Sejarah yang Bergerak di Museum Polri: Menyusuri Transformasi Bhayangkara dari Masa ke Masa

Pendidikan | 22 Feb 2026 | 15:36 WIB
Sejarah yang Bergerak di Museum Polri: Menyusuri Transformasi Bhayangkara dari Masa ke Masa
Cut Mutia, host tur Museum Polri di kanal YouTube LSM PENJARA 1

Uwrite.id - Jakarta, KabarOnlineSatu.com — Museum Kepolisian Negara Republik Indonesia (Museum Polri) kembali menjadi sorotan publik setelah sebuah video tur diunggah di kanal YouTube LSM PENJARA 1 . kanal yang dalam beberapa kontennya kerap mengangkat tema pengabdian, pengabdian (bakti), serta literasi institusi negara, dengan judul “Review Museum POLRI – Jejak Bhayangkara, Sejarah, dan Dedikasi Tanpa Batas!” . Melalui video tersebut, penonton diajak menonton ruang-ruang pamer Museum Polri yang menampilkan perjalanan panjang institusi kepolisian di Indonesia, mulai dari sistem keamanan di masa kerajaan-kerajaan Nusantara, masa kolonial dan pendudukan Jepang, fase awal kemerdekaan, hingga dinamika Reformasi dan penguatan fungsi Polri dalam kerangka negara hukum.

Video yang dipandu Mutia itu membuka narasi dengan memperkenalkan Museum Polri sebagai ruang edukasi yang memadukan warisan sejarah dengan pendekatan museum modern. Dalam pengantarnya, Mutia juga menyampaikan informasi jam layanan bagi pengunjung, yakni Selasa hingga Jumat pukul 09.00–15.00 WIB, serta Sabtu dan Minggu pukul 09.30–14.00 WIB. Ia menegaskan bahwa tiket masuk museum tidak dipungut biaya.

Tur kemudian diarahkan ke lantai pertama yang memuat alur kronologis perkembangan kepolisian. Mutia menjelaskan bahwa sebelum masuk pada masa modern, konsep keamanan telah dikenal pada sejumlah kerajaan di Nusantara dengan istilah dan struktur yang berbeda. Ia menyebut beberapa contoh sistem keamanan tradisional yang berkembang sesuai adat dan tata kelola setempat, seperti pecalang di Bali serta jagabaya di Jawa, sebagai bagian dari gambaran awal bagaimana ketertiban dijaga dalam struktur masyarakat Nusantara.

Memasuki periode kolonial, video menuturkan bahwa pada masa VOC sekitar abad ke-17 disebut telah ada penunjukan figur yang berfungsi seperti kepala polisi di Batavia untuk mengurus hukum dan ketertiban kota. Narasi berlanjut pada abad ke-19 ketika sistem kepolisian di Hindia Belanda disebut menganut model ganda, yakni adanya kepolisian untuk bangsa Eropa dan kepolisian untuk rakyat pribumi. Pada masa pendudukan Jepang 1942–1945, kepolisian kolonial disebut diambil alih dan disesuaikan menjadi struktur di bawah kendali militer Jepang, termasuk pembentukan sekolah polisi serta satuan khusus bersenjata.

Pada bagian sejarah pascakemerdekaan, Mutia menguraikan sejumlah tonggak yang digambarkan sebagai fase konsolidasi institusi: penetapan kedudukan kepolisian setelah Proklamasi, dinamika peralihan kewenangan, hingga penguatan struktur organisasi kepolisian pada masa-masa awal Republik. Video juga memaparkan periode Demokrasi Terpimpin dan Orde Baru, termasuk konteks ketika Polri berada dalam struktur ABRI, hingga era Reformasi yang ditandai pemisahan institusional Polri. Narasi itu kemudian dikerangkakan dengan penegasan fungsi Polri sebagaimana dirujuk dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002, yakni pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum, perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia.

Setelah rangkaian sejarah di lantai pertama, tur berlanjut ke lantai dua yang digambarkan sebagai area dengan konsep museum modern yang lebih menonjol. Mutia menyoroti keberadaan layar sentuh interaktif yang memungkinkan pengunjung mengakses informasi mengenai keamanan dan ketertiban masyarakat, tugas-tugas fungsi pembinaan, hingga koleksi arsip foto dan video dokumentasi. Di lantai ini pula, museum menyediakan fasilitas photobooth sehingga pengunjung dapat berpose dan berfoto dengan latar berbagai satuan kerja kepolisian.

Masih di lantai dua, Mutia mengangkat satu bagian yang berfokus pada peran Polisi Wanita (Polwan). Dalam narasinya, bagian tersebut ditampilkan sebagai gambaran pengabdian Polwan sebagai “putri-putri pilihan” yang menjalankan tugas untuk mendukung terciptanya ketenteraman dan ketertiban sosial. Untuk memperkaya sudut pandang pengunjung, Mutia kemudian melakukan wawancara singkat dengan seorang pengunjung bernama Alex Johnson, warga Jakarta Timur, yang mengaku baru pertama kali datang ke Museum Polri dan merasakan pengalaman yang “sangat berkesan”.

Alex menyebut museum ini modern, rapi, dan interaktif. Ia juga menuturkan bahwa bagian yang paling membekas baginya adalah informasi tentang keterlibatan Polri dalam misi perdamaian dunia di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang menurutnya selama ini lebih sering dikaitkan publik dengan institusi lain. Ia mengaku salut dan takjub setelah mengetahui informasi tersebut. Ketika ditanya mengapa museum penting bagi generasi muda, Alex menegaskan museum bukan semata tentang masa lalu, melainkan tentang identitas dan inspirasi. Ia menilai anak muda perlu memahami sejarah bangsanya, termasuk perjalanan institusi seperti Polri, agar bisa bersikap kritis namun tetap adil dalam menilai, sekaligus lebih menghargai peran Polri yang sering tidak tampak di ruang publik.

Tur di lantai dua ditutup dengan penjelasan mengenai area profil Kapolri dari masa ke masa yang ditampilkan melalui layar interaktif. Pada bagian ini, pengunjung digambarkan dapat menelusuri jejak karier, kebijakan, serta capaian para Kapolri pada setiap periode kepemimpinan. Mutia menyebut pendekatan digital pada area tersebut dirancang agar sejarah institusional dapat dipelajari secara lebih mudah, cepat, dan menarik.

Perjalanan kemudian dilanjutkan ke lantai tiga yang menampilkan ruang-ruang tematik dengan karakter edukasi yang lebih aplikatif. Salah satu sorotan utama adalah area Korps Lalu Lintas (Korlantas) yang menekankan pentingnya disiplin berlalu lintas, pemahaman rambu-rambu, serta kesiapsiagaan menghadapi situasi darurat di jalan. Mutia juga menuturkan adanya pengalaman virtual yang memungkinkan pengunjung merasakan simulasi berkendara secara interaktif sebagai bagian dari upaya pembelajaran keselamatan berkendara.

Selain edukasi lalu lintas, lantai tiga menampilkan ruang audio-visual dan area bertema kontra-terorisme. Dalam narasinya, Mutia menekankan bahwa perang melawan terorisme bukan sekadar kebijakan nasional, melainkan komitmen global, serta upaya pemberantasan terorisme di Indonesia tidak hanya melalui penegakan hukum, melainkan juga pendekatan komprehensif dan preventif, termasuk edukasi publik. Area khusus yang disebutkan adalah ruang Densus 88 yang menampilkan koleksi foto, serpihan bom, serta barang bukti kasus terorisme. Pada bagian ini, museum juga menyediakan peta interaktif yang menandai sejumlah peristiwa pengeboman di Indonesia beserta ringkasan sejarah dan lokasi, yang dalam narasi video disebut sebagai pengingat tragedi kemanusiaan sekaligus pelajaran tentang kewaspadaan dan kesatuan.

Di akhir tur, Mutia menutup videonya dengan menyampaikan pesan yang menggugah. Ia mengatakan, “Dan itulah tadi perjalanan inspiratif kita menyusuri Museum Kepolisian Negara Republik Indonesia, bukan sekadar tempat menyimpan sejarah, tapi cermin perjuangan, integritas, dan transformasi Polri dari masa ke masa. Di balik setiap diorama, setiap layar interaktif, dan setiap lembaran arsip bersejarah ini, kita melihat satu hal yang sama: dedikasi luar biasa dari para Bhayangkara sejati untuk negeri tercinta. Terlebih di bawah kepemimpinan visioner Bapak Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo, M.Si., Polri kini tak hanya hadir sebagai penjaga keamanan, tetapi juga sebagai mitra masyarakat dalam menghadirkan keadilan yang presisi,yang berpikir ilmiah, bertindak manusiawi, dan melangkah dengan transparansi. Terima kasih Bapak Kapolri, atas komitmen dan legacy luar biasa yang telah dan terus Bapak ukir. Sosok Bapak bukan hanya pemimpin bagi institusi, tetapi inspirasi bagi generasi muda. Saya, Cut Mutia, mohon pamit dari tur kita hari ini. Tapi semangat belajar, semangat berkarya, dan semangat mencintai Indonesia, jangan pernah kita akhiri. Sampai jumpa di petualangan selanjutnya. Dan ingat, keamanan bukan hanya tugas Polri, tapi juga cita bersama seluruh rakyat Indonesia.”

 


 

Menulis di Uwrite bisa dapat penghasilan, Investasikan tulisan anda sekarang juga
Daftar di sini

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar