Salju di Gunung Bromo Saat Cuaca Dingin: Embun Upas Menggoda

Lingkungan Hidup | 10 Jun 2026 | 22:23 WIB
Salju di Gunung Bromo Saat Cuaca Dingin: Embun Upas Menggoda
Salju muncul di kawasan Gunung Bromo.

Uwrite.id - Lumajang - Fenomena 'salju' atau embun upas muncul di kawasan Gunung Bromo, saat cuaca dingin melanda Malang. Suhu udara hingga mendekati nol derajat di kawasan Gunung Bromo membuat fenomena 'salju' atau yang disebut embun upas (frost).

Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB-TNBTS) Rudijanta Tjahja Nugraha menuturkan, fenomena ini biasanya muncul menandai masuknya musim kemarau di Gunung Bromo dan sekitarnya.

"Mengingatkan kita bahwa fenomena ini memasuki musim kemarau di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru," kata Rudijanta, Rabu (10/06).

Menurutnya, fenomena ini terjadi pada musim kemarau ketika tutupan awan berkurang sehingga panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih mudah terlepas ke atmosfer pada malam hari. Hal ini membuat suhu udara di malam hari akan lebih terasa dingin dibandingkan dengan siang hari.

"Kondisi tersebut menyebabkan suhu udara, terutama pada malam hingga dini hari, menjadi lebih rendah dibandingkan biasanya. Di kawasan pegunungan tinggi seperti Bromo dan Semeru, penurunan suhu udara dapat berlangsung lebih ekstrem," bebernya.

Dari pantauan dan laporan petugas di lapangan, saat ini suhu udara di beberapa kawasan Gunung Bromo sudah mendekati 0° Celsius.

Temperatur di permukaan tanah lebih rendah, sehingga memungkinkan terbentuknya lapisan kristal es tipis yang dikenal sebagai embun upas yang menyerupai salju.

"Fenomena embun upas umumnya dapat dijumpai pada area-area terbuka yang mengalami pendinginan udara secara intensif pada malam hari. Di kawasan Bromo, embun upas berpotensi muncul di Laut Pasir, Pusung Gedhe, serta Savana Lembah Watangan. Sementara di kawasan Semeru, fenomena ini kerap dijumpai di Desa Ranupani dan sekitar Ranu Kumbolo," jelasnya.

Embun upas terbentuk ketika uap air yang berada di permukaan rumput, daun, pasir, maupun tanah membeku akibat suhu yang sangat rendah.

Lapisan kristal es yang terbentuk sering kali membuat permukaan kawasan tampak berwarna putih sehingga kerap disalahartikan sebagai salju. Hal ini yang buat kawasan Gunung Bromo kerap ramai dikunjungi saat 'salju' bermunculan.

"Embun upas berbeda dengan salju, karena terbentuk langsung di permukaan tanah dan bukan berasal dari presipitasi di atmosfer. 

Saat matahari mulai meninggi juga akan hilang. Fenomena ini merupakan bagian dari dinamika alam yang lazim terjadi di kawasan pegunungan tropis Indonesia pada musim kemarau dan menjadi salah satu daya tarik wisata alam yang dinantikan pengunjung," paparnya.

Ia pun mengingatkan wisatawan yang memang datang untuk mempersiapkan diri dengan membawa pakaian yang hangat. Hal ini diperlukan untuk mencegah terjadinya hipotermia atau kedinginan berlebihan yang membahayakan.

"Kami mengimbau agar mempersiapkan diri ketika akan berkunjung ke kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dengan mempersiapkan pakaian bahan yang dingin," tuturnya.

Sementara itu, Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Malang Linda Fitrotul Muzayanah mengatakan, suhu dingin yang terjadi merupakan fenomena yang wajar.

"Tidak adanya awan yang menyebabkan energi panas di permukaan bumi terlepas ke angkasa pada malam hari. Kondisi ini menyebabkan pada dini hari, udara menjadi lebih dingin," ucap dia.

Adanya fenomena suhu udara dingin itu disebutnya menjadi pertanda bahwa puncak musim kemarau bakal tiba. Di mana periode puncak kemarau sendiri sering ditandai dengan pergerakan angin dari arah Timur yang berasal dari Benua Australia.

"Setelah itu, musim kemarau akan berakhir dan berganti dengan musim penghujan. Beberapa wilayah, catatan suhunya juga lebih rendah dari 17 derajat," ungkapnya.

Jadi Daya Tarik Wisatawan

Sementara itu, fenomena embun upas atau frost membuat wisatawan banyak mengincar musim kemarau untuk melakukan kunjungan ke Gunung Bromo.

Ahnaf Lentera Jagad, salah satu pemandu wisata Gunung Bromo menyatakan, fenomena salju di Gunung Bromo memang membuat wisatawan penasaran dan datang berkunjung. Beberapa wisatawan disebut mengaku sengaja ingin datang karena ingin melihat fenomena salju yang muncul setahun sekali.

"Rata-rata wisatawan itu memang penasaran melihat. Jumlahnya cukup banyak yang datang kalau di musim-musim gini, penasaran sama salju di Bromo. Apalagi ini mau libur sekolah jadi ada peningkatan kunjungan," ungkap Ahnaf.

Sebagai informasi, kawasan Wisata Gunung Bromo berada dalam satu kompleks Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Lokasi ini memiliki akses pintu masuk dari empat kabupaten di Jawa Timur. Pintu masuk yang terfavorit dari Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, disusul dengan pintu masuk Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang.

Dua pintu masuk lainnya yakni pintu masuk Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, dan pintu masuk Desa Ranupani, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, yang juga jadi pintu masuk ke Gunung Semeru. (*)

Menulis di Uwrite bisa dapat penghasilan, Investasikan tulisan anda sekarang juga
Daftar di sini

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar

0 Komentar