
Uwrite.id - Pos satpam itu sempit. Lebih sempit dari ruang tamu rumah kontrakan tempat ia tinggal. Di dalamnya hanya ada kursi plastik, meja kecil, buku tamu yang jarang diisi, dan asbak penuh puntung rokok yang tak pernah benar-benar dibersihkan.
Nama satpam itu Darto. Nama yang umum, mudah diingat, dan mudah dilupakan.
Jam menunjukkan pukul dua lewat empat puluh. Di layar CCTV, lorong depan klub tampak seperti potongan gambar yang terus berulang. Orang keluar-masuk. Tertawa. Bertengkar pelan. Berpelukan. Jatuh. Bangun lagi.
Darto duduk dengan punggung sedikit membungkuk. Seragamnya sudah lusuh di bagian siku. Topinya ia lepas, diletakkan di meja. Rambutnya menipis. Ia tidak peduli.
Ia menyalakan rokok. Tarikan pertama selalu yang paling enak. Setelah itu, hanya kebiasaan.
Dari posnya, ia bisa mendengar musik dari dalam klub. Dentum bass yang sama sejak awal malam. Lagu yang sama, di-remix berkali-kali. Ia tidak hafal judulnya, tapi hafal jedanya. Hafal kapan orang akan keluar untuk cari udara, kapan akan kembali dengan mata lebih kosong.
Di buku tamu, halaman terakhir terisi dua hari lalu. Nama-nama ditulis asal. Ada yang pakai nama artis, ada yang pakai singkatan. Darto pernah menegur, tapi menyerah. Tidak ada gunanya. Orang datang ke sini bukan untuk dicatat.
Pintu depan terbuka. Dua lelaki keluar sambil berdebat. Suara mereka rendah, tapi tegang. Salah satu mendorong bahu yang lain.
“Hei,” kata Darto, berdiri. “Pelan-pelan.”
Mereka berhenti. Menatap Darto sebentar. Salah satu tertawa kecil.
“Santai, Pak. Bercanda.”
Darto mengangguk. Mereka pergi. Darto duduk lagi. Tidak ada adrenalin. Tidak ada kemenangan. Hanya memastikan sesuatu tidak terjadi.
Ia kembali menatap layar. Di sudut kiri, kamera parkiran belakang. Tukang parkir berdiri dekat motor, rokok di tangan. Darto mengenalnya. Tidak dekat, tapi sering bertukar anggukan.
Darto lebih sering melihat hidup orang lain daripada menjalani hidupnya sendiri. Ia ingat, dulu ia bekerja sebagai satpam pabrik. Shift malam juga, tapi lebih teratur. Ada jadwal. Ada upah lembur yang jelas. Setelah pabrik tutup, ia pindah ke sini. Tempat hiburan malam. Katanya sementara. Sudah lima tahun.
Teleponnya bergetar. Pesan dari anaknya.
Pak, besok uang fotokopi.
Darto mengetik balasan: Iya.
Ia menghitung dalam kepala. Gajinya pas-pasan. Tambahan dari lembur kadang tidak turun tepat waktu. Ia menarik napas, menghembuskan pelan.
Pintu terbuka lagi. Seorang perempuan keluar, sendirian. Jaket tipis. Riasan sudah pudar. Ia berjalan cepat, menunduk.
“Pulang, Mbak?” tanya Darto, refleks.
“Iya,” jawab perempuan itu singkat.
“Ati-ati.”
Perempuan itu mengangguk, lalu hilang di lorong. Darto kembali duduk. Ia tidak tahu namanya. Ia juga tidak perlu tahu.
Jam mendekati tiga. Ini jam rawan. Bukan karena keributan besar, tapi karena orang mulai kehilangan kendali kecilnya. Kata-kata jadi lebih jujur. Emosi bocor.
Seorang lelaki keluar sambil menelpon, suaranya meninggi.
“Iya, iya. Saya pulang. Jangan ribut.”
Darto pura-pura tidak dengar. Ia menatap layar lain.
Di kamera dalam ruangan, bartender membersihkan meja. Wajahnya datar. Gerakan cepat. Profesional. Darto pernah berbincang dengannya sebentar, soal cuaca. Tidak lebih.
Darto mematikan rokok di asbak. Puntungnya menumpuk. Ia akan bersihkan nanti. Atau besok. Atau tidak sama sekali.
Sekitar pukul tiga lewat dua puluh, listrik sempat turun. Lampu berkedip. Darto berdiri refleks, memukul saklar kecil di dinding. Lampu stabil lagi. Ia duduk, sedikit lega. Gangguan kecil selalu membuatnya sadar betapa rapuh kendali yang ia miliki.
Ia ingat malam ketika terjadi perkelahian besar. Botol pecah. Darah di lantai. Polisi datang. Nama Darto dicatat. Ia pulang dengan kaki gemetar. Besoknya, hidup berjalan lagi. Tak ada bonus. Tak ada trauma counseling. Hanya cerita yang tak pernah ia ulang.
Di jam-jam seperti ini, Darto sering berpikir: kalau ia tidak ada di pos ini, apa ada yang berubah?
Jawabannya selalu sama. Tidak banyak.
Seorang driver ojol muncul di pintu, menunggu. Helm masih terpasang.
“Nunggu, Mas?” tanya Darto.
“Iya, Pak.”
“Bentar di sini bisa lama.”
Driver itu tertawa kecil. “Iya, Pak.”
Darto mengangguk. Ia pernah di posisi itu, menunggu seseorang yang tidak pasti. Bedanya, ia menunggu hidupnya sendiri.
Jam hampir empat. Musik mulai dikecilkan. Orang-orang keluar lebih cepat. Udara berubah. Darto bisa merasakannya di kulit.
Seorang lelaki tua keluar, langkahnya pelan. Ia berhenti sebentar di depan pos.
“Pak,” katanya. “Masih ada angkringan buka?”
“Masih,” jawab Darto. “Ke kiri. Lampu biru.”
“Terima kasih.”
Lelaki itu pergi. Darto menatap punggungnya. Ia melihat dirinya sendiri di sana. Beberapa tahun lagi. Atau mungkin sudah sekarang.
Subuh mulai merayap. Darto berdiri, meregangkan punggung. Ia membersihkan meja, menggeser kursi. Ia menyalakan rokok terakhir. Rokok sebelum subuh selalu terasa berbeda. Lebih pendek. Lebih jujur.
Di luar, tukang parkir sudah bersiap pulang. Driver ojol menghilang. Lorong mulai sepi.
Darto mematikan monitor satu per satu. Meninggalkan kamera luar menyala. Ia membuka buku tamu, menulis tanggal hari ini. Tidak ada nama. Hanya tanggal.
Ia menutup buku. Menghela napas.
Saat matahari mulai muncul, Darto melepas topi, menyimpannya di tas. Ia berdiri di depan pintu klub yang kini terkunci.
Tidak ada musik. Tidak ada lampu warna-warni. Hanya bangunan biasa. Hampir menyedihkan.
Ia melangkah pergi, menyusuri jalan yang mulai ramai. Orang-orang pagi berpapasan dengannya. Mereka menuju kerja. Ia menuju tidur.
Tak ada yang bertanya ia habis dari mana.
Dan itu tidak masalah.
Karena tugasnya selesai sebelum subuh,dan hidupnya—seperti rokok terakhir itu—habis tanpa banyak asap.

Tulis Komentar