Sutrimo Pemegang Kunci Mesin Uang Febrie? 2 Pengamat Beber Hipotesa Kematian Janggal

Hukum | 29 Jul 2026 | 17:43 WIB
Sutrimo Pemegang Kunci Mesin Uang Febrie? 2 Pengamat Beber Hipotesa Kematian Janggal
Keterangan Foto: Ilustrasi Petrus Selestinus di studio (Tangkapan layar kanal YouTube RKN Media).

Uwrite.id - Jakarta - Kematian almarhum Sutrimo, Kepala Rumah Tangga (Karumga) di lingkungan keluarga Febrie Adriansyah kembali jadi bahan perbincangan publik. Posisinya sebagai mantan pekerja eks Jampidsus Kejaksaan Agung Febrie Adriansyah itu membuat banyak pihak menarik garis antara waktu kematiannya dengan periode dugaan kasus yang menyeret nama Febrie.

Pengacara Petrus Selestinus dalam siniar kanal YouTube RKN Media edisi 29 Juli 2026 bertajuk “SUTRIMO PEMEGANG KUNCI MESIN UANG FEBRIE ADRIANSYAH YANG EFEKTIF BEKERJA?” mengajukan satu hipotesa awal. "Kalau almarhum Sutrimo Karumga FA dan kemafiaannya dalam kurun waktu yang hampir sama dengan masa dugaan kasus FA 20 hari, hipotesa yang bisa kita buat adalah kematiannya terkait sebagai Karumga FA," kata Petrus.

Menurut Petrus, Sutrimo adalah orang yang paling banyak tahu soal aktivitas Febrie. Ia disebut memegang informasi terkait orang-orang yang berhubungan dengan Febrie, serta titik-titik penyimpanan aset. "Sutrimo banyak tahu dan banyak memegang informasi dari orang-orang yang berhubungan dengan Febrie, serta lokasi penyimpanan banyak barang baik yang di Sentul atau yang di cafe Cipete," ujarnya.

Posisinya bukan pejabat. Bukan pula nama yang muncul di struktur organisasi. Tapi justru ia yang disebut paling hafal isi gudang, isi laci, dan isi percakapan. Karena kedekatan itu, Sutrimo disebut menerima arahan teknis secara langsung.

Petrus menjelaskan, Sutrimo juga yang menerima instruksi detail. Mulai dari barang harus ditaruh di mana, cara pengamanannya bagaimana, hingga siapa yang ditunjuk menjaga. "Harus ditaruh di mana, cara pengamanannya bagaimana, siapa yang harus bertanggung jawab atas pengamanannya dan siapa-siapa saja yang harus ikut mengamankan aset-aset itu, dialah (Sutrimo) yang diberikan arahan," kata Petrus.

Karena kedekatan dan kepercayaan itu, Petrus menduga Sutrimo ditempatkan sebagai pelaksana utama. "Menurut Petrus Selestinus lagi, diduga alm Sutrimo-lah yang diberikan kepercayaan sebagai pelaksana utama oleh eks Jampidsus Febrie," ucapnya.

Pernyataan itu kemudian direspons oleh pembawa acara, Lukas Suwarso, mantan Ketua Umum AJI. Lukas menyoroti dari sudut lain, yakni peran Sutrimo dalam rantai ekonomi yang dijalankan.

"Yang menarik untuk diperbincangkan adalah peran Sutrimo sebagai operator pencuci uang di semua kegiatan ekonomi Febrie," kata Lukas. Jika benar, maka Sutrimo bukan sekadar "orang kepercayaan". Ia adalah operator yang menggerakkan, menghubungkan, dan mengamankan penempatan dan arus perpindahan aset itu.

Lukas lalu menyoroti juga sisi-sisi kejanggalan dalam peristiwa kematian Sutrimo. Ia menilai eksekusinya dilakukan secara amatir dan meninggalkan jejak yang mudah dibuka. "Mengapa pembunuhannya demikian amatir, meninggalkan jejak yang sebegitu gampang disibak," ujar Lukas.

Dari kejanggalan itu, Lukas mengajukan tiga kemungkinan motif yang umum terjadi di dunia kejahatan terorganisir. "Ada Vendetta, balas dendam istilah di dunia mafioso, ada bagi hasil yang belum tuntas atau ada tugas yang tidak tuntas diselesaikan," jelasnya.

Ketiga poin itu, menurut Lukas, bisa jadi kunci untuk membaca apakah kasus ini murni pembunuhan atau ada kaitan dengan konflik internal. Pertanyaannya sekarang, siapa yang dirugikan jika Sutrimo bicara? Dan siapa yang diuntungkan jika Sutrimo diam selamanya?

Menutup pernyataannya, Lukas mengajak publik menarik benang merah lebih jauh. Jangan buru-buru menyimpulkan sebagai kriminal biasa. "Apabila ini jika kita tarik benang merah, kriminal biasa atau kriminal khusus," katanya.

Petrus juga menegaskan, semua hipotesa ini lahir karena posisi Sutrimo yang terlalu strategis. Ia tahu siapa saja yang datang, siapa yang menerima, dan ke mana barang-barang itu bergerak. "Informasi di tangan Sutrimo itu bukan informasi kecil. Itu menyangkut lokasi, orang, dan mekanisme pengamanan," kata Petrus.

Bagi Petrus, peran sebagai "pemegang kunci" membuat Sutrimo berada di titik paling rawan. Ia tahu terlalu banyak, tapi tidak memiliki pelindung kelembagaan. Kondisi itu membuatnya rentan menjadi target jika terjadi konflik kepentingan.

Lukas menambahkan, dalam kasus-kasus besar, operator lapangan sering menjadi pihak pertama yang dikorbankan. Mereka tahu detil, tapi tidak punya ruang negosiasi. Itu sebabnya kematiannya harus diusut hingga tuntas.

Kedua narasumber sepakat, pengusutan kematian Sutrimo harus dilakukan secara terang dan terbuka. Terlebih jika benar ia memegang kunci dari rangkaian aktivitas yang lebih besar.

Hingga saat ini belum ada bantahan resmi maupun konfirmasi dari pihak yang disebut. Penyidikan masih berjalan untuk mengungkap motif dan pelaku di balik kematian Sutrimo. (*)

Menulis di Uwrite bisa dapat penghasilan, Investasikan tulisan anda sekarang juga
Daftar di sini

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar

0 Komentar