Rektor Uniba Isradi Zainal: Bahasa Prancis di Perguruan Tinggi Akan Buka Cakrawala Karir dan Studi Internasional

Uwrite.id - Balikpapan - Penyampaian dukungan Rektor Universitas Balikpapan, Dr. Ir. H. Isradi Zainal, M.T., M.H., M.M., DESS, M.K.K.K., IPU, ASEAN Eng., terhadap pemikiran Presiden Prabowo Subianto supaya Bahasa Prancis diperkenalkan di seluruh jenjang pendidikan di pelosok negeri, cukup membawa sinyal esensial bagi kalangan perguruan tinggi. Diharapkan akan banyak kalangan yang pada akhirnya tergugah untuk lebih menyebarluaskan bahasa ini. Beliau mengatakan bahwa strategi ini merupakan visi genuine untuk mempersiapkan generasi Indonesia menyongsong kompetisi global era abad 21 ke depan.
Lebih dari sekadar wacana, dukungan Isradi ini sejatinya merupakan trigger positif bagi kampus-kampus di Kalimantan Timur bahkan di Indonesia, untuk menjadi pelopor pengajaran Bahasa Prancis sejak dini.
"Ibarat menanam benih hari ini agar anak cucu kita menuai hutan peluang besok," singgung rektor yang banyak berkecimpung di dunia global itu. Universitas dapat memulai dengan program kegiatan ekstrakampus, kelas kerja sama daring, hingga pertukaran pelajar singkat dengan institusi Frankofoni.
Dengan demikian, gagasan Presiden Prabowo tidak berhenti di atas kertas, melainkan tumbuh menjadi ekosistem belajar yang hidup dan membumi di daerah. “Jika ada Kampung Inggris di belahan Indonesia, nanti akan lebih bagus ada Kampung Perancis guna hidup dan mempraktikkan komunikasi bersama dengan bahasa negeri Eiffel ini,” ungkap Isradi.
Langkah ini juga membuka pintu kolaborasi yang selama ini hanya jadi angan. Karena bahasa adalah jembatan, bukan tembok, penguasaan Bahasa Prancis akan mempermudah Uniba menjalin kerja sama riset energi bersih, pertukaran dosen, dan magang mahasiswa dengan korporasi Prancis yang telah lama berkontribusi di Kaltim.
Andaikata landasan ini dibangun sekarang, generasi muda Balikpapan tidak hanya jadi penonton globalisasi, tapi pemain utama yang fasih berdialog, bernegosiasi, dan berkarya di panggung internasional.
Via pesan suara WhatsApp yang diterima pada Senin (01/06), Isradi memandang, masyarakat perlu melihat pernyataan Presiden Prabowo sebagai seruan guna memperluas cakrawala intelektual bangsa melalui penguasaan lebih dari satu bahasa asing.
Ditegaskan lagi oleh beliau, Presiden Prabowo merupakan sosok yang memiliki pengalaman luas dalam pergaulan internasional dan menguasai sejumlah bahasa asing sehingga memahami secara langsung manfaat penguasaan bahasa dalam membangun diplomasi, pendidikan, dan koneksi antarbangsa.
“Oleh karena itu, saya mendukung upaya Bapak Prabowo untuk mempopulerkan dan mengembangkan pembelajaran Bahasa Prancis di Indonesia karena pesan tersebut sangat positif bagi masa depan bangsa,” disampaikan Isradi. Ditegaskan Isradi, penguasaan bahasa asing merupakan investasi sumber daya manusia yang akan menentukan daya saing bangsa. Isradi mengungkapkan bahwa generasi yang multilingual akan memiliki bargaining lebih kuat dalam forum internasional.
Isradi menyebutkan, pembelajaran Bahasa Prancis pada masa sekarang jauh lebih mudah dibandingkan beberapa dekade lalu karena teknologi digital telah membuka akses pembelajaran yang hampir tanpa batas. Disebutkan beliau, kini aplikasi pembelajaran bahasa, podcast, dan konten edukasi kini tersedia gratis dan dapat diakses 24 jam.
Ditambahkan Isradi, jurang pemisah geografis tidak lagi menjadi penghalang untuk memperoleh pendidikan bahasa berkualitas. Koordinator Kalimantan University Consortium ini juga menggarisbawahi bahwa perusahaan-perusahaan Prancis pernah memainkan peran penting dalam pembangunan industri energi Indonesia. Dicontohkan beliau, keterlibatan TotalEnergies dalam pengembangan Blok Mahakam sebagai tonggak transfer teknologi.
Ditekankan Isradi bahwa hubungan bilateral tersebut turut membuka lapangan kerja dan meningkatkan kapasitas tenaga ahli lokal. Sebagai bukti konkretnya, di Kalimantan Timur melalui kehadiran perusahaan energi multinasional asal Prancis yang beroperasi selama puluhan tahun, peran Prancis di wilayah tersebut sangat terasa.
Beliau flash back kembali saat-saat dahulu ketika harus mendatangi pusat kebudayaan Prancis di Jakarta hanya untuk mempelajari Bahasa Prancis, sementara saat ini berbagai materi pembelajaran, kelas daring, hingga tutor internasional dapat diakses langsung melalui perangkat seluler. Diuraikan Isradi bahwa dahulu akses terbatas pada kota besar dan membutuhkan biaya serta waktu tempuh yang tinggi.
Dibandingkan beliau kondisi tersebut dengan era sekarang yang memungkinkan pembelajaran mandiri dari daerah mana pun. Dinilai beliau, tantangan kekurangan guru yang banyak diperdebatkan sejumlah pihak tidak dapat dijadikan alasan untuk menolak gagasan besar yang memiliki manfaat jangka panjang bagi bangsa.
Ditekankan Isradi bahwa solusi hibrida antara guru lokal dan platform digital dapat menjawab kebutuhan tenaga pengajar. Disarankan beliau agar pemerintah mulai menyusun peta jalan penguatan kapasitas guru Bahasa Prancis secara bertahap.
“Saat ini seluruh sumber daya telah tersedia di tangan kita. Untuk mempelajari bahasa apa pun dapat dilakukan melalui internet, YouTube, maupun berbagai platform digital, sehingga prosesnya dapat dilaksanakan secara bertahap baik secara formal maupun informal,” disampaikan Isradi. Beliau mengharap kemandirian belajar harus ditumbuhkan sejak jenjang pendidikan dasar agar menjadi budaya. Lebih lanjut diyakini Isradi, pemanfaatan teknologi secara tepat akan mempercepat pemerataan kompetensi bahasa asing di Indonesia.
Isradi menambahkan bahwa Bahasa Prancis tidak sekadar bahasa nasional sebuah negara di Eropa, melainkan salah satu bahasa internasional yang memiliki posisi penting dalam tata kelola global.
Ditegaskan beliau, Bahasa Prancis merupakan bahasa kerja utama dalam hukum internasional dan perjanjian multilateral. Isradi melihat bahwa penguasaan Bahasa Prancis mendorong banyak akses terhadap literatur filsafat, sastra, dan sains klasik. Yang mana kesemuanya itu belum banyak diterjemahkan.
Penggunaan Bahasa Prancis secara meluas di sejumlah organisasi internasional termasuk pada organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa, Uni Eropa, NATO, Komite Olimpiade Internasional, serta berbagai lembaga diplomasi dan kemanusiaan lintas negara hingga saat ini amat mempunyai pengaruh yang signifikan.
"Apabila dulu pada masa Presiden B.J. Habibie masyarakat Indonesia terdorong mempelajari Bahasa Jerman disebabkan karena relasi pendidikan dan teknologi dengan Jerman sangat kuat, maka tidak ada salahnya sekarang kita juga membangun spirit yang setara terhadap Bahasa Prancis,” ungkap Isradi.
Dijelaskan beliau, kerja sama teknologi kedirgantaraan dan industri strategis dengan Jerman kala itu melahirkan ribuan ahli teknik nasional. Isradi berharap, model kemitraan serupa dapat direplikasi dengan Prancis di bidang energi baru terbarukan dan industri kreatif.
Data Organisasi Internasional Frankofoni menyebut bahwa Bahasa Prancis telah digunakan oleh lebih dari 320 juta penutur di 5 benua dan menjadi bahasa resmi atau bahasa kerja di puluhan negara yang tersebar di Eropa, Afrika, Amerika Utara, Karibia, Timur Tengah, dan Pasifik.
Jumlah penutur Bahasa Prancis diproyeksikan mencapai 700 juta pada 2050 akibat pertumbuhan demografis di Afrika. Isradi menilai Bahasa Prancis adalah bahasa masa depan yang relevan untuk generasi muda yang tengah menempuh studi untuk persiapan karir di masa mendatang.
Ditegaskan Isradi pula, bahwa penguasaan Bahasa Prancis tidak akan mengurangi signifikansi Bahasa Inggris, melainkan justru dapat memperkuat kompetensi berbahasa asing secara keseluruhan. Dinyatakan beliau bahwa dwibahasa atau multibahasa terbukti meningkatkan kemampuan kognitif dan fleksibilitas berpikir. Isradi mencontohkan bahwa banyak diplomat dan profesional global menguasai minimal tiga bahasa resmi PBB.
Dijelaskan Isradi, bahwa sejarah panjang interaksi antara Inggris dan Prancis telah meleverage ribuan kosakata yang saling berinteraksi satu sama lain, sehingga penguasaan Bahasa Prancis sering kali membantu seseorang memahami berbagai istilah dalam Bahasa Inggris, hukum, diplomasi, seni, dan ilmu pengetahuan. Isradi menyebut bahwa sekitar 30% kosakata Bahasa Inggris modern berakar dari Bahasa Prancis.
Dicontohkan beliau, istilah hukum seperti plaintiff, defendant, dan verdict yang bermuasal dari terminologi Prancis.
Diyakini Isradi, penguasaan Bahasa Prancis yang fasih pada pendidikan tinggi, jejaring profesional dunia, serta lingkaran peluang kerja global akan sangat mewarnai perjalanan karier seseorang.
Diingatkan lagi oleh beliau, bahwasanya dewasa ini beasiswa Pemerintah Prancis dan Uni Eropa mensyaratkan kompetensi Bahasa Prancis pada jenjang tertentu. Disebutkan Isradi pula perusahaan multinasional asal Prancis pun memprioritaskan kandidat yang mampu berkomunikasi dalam dua bahasa kerja korporasi.
Sebagai lulusan perguruan tinggi di Prancis, Isradi merasakan langsung dampak dari penguasaan keterampilan Bahasa Prancis terhadap perjalanan karir akademik dan profesional di kancah dunia. Kesemua itu telah dibuktikan beliau lewat keterlibatan dalam proyek riset internasional dan forum akademik cross border.
Isradi sedemikian mengakui bahwa jaringan alumnus Frankofoni sangat membantu dalam kolaborasi keilmuan. Pada ruang dunia yang semakin terhubung pada koneksi keilmuan dan keprofesian internasional, dilihat Isradi, hal ini berpengaruh besar.
Menurutnya, kemampuan berbahasa Prancis dapat menjadi modal penting bagi generasi muda Indonesia untuk memperoleh beasiswa, memperluas peluang kerja internasional, dan membangun networking profesional global.
Di tengah dinamika pro kontra yang mengemuka dari sejumlah kalangan pendidikan soal kesiapan kurikulum dan kebutuhan tenaga pengajar, Isradi menghimbau masyarakat melihat ide itu sebagai penanaman modal peradaban jangka panjang. Ia menilai bahwa pada era globalisasi saat ini penguasaan satu bahasa asing saja tidak lagi memadai untuk bersaing di level sejagat. "Sekurang-kurangnya paling tidak, ya dua, bahasa dunia, selain English juga Français," pungkasnya. (*)

Tulis Komentar