terafiliasi dengan Febrie.
Sorotan terbesar ada di rumahnya di Sentul, Bogor. Dari sana penyidik disebut mengamankan emas 74 kilogram dan uang tunai Rp476 miliar.
Keriuhan langsung meledak di media sosial. Di tengah panasnya pemberitaan itulah, Kamis siang 9 Juli 2026, Prabowo memanggil anak buahnya ke Wisma Danantara.
Yang hadir: Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Jaksa Agung ST Burhanuddin, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, dan Menhan Sjafrie Sjamsoeddin.
Menurut sumber internal, pesan Prabowo singkat dan tegas: "Jangan ribut lagi." Ia meminta proses hukum berjalan, tapi tanpa kegaduhan yang melebar.
Hari ke-3: Rapat Terbatas di Istana, 11 Juli 2026
Dua hari berselang, Sabtu malam 11 Juli 2026, giliran Istana Kepresidenan yang jadi lokasi pertemuan.
Kali ini yang menghadap: Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin, Kapolri Jenderal Listyo Sigit, dan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto.
Agendanya adalah laporan resmi: pada hari itu juga, Korps Pemberantasan Tipidkor Polri menetapkan Febrie sebagai tersangka dalam 3 perkara besar — korupsi PT Asabri, korupsi PT Krakatau Steel, dan korupsi pasokan batu bara yang memicu pemadaman di Sumatera.
Mensesneg Prasetyo Hadi membenarkan pertemuan itu saat ditemui di DPR, Rabu 15 Juli 2026.
"Ya, kan karena ada sebuah kejadian ya tentu beliau ingin mendapatkan laporan," katanya.
Prasetyo juga menyampaikan penekanan Prabowo: selesaikan kasusnya, tapi minimalisir kegaduhan. Alasannya, stabilitas adalah kunci menjaga ekonomi.
"Syarat untuk membangun ekonomi itu salah satunya adalah stabilitas. Nah syarat stabilitas ya tentunya kita berharap mengurangi, meminimalisasi kegaduhan-kegaduhan," ujarnya.
Teka-teki: Alot, Ada yang Menolak?
Di balik dua pertemuan itu, beredar kabar bahwa diskusi tidak berjalan mulus.
Sebuah sumber menyebut seorang menteri dan pimpinan lembaga penegak hukum menolak penetapan Febrie sebagai tersangka. Alasan penolakan itu tidak dijelaskan.
Teka-teki makin tebal karena hingga kini Polri tetap melanjutkan penyidikan terhadap Febrie. Tidak ada perubahan status, tidak ada penghentian.
Mengapa Harus Dipanggil Berulang Kali?
Pertanyaan itu yang terus muncul sepekan terakhir. Apakah karena temuan emas dan uang ratusan miliar terlalu sensitif? Apakah karena Febrie adalah Jaksa Agung Muda yang menangani perkara besar? Atau karena khawatir efek domino ke stabilitas politik dan ekonomi?
Yang jelas, dalam sepekan mencekam itu, Presiden dua kali mengumpulkan Kapolri, Jaksa Agung, dan Panglima TNI dengan jarak hanya dua hari. Pesannya sama: tegakkan hukum, tapi jaga agar tidak gaduh.
Sampai hari ini, publik masih menunggu jawaban utuh. Sementara proses hukum terhadap Febrie Adriansyah terus berjalan. (*)

Tulis Komentar