SAL Angkatan IV Yogyakarta Dorong Generasi Muda Hidupkan Nilai-Nilai Leluhur

Budaya | 22 Aug 2026 | 06:26 WIB
SAL Angkatan IV Yogyakarta Dorong Generasi Muda Hidupkan Nilai-Nilai Leluhur
Tarian Laskar Petani sebagai pembuka acara SAL Angkatan IV juga sebagai simbol generasi muda memetri Bumi (Any)

Uwrite.id - SLEMAN — Sekolah Agama Leluhur (SAL) Daerah Istimewa Yogyakarta Angkatan IV tidak hanya menjadi ruang untuk mempelajari kembali nilai-nilai warisan leluhur. Kegiatan yang berlangsung di Sri Tumuwuh, Seyegan, Sleman, itu diarahkan menjadi gerakan bersama untuk merawat lingkungan sekaligus menyiapkan generasi penerus.

Mengusung tema “Memetri Bumi, Nggulawenthah Generasi”, SAL Angkatan IV menempatkan hubungan manusia dengan alam dan keberlanjutan nilai-nilai luhur sebagai bagian penting dari proses pembelajaran.

SAL Angkatan IV dengan mengusung tema “Memetri Bumi, Nggulawenthah Generasi” (Any) 

Direktur Bina Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat Kementerian Kebudayaan, Sjamsul Hadi, S.H., M.M., yang hadir membuka kegiatan, mengatakan SAL memiliki potensi untuk berkembang lebih jauh menjadi gerakan yang menyentuh kehidupan masyarakat.

Menurut Sjamsul, pembelajaran yang berlangsung dalam SAL seharusnya tidak berhenti sebagai pengetahuan bagi para peserta. Nilai yang diperoleh perlu diterjemahkan dalam kehidupan nyata dan memberi manfaat bagi masyarakat.

“Melalui Sekolah Agama Leluhur ini diharapkan bisa membangun sebuah gerakan,” kata Sjamsul dalam sambutannya.

Ia mendorong pengurus Sri Tumuwuh bersama CRCS dan ICIR untuk memperluas kerja sama dengan masyarakat desa. Menurutnya, keterlibatan warga menjadi penting untuk menggali kembali pengetahuan lokal yang masih tersimpan dalam kehidupan komunitas.

“Kita bisa menggandeng warga desa. Kita menemukan kembali kearifan-kearifan lokal yang ada,” ujarnya.

Krisis Air Jadi Tantangan Bersama

Sjamsul juga mengingatkan bahwa kearifan lokal memiliki relevansi dengan berbagai persoalan lingkungan yang kini dihadapi masyarakat.

Salah satu persoalan yang mendapat perhatian adalah ketersediaan air. Memasuki periode Agustus hingga November, sejumlah wilayah mulai menghadapi persoalan kekurangan air dan sumber air.

Direktur Bina Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat Kementerian Kebudayaan, Sjamsul Hadi, S.H., M.M ketika memberikan sambutan pembukaan SAL Angkatan IV didampingi perwakilan Sri Tumuwuh Kukuh Tigo Manggala (Any) 

“Ini krisis air. Pemerintah memberikan perhatian khusus karena sudah banyak daerah-daerah yang mengalami kekurangan air dan sumber air,” kata Sjamsul.

Menurutnya, persoalan tersebut perlu direspons tidak hanya melalui kebijakan pemerintah, tetapi juga dengan menghidupkan kembali kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan.

Program penghijauan, kata dia, menjadi salah satu langkah yang dapat dikembangkan bersama masyarakat. Dalam konteks inilah nilai-nilai yang diperoleh melalui SAL diharapkan dapat diterapkan secara konkret.

“Nilai-nilai atau materi yang sudah disampaikan agar bisa diterapkan ke masyarakat untuk kesejahteraan bersama,” katanya.

Merawat Bumi Sekaligus Mendidik Generasi

Perwakilan Sri Tumuwuh, Kukuh Tigo Manggala, mengatakan gagasan SAL berangkat dari upaya membangun kesadaran rohani yang kemudian diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Kukuh, kesadaran spiritual tidak seharusnya berhenti pada pengalaman pribadi. Nilai tersebut perlu tercermin dalam kehidupan sosial, ekonomi dan budaya.

“Sekolah Agama Leluhur ini berangkat dari kesadaran rohani, jiwa yang jernih, yang suci, yang murni,” ujar Kukuh.

Ia menjelaskan, kesadaran tersebut kemudian perlu diterapkan dalam kehidupan kolektif. Dengan demikian, pembelajaran agama leluhur dapat menjadi kekuatan sosial yang mendorong masyarakat untuk saling bekerja sama.

Kukuh menilai tema “Memetri Bumi, Nggulawenthah Generasi” memiliki makna yang saling berkaitan. Merawat bumi merupakan bagian dari tanggung jawab antargenerasi, sedangkan mendidik generasi berarti memastikan nilai-nilai luhur tetap hidup dan berkembang.

“Dengan memetri bumi kita bisa nggulawenthah generasi berikutnya menjadi generasi-generasi yang unggul dalam nilai-nilai luhurnya,” katanya.

Menghidupkan Kembali Pengetahuan yang Mulai Terlupakan

Kukuh juga menekankan pentingnya menghidupkan kembali kemampuan dan pengetahuan masyarakat yang mulai terpinggirkan oleh perubahan zaman.

SAL diharapkan menjadi ruang untuk mengingat kembali pengalaman dan praktik kehidupan bersama yang pernah menjadi bagian dari keseharian masyarakat.

Pengetahuan tersebut kemudian dapat dikembangkan sesuai kebutuhan zaman tanpa kehilangan nilai dasarnya.

Bagi Sri Tumuwuh, proses tersebut bukan sekadar upaya mempertahankan tradisi. Ada dimensi sosial yang lebih luas, yakni membangun kembali kemampuan masyarakat untuk hidup bersama, menjaga lingkungan, dan mewariskan nilai kepada generasi berikutnya.

Dari Sekolah Menjadi Gerakan

Pesan yang disampaikan dalam SAL Angkatan IV menunjukkan adanya upaya memperluas makna pendidikan agama leluhur. Sekolah tidak hanya dipahami sebagai tempat berlangsungnya proses belajar, tetapi sebagai titik awal lahirnya gerakan sosial berbasis nilai.

Persoalan lingkungan, terutama air dan penghijauan, menjadi salah satu pintu masuk untuk menerapkan pengetahuan lokal dalam kehidupan masyarakat.

Sementara regenerasi menjadi kunci agar pengetahuan tersebut tidak berhenti pada generasi yang saat ini masih mempraktikkannya.

Dengan demikian, SAL Angkatan IV di Sri Tumuwuh membawa gagasan bahwa menjaga warisan leluhur bukan berarti hanya menoleh ke masa lalu. Nilai tersebut justru dapat digunakan untuk membaca persoalan hari ini dan mencari jalan keluar secara bersama-sama.

Merawat bumi dan menyiapkan generasi akhirnya ditempatkan sebagai satu kesatuan. Bumi yang terjaga membutuhkan manusia yang memiliki kesadaran, sementara generasi yang kuat membutuhkan lingkungan dan kehidupan sosial yang sehat. (Any) 

Menulis di Uwrite bisa dapat penghasilan, Investasikan tulisan anda sekarang juga
Daftar di sini

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar

0 Komentar