Rupiah Babak Belur Dihantam Dolar AS, Ekonom Minta Pemerintah Bergerak Cepat Pulihkan Kepercayaan Pasar

Ekonomi | 15 May 2026 | 21:36 WIB
Rupiah Babak Belur Dihantam Dolar AS, Ekonom Minta Pemerintah Bergerak Cepat Pulihkan Kepercayaan Pasar
Gambar Ilustrasi.

Uwrite.id - Tekanan terhadap nilai tukar rupiah semakin berat setelah mata uang Garuda bertahan di kisaran Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi ini memicu kekhawatiran pelaku pasar dan ekonom karena level tersebut jauh melampaui asumsi dasar kurs dalam APBN 2026 yang dipatok sekitar Rp16.500 per dolar AS.

Pelemahan rupiah dinilai tidak hanya dipicu faktor eksternal seperti kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Fed, tetapi juga dipengaruhi sentimen pasar terhadap kondisi ekonomi domestik dan arah kebijakan pemerintah.

Sejumlah ekonom meminta pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) dan otoritas keuangan bergerak cepat menjaga stabilitas ekonomi serta mengembalikan kepercayaan investor agar tekanan terhadap rupiah tidak semakin dalam.

Ekonom Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny P Sasmita, mengatakan faktor psikologis pasar sangat memengaruhi pergerakan nilai tukar. Dalam situasi ketidakpastian global seperti saat ini, menurutnya, pernyataan pejabat pemerintah hingga arah kebijakan fiskal dapat menjadi penentu sentimen investor.

“Pasar keuangan sangat sensitif terhadap persepsi. Kadang satu pernyataan pejabat saja bisa membuat rupiah masuk angin lebih cepat dari yang dibayangkan,” ujar Ronny, Jumat (15/5/26).

Kepercayaan Pasar Jadi Kunci Stabilitas Rupiah

Ronny menjelaskan, langkah paling mendesak yang harus dilakukan pemerintah adalah menjaga kredibilitas fiskal dan memastikan pengelolaan APBN tetap sehat. Investor global, kata dia, sangat memperhatikan besarnya defisit anggaran, rasio utang pemerintah, serta kemampuan negara menjaga stabilitas ekonomi di tengah tekanan global.

Menurutnya, ketika kepercayaan pasar melemah, arus modal asing cenderung keluar dari Indonesia menuju aset yang dianggap lebih aman seperti dolar AS dan obligasi pemerintah Amerika Serikat. Kondisi itu membuat permintaan dolar meningkat dan menekan rupiah lebih dalam.

Baca Juga: Xi Jinping ke Trump: Tiongkok dan Amerika Serikat Harus Jadi Mitra di Tengah Gejolak Dunia

Ia menilai pemerintah perlu memperlihatkan konsistensi kebijakan ekonomi agar investor memiliki keyakinan bahwa kondisi ekonomi Indonesia tetap terkendali.

Selain menjaga fiskal, Ronny menilai penguatan sektor ekspor menjadi langkah penting untuk memperbesar pasokan devisa di dalam negeri. Ia menyoroti pentingnya optimalisasi kebijakan devisa hasil ekspor (DHE) agar lebih banyak dolar AS tersimpan dan beredar di sistem keuangan nasional.

“Kalau pasokan dolar di dalam negeri kuat, tekanan terhadap rupiah bisa lebih terkendali,” katanya.

Hilirisasi dan Pengurangan Impor Dinilai Mendesak

Dalam jangka panjang, pemerintah juga diminta mempercepat hilirisasi industri dan program substitusi impor. Langkah ini dianggap penting untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap produk impor, terutama bahan baku industri dan energi.

Selama ini, tingginya impor membuat kebutuhan dolar AS terus meningkat. Ketika nilai tukar melemah, biaya impor otomatis naik dan berdampak pada kenaikan harga barang di dalam negeri.

Ronny mengatakan penguatan industri nasional akan membantu memperbaiki struktur ekonomi Indonesia sehingga tidak terlalu rentan terhadap gejolak eksternal.

Menurutnya, jika tekanan global mulai mereda dan aliran modal asing kembali masuk ke negara berkembang termasuk Indonesia, peluang rupiah kembali mendekati asumsi APBN masih terbuka. Namun, ia mengingatkan volatilitas global saat ini jauh lebih tinggi dibanding beberapa tahun terakhir.

“Kalau tekanan eksternal mulai mereda dan arus modal asing kembali masuk ke emerging markets termasuk Indonesia, peluang ke arah sana tetap terbuka. Namun pemerintah dan pasar juga harus realistis bahwa volatilitas global saat ini memang jauh lebih tinggi dibanding beberapa tahun lalu,” jelasnya.

Bank Indonesia Diminta Aktif Jaga Pasar Valas

Sementara itu, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai Bank Indonesia harus terus aktif menjaga stabilitas pasar valuta asing melalui intervensi terukur agar pelemahan rupiah tidak berlangsung terlalu tajam.

Baca Juga: Ekonomi Indonesia Masih Dibayangi Tekanan Global, Pemerintah Diminta Waspada

Menurutnya, stabilitas nilai tukar penting untuk menjaga kepercayaan pelaku usaha dan mencegah kepanikan di pasar keuangan.

Meski demikian, Yusuf menegaskan bahwa intervensi moneter saja tidak cukup jika tidak dibarengi komunikasi yang solid antara pemerintah, BI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan seluruh anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).

“Investor ingin melihat pemerintah, BI, dan otoritas keuangan bicara dalam arah yang sama. Kalau komunikasinya terlihat tidak sinkron atau kebijakannya berubah-ubah, tekanan ke rupiah biasanya cepat membesar,” ujar Yusuf.

Ia menilai kepastian arah kebijakan menjadi faktor yang sangat diperhatikan investor global. Pelaku pasar umumnya masih dapat menerima regulasi yang ketat selama aturan tersebut jelas, konsisten, dan tidak berubah mendadak.

Dampak Pelemahan Rupiah Mulai Dikhawatirkan

Pelemahan rupiah di atas Rp17.500 per dolar AS mulai memunculkan kekhawatiran terhadap dampaknya bagi masyarakat dan dunia usaha. Kenaikan kurs dolar berpotensi meningkatkan harga barang impor, biaya produksi industri, hingga harga kebutuhan pokok.

Sektor yang bergantung pada bahan baku impor seperti farmasi, elektronik, otomotif, dan industri kimia diperkirakan menjadi yang paling terdampak.

Selain itu, depresiasi rupiah juga dapat meningkatkan beban utang luar negeri pemerintah maupun swasta karena pembayaran cicilan dan bunga menjadi lebih mahal dalam rupiah.

Tekanan terhadap rupiah juga berisiko memicu inflasi apabila kenaikan biaya impor diteruskan ke harga jual barang dan jasa di pasar domestik.

Yusuf menilai kondisi ini menjadi pengingat bahwa struktur ekonomi Indonesia masih rentan terhadap gejolak global karena tingginya ketergantungan terhadap impor dan aliran modal asing.

Karena itu, pemerintah didorong memperkuat industri strategis nasional seperti farmasi, petrokimia, energi, dan komponen industri agar kebutuhan dalam negeri dapat dipenuhi dari produksi domestik.

Ketidakpastian Global Masih Membayangi

Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah menguatnya dolar AS secara global akibat tingginya suku bunga Amerika Serikat dan ketidakpastian ekonomi dunia. Investor cenderung memindahkan dana ke aset safe haven karena khawatir terhadap perlambatan ekonomi global serta meningkatnya tensi geopolitik di sejumlah kawasan.

Kondisi tersebut membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, mengalami tekanan cukup berat dalam beberapa bulan terakhir.

Ekonom menilai stabilitas rupiah dalam waktu dekat akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah menjaga kepercayaan pasar, stabilitas fiskal, serta konsistensi kebijakan ekonomi nasional.

Menulis di Uwrite bisa dapat penghasilan, Investasikan tulisan anda sekarang juga
Daftar di sini

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar

0 Komentar