Susi Pudjiastuti, Calon Pemimpin Alternatif Versi Warganet

Politik | 19 Apr 2023 | 02:36 WIB
Susi Pudjiastuti, Calon Pemimpin Alternatif Versi Warganet

Uwrite.id - Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti belakangan ramai dibicarakan warganet. Mereka menilai Susi Pudjiastuti sebagai calon pemimpin alternatif karena rekan jejak serta prestasi-prestasinya ketika menjabat sebagai menteri KKP.

Lalu apa yang membuat warganet menilai Susi bisa menjadi calon alternatif? Berikut beberapa prestasi Susi Pudjiastuti yang berhasil di rangkum dari beberapa sumber:

Susi Pudjiastuti lahir di Pangandaran pada tanggal 15 Januari 1965. Pendidikan formalnya hanya sampai kelas 2 SMA. Susi sempat bersekolah di SMAN I Yogyakarta.

Saat kelas dua SMA, Susi dikeluarkan dari sekolah karena diam-diam mengikuti gerakan golput dijaman orde baru. Saat itu, gerakan golput tidak hanya dilarang tapi juga ilegal, sehingga Susi hanya memiliki ijazah SMP.

Setelah dikeluarkan dari sekolah pada tahun 1983, Susi memulai usaha pengumpul ikan di Pangandaran. Dia menjual perhiasannya dan mengumpulkan modal Rp 750.000. Usahanya terus tumbuh dan berkembang.

Pada tahun 1996, Susi mendirikan PT ASI Pudjiastuti Marine Product, sebuah pabrik pengolahan ikan dengan produk andalannya lobster yang diberi merek "Susi Brand". Bisnisnya terus berkembang dan melebarkan sayap ke pasar di Asia dan Amerika.

Pada tahun 2004, Susi memutuskan membeli pesawat Cessna Caravan senilai Rp 20 miliar. Uang yang digunakan untuk membeli pesawat tersebut merupakan pinjaman dari bank. Pesawat itu digunakan untuk mengangkut lobster dan ikan segar dari nelayan Indonesia ke pasar Jakarta dan Jepang.

Ia kemudian mendirikan Susi Air yang awalnya didirikan untuk mengangkut produk ikan PT ASI Pudjiastuti, namun kini beroperasi di lima pangkalan. Lima pangkalan tersebut adalah Medan, Kendari, Cilacap, Pangandaran dan Bandung, Balikpapan, dan Jayapura.

Pada 26 Oktober 2014, Jokowi-Jusuf Kalla resmi melantik Susi sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan dalam Kabinet Kerja.

Sebelum dilantik, Susi melepas semua jabatannya di perusahaannya. Hal itu ia lakukan untuk bekerja sebaik mungkin di pemerintahan dan untuk menghindari konflik kepentingan antara perannya sebagai menteri dan kepentingan bisnisnya.

Susi Pudjiastuti langsung menjalankan perannya sebagai menteri. Ia menjadi pusat perhatian dengan berbagai kebijakan yang berani. Salah satu kebijakannya adalah menenggelamkan kapal asing yang memasuki perairan Indonesia secara ilegal. Susi adalah seorang menteri yang sangat tegas dalam memberantas pencurian ikan yang sering terjadi di perairan Indonesia dan upayanya untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan Indonesia.

Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat, jumlah kapal penangkap ikan sitaan yang dimusnahkan sejak Oktober 2014 hingga akhir masa jabatannya sebanyak 556 kapal. Jumlah itu terdiri dari 321 kapal berbendera Vietnam, 91 kapal berbendera Filipina, 87 kapal berbendera Malaysia, 24 kapal berbendera Thailand, 2 kapal berbendera Papua Nugini, 3 kapal berbendera RRT, 1 kapal berbendera Nigeria, 1 kapal berbendera Belize, dan 26 kapal berbendera Indonesia.

Kementerian Kelautan dan Perikanan di bawah kepemimpinannya Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) meningkat tajam. Penerimaan pajak sektor perikanan hanya Rp 851 miliar pada 2014, sedangkan pada 2018 saja sudah mencapai Rp 1,6 triliun.

Menurut data Kementerian Kelautan dan Perikanan, Nilai Tukar Nelayan (NTN) juga meningkat dari 106,41 pada tahun 2015 menjadi 114,24 pada Agustus 2019. Ekspor ikan pada tahun 2017-2018 juga menunjukkan hasil yang positif, dengan volume ekspor yang meningkat.

Angka konsumsi ikan nasional per kapita juga meningkat selama Menteri Susi menjabat. Pada tahun 2015 konsumsi ikan nasional hanya 41,11 kilogram per tahun dan tahun 2019 bisa mencapai 50, 8 kilogram per tahun.

Tidak hanya sampai disitu, Menteri Susi bahkan menempati posisi pertama dengan tingkat kepuasan 91,95% berdasarkan hasil rilis Alvara Research Center terkait rapor 5 Tahun Kinerja Pemerintah Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Susi Pudjiastuti Meraih Banyak Penghargaan Internasional

Selama menjabat sebagai Menteri KKP, Susi Pudjiastuti juga menerapkan beberapa kebijakan dan inisiatif untuk melindungi sumber daya laut negara, salah satunya menetapkan ukuran tangkapan minimum untuk ikan, melarang penggunaan alat tangkap yang dapat merusak ekosistem laut, menetapkan kawasan konservasi laut, dan menindak praktik penangkapan ikan ilegal.

Berkat kebijakannya membuat nelayan dari negara-negara tetangga takut dan kapal-kapal pencuri asing di perairan Indonesia menurun drastis sebesar 97,89% dari 6.811 aktivitas pada tahun 2013 menjadi 1.204 aktivitas pada tahun 2015-2018 (sumber: katadata).

Dengan berbagai kebijakan inilah Susi Pudjiastuti berhasil mengoleksi segudang penghargaan internasional, diantaranya:

Salah satu penghargaan paling menonjol yang dia terima adalah Leaders for a Living Planet Award dari World Wildlife Fund (WWF) pada tahun 2016. Penghargaan tersebut mengakui kontribusinya terhadap pelestarian lingkungan, terutama ekosistem bawah laut untuk pembangunan berkelanjutan.

Dia juga menerima Penghargaan Peter Benchley Ocean, penghargaan maritim tertinggi di dunia pada tahun 2017. Dia diakui atas usahanya untuk meningkatkan kualitas ekosistem bawah laut Indonesia.

Pada tahun yang sama (2017), ia juga memenangkan Penghargaan Seafood Champion dalam kategori Kepemimpinan atas keberhasilan kepemimpinannya dalam meningkatkan kesehatan lautan Indonesia dan memberantas praktik penangkapan ikan ilegal oleh kapal asing.

Susi Pudjiastuti juga tercatat sebagai salah satu dari 100 wanita paling berpengaruh di dunia oleh BBC, penghargaan tersebut diperoleh berkat keberhasilannya mengurangi jumlah kegiatan illegal fishing oleh kapal asing melalui kebijakan inovatifnya menenggelamkan kapal hasil sitaan.

Secara keseluruhan, Susi Pudjiastuti telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap upaya konservasi laut Indonesia dengan meraih segudang penghargaan dari dalam negeri maupun internasional.

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar

0 Komentar