Sosok Kuda Hitam Calon Rais Aam PB NU, Ditengarai akan Raup Suara Muktamirin Terbanyak

Uwrite.id - Jombang - Muktamar NU ke-35 diselenggarakan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada tanggal 27–31 Agustus 2026. Muktamar tersebut akan menggetarkan publik karena akan ada dinamika pemilihan Rais Aam. Nama-nama besar sudah lama disebut, namun muncul satu sosok yang tidak banyak disorot di awal. Gedung dan tenda musyawarah sudah berdiri megah menyambut para tamu. Suasana haru dan khidmat mulai terasa sejak rombongan kiai tiba.
Sosok itu kini disebut "kuda hitam" oleh sejumlah kiai dan pengurus wilayah. Ia tidak berasal dari lingkaran pusat, tetapi kiprahnya di daerah cukup kuat dan konsisten. Namanya mungkin asing bagi media nasional, namun sangat akrab di telinga santri. Keikhlasannya dalam mengabdi menjadi cerita yang turun-temurun di pesantrennya. Wibawa itu tumbuh bukan dari sorotan kamera, melainkan dari keteladanan.
Para muktamirin dari berbagai daerah mulai membicarakan namanya di lobi dan majelis. Mereka menilai sosok ini punya keteguhan dalam berkhidmah dan tidak terikat politik praktis. Perbincangan itu mengalir ringan di sela-sela ngopi dan ziarah. Banyak yang mengaku baru mendengar, tetapi langsung tertarik setelah tahu rekam jejaknya. Angin perubahan kecil mulai bertiup di antara para pemilih.
Sumber internal PB NU menyebut, nama kuda hitam ini menguat 2 hari menjelang pemilihan. Dukungan mengalir diam-diam dari kiai kampung hingga pengasuh pesantren besar. Pesan berantai dan bisik-bisik di serambi masjid menjadi jalannya. Tidak ada spanduk, tidak ada baliho, hanya kepercayaan yang berjalan dari hati ke hati. Cara itu justru membuat namanya semakin diperhitungkan.
Jika tren ini berlanjut, ia ditengarai akan meraup suara muktamirin terbanyak. Hal ini mengejutkan banyak pihak karena sebelumnya ia tidak masuk bursa utama. Peta dukungan yang semula kaku kini mulai cair perlahan. Para pengamat politik NU menyebut ini sebagai dinamika sehat organisasi. Muktamar memang selalu menyimpan kejutan di menit-menit terakhir.
Rais Aam adalah jabatan tertinggi di struktur syuriah NU. Tugasnya menjaga marwah ahlussunnah wal jamaah dan memberi fatwa serta arahan ruhani bagi warga NU. Jabatan ini menuntut ilmu yang dalam dan hati yang bersih. Setiap keputusan Rais Aam menjadi rujukan jutaan warga. Karena itu, memilihnya tidak bisa sembarangan.
Karena itu pemilihan Rais Aam selalu menjadi perhatian umat. Keputusan muktamirin dianggap cerminan kehendak kolektif para kiai se-Nusantara. Doa dan istikharah mewarnai setiap perbincangan sebelum memilih. Umat menunggu lahirnya pemimpin yang bisa menjadi penyejuk. Beban moral itu membuat forum menjadi sangat serius.
Sosok kuda hitam ini dikenal sederhana dan jarang tampil di media. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di pesantren, mengajar santri, dan mengurusi jamaah. Bagai padi yang semakin berisi semakin merunduk, begitulah ia digambarkan para santrinya. Pagi harinya mengajar nahwu, sorenya menerima tamu dari desa. Malamnya ia habiskan untuk tirakat dan membaca kitab.
Namun jejak pengabdiannya sudah puluhan tahun. Ia pernah menjadi ketua syuriah di wilayahnya selama 3 periode dan aktif dalam bahtsul masail. Setiap keputusan bahtsul masail di wilayahnya selalu dirujuk kiai lain. Ia tidak pernah absen dalam musyawarah kecil hingga besar. Konsistensi itu yang membuat namanya harum di kalangan ulama.
Para kiai muda menilai, NU butuh pemimpin yang dekat dengan akar rumput. Sosok ini dinilai mewakili semangat itu karena hidupnya menyatu dengan pesantren. Ibarat lentera di tengah gelap, kehadirannya memberi arah bagi kader muda NU. Ia hafal nama santri satu per satu dan tahu persoalan warga. Kedekatan itu membuat orang merasa didengar dan dihargai.
Dukungan terhadapnya tidak datang dari satu kubu saja. Ada kelompok tradisionalis, ada juga kelompok kiai muda yang ingin penyegaran kepemimpinan. Perbedaan pandangan justru melebur ketika membicarakan nama ini. Semua sepakat butuh figur pemersatu, bukan pemecah. Itulah yang membuat koalisi dukungannya terasa luas.
Muktamirin dari Jawa Timur menjadi salah satu basis kuatnya. Mereka menyebut sosok ini tegas dalam prinsip tetapi santun dalam sikap. Tradisi pesantren di Jatim memang melahirkan banyak ulama besar. Rekomendasi dari kiai Jatim punya pengaruh besar di forum. Dukungan itu mengalir seperti mata air yang tidak pernah kering.
Dari Jawa Tengah dan Jawa Barat juga mulai terdengar dukungan serupa. Kiai di sana menyebut beliau istiqamah dalam menjaga tradisi NU. Beberapa pesantren besar di dua wilayah itu sudah mengirim sinyal restu. Komunikasi antar pengurus wilayah berjalan intensif. Semangat kebersamaan lintas daerah mulai terasa.
Bahkan beberapa pengurus wilayah luar Jawa ikut melirik. Mereka melihat sosok ini tidak membawa beban konflik internal dan bisa merangkul semua. Seperti air yang mengalir tenang namun mengikis batu, wibawanya terasa tanpa harus meninggikan suara. Kalimantan, Sulawesi, hingga Sumatera mulai mengirim utusan. NU memang organisasi nasional, dan ia dianggap mewakili itu.
Analis NU menyebut fenomena ini mirip "efek kejutan". Ketika nama besar saling mengunci, muktamirin mencari alternatif yang bersih dan netral. Sejarah NU mencatat beberapa kali hal serupa terjadi. Figur yang tidak disangka justru muncul sebagai pemenang. Tradisi musyawarah memang selalu membuka ruang kejutan.
Kuda hitam ini tidak banyak berkampanye secara terbuka. Tim pendukungnya bergerak melalui jaringan pesantren dan majelis taklim. Mereka datang membawa kitab dan cerita, bukan janji politik. Setiap pertemuan diakhiri dengan doa bersama. Cara itu menjaga marwah dan adab ber-NU.
Strategi itu justru efektif di kalangan muktamirin. Mereka lebih percaya pada testimoni langsung dari kiai yang pernah berguru bersama. Cerita tentang akhlak dan ilmu lebih mengena daripada pidato. Keaslian informasi dari mulut ke mulut menjadi modal utama. Tidak ada yang bisa memalsukan rekam jejak puluhan tahun.
Isu yang diangkat juga sederhana, yakni penguatan jamiyah dan jamaiyah. Ia dinilai fokus pada penguatan pendidikan, ekonomi umat, dan kaderisasi. Pesantren harus menjadi pusat peradaban, bukan hanya tempat mengaji. Ekonomi warga NU juga harus naik kelas. Kaderisasi harus jalan agar estafet kepemimpinan aman.
Berbeda dengan kandidat lain yang membawa narasi politik, ia memilih narasi ruhani. Pesannya adalah NU harus kembali ke khittah dan melayani umat. Politik boleh, tetapi jangan sampai melupakan adab. Umat butuh kesejukan, bukan kegaduhan. Narasi itu menenangkan banyak hati yang resah.
Para pengamat menilai pendekatan ini kena di hati muktamirin. Apalagi di tengah kegelisahan umat soal komersialisasi agama dan politik identitas. Masyarakat rindu pemimpin yang memberi contoh, bukan sekadar instruksi. NU harus menjadi rumah yang teduh bagi semua. Suara dari bawah menuntut perubahan arah yang lebih membumi.
Sejumlah kiai sepuh juga mulai memberi restu secara lisan. Mereka tidak menyebut nama di mimbar, tetapi arah dukungannya terbaca jelas. Restu kiai sepuh adalah kekuatan besar di NU. Satu kalimat dari beliau bisa menggerakkan ratusan suara. Itu tradisi yang masih dijaga sampai hari ini.
Tim pemenangan kandidat lain pun mulai melirik. Mereka khawatir suara akan terbelah jika kuda hitam ini terus menguat di hari H. Strategi pemetaan ulang mulai dilakukan di berbagai kamar. Namun sulit membendung gelombang dukungan dari bawah. Dinamika ini membuat suasana muktamar semakin hidup.
Namun kubu kuda hitam memilih tidak reaktif. Mereka tetap fokus konsolidasi ke bawah dan menjaga adab dalam berkompetisi. Tidak ada serangan, tidak ada saling menjatuhkan. Mereka hanya menyampaikan visi dan rekam jejak. Sikap itu justru menambah simpati banyak pihak.
Muktamirin menilai sosok ini tidak haus jabatan. Rekam jejaknya menunjukkan ia beberapa kali menolak tawaran struktural demi fokus pesantren. Ia lebih memilih mengajar daripada duduk di kursi. Penolakan itu bukan sombong, melainkan bentuk kehati-hatian. Bagi beliau, amanah adalah beban, bukan hadiah.
Sikap zuhud itu menjadi nilai jual utama. Di mata kiai kampung, pemimpin NU ideal adalah yang wira'i dan tidak silau dunia. Kesederhanaan pakaian dan rumahnya menjadi bukti. Ia makan apa yang dimakan santri. Hidupnya menjadi cermin bagi orang di sekitarnya.
Selain itu, ia juga dikenal fasih dalam ilmu alat dan fikih. Kemampuannya memimpin bahtsul masail membuat banyak kiai muda segan. Dalil yang ia bawa runtut dan mudah dipahami. Ia tidak pernah memaksakan pendapat. Musyawarah baginya adalah jalan utama.
Dalam forum tertutup, ia pernah menyampaikan gagasan besar. NU harus menjadi jangkar moderasi dan benteng kebangsaan tanpa meninggalkan tradisi. Islam Nusantara harus dijaga sebagai identitas. Kebhinekaan adalah keniscayaan yang harus dirawat. Gagasan itu relevan dengan tantangan zaman.
Gagasan itu disambut tepuk tangan. Banyak muktamirin merasa butuh figur yang bisa menyatukan antara tradisi, modernitas, dan kebangsaan. NU tidak boleh tertinggal, tetapi juga tidak boleh kehilangan jati diri. Keseimbangan itu sulit, namun harus diupayakan. Harapan besar disematkan pada pemimpin baru.
Lobi-lobi politik di hotel sekitar venue juga tidak mengabaikannya. Beberapa tokoh mencoba mendekat, tetapi direspons dengan bijak dan rendah hati. Ia tidak menutup pintu silaturahmi. Namun ia juga tidak memberi janji-janji. Prinsip itu yang membuat orang semakin hormat.
Ia menegaskan hanya akan maju jika itu amanah muktamirin. Jika tidak, ia siap kembali ke pesantren tanpa rasa kecewa. Baginya menang atau kalah sama saja. Yang penting NU tetap kuat dan bersatu. Keikhlasan itu jarang ditemukan di panggung politik.
Sikap itu justru menaikkan elektabilitasnya. Muktamirin melihat ini sebagai bukti keikhlasan, bukan ambisi. Orang NU menghargai orang yang tidak mengejar jabatan. Ketulusan menjadi magnet tersendiri. Dari situlah dukungan terus bertambah.
Menjelang pemungutan suara, namanya terus disebut di grup WhatsApp kiai. Tagline "kiai kampung untuk Rais Aam" mulai viral di kalangan pengurus. Stiker dan flyer sederhana mulai beredar. Semuanya dibuat secara swadaya oleh para santri. Gerakan bawah ini sulit dihentikan.
Survei internal beberapa PWNU juga menunjukkan kenaikan signifikan. Dari yang semula di bawah 5%, kini menembus dua digit. Grafiknya terus menanjak setiap hari. Para tim sukses mulai menghitung ulang strategi. Peta kekuatan benar-benar berubah.
Jika suara dari wilayah terus terkonsolidasi, maka potensi menang terbuka lebar. Ini bisa menjadi sejarah baru bagi NU. Untuk pertama kalinya kiai daerah bisa memimpin syuriah. Itu akan memberi semangat baru bagi pesantren kecil. Harapan itu membuat banyak orang optimis.
Para kiai berharap proses berjalan demokratis dan bermartabat. Siapapun yang terpilih harus diterima sebagai amanah jamiyah. Tidak boleh ada pecah setelah muktamar. Semua harus kembali mengabdi bersama. Itulah adab berorganisasi di NU.
Bagi NU, Rais Aam bukan sekadar simbol. Ia adalah rujukan spiritual bagi 90 juta warga NU di dalam dan luar negeri. Setiap fatwa dan tausiahnya akan didengar. Bebannya sangat berat. Karena itu memilihnya harus dengan doa dan akal sehat.
Karena itu, munculnya sosok kuda hitam ini memberi harapan baru. NU dituntut melahirkan pemimpin yang otentik, merakyat, dan berwibawa. Organisasi sebesar NU butuh nakhoda yang tahu arah. Umat juga butuh teladan dalam sikap. Harapan itu kini bertumpu pada forum muktamirin.
Publik kini menunggu keputusan muktamirin di forum. Apakah kuda hitam ini benar-benar akan raup suara terbanyak dan mengejutkan panggung. Semua mata tertuju ke Jombang. Detik-detik penghitungan akan menjadi penentu. Sejarah sedang menunggu untuk ditulis.
Apapun hasilnya, dinamika ini menunjukkan NU masih hidup. Tradisi musyawarah, ihtiram kepada kiai, dan semangat kebersamaan masih menjadi ruh organisasi. NU mampu berproses tanpa gaduh. NU mampu berkompetisi tanpa kehilangan adab. Itu warisan yang harus terus dijaga.
Masa depan NU akan sangat ditentukan oleh pilihan ini. Dan nama kuda hitam itu kini menjadi salah satu jawaban yang paling ditunggu. Langkah ke depan NU akan menapaki babak baru. Publik menaruh harapan besar pada kepemimpinan yang lahir. Semoga yang terbaik untuk jamiyah. (*)

Tulis Komentar