Raya dan Rayu Selamat dari Karhutla, Mereka Akan Nyaman di Habitat Barunya

Lingkungan Hidup | 05 Sep 2026 | 18:07 WIB
Raya dan Rayu Selamat dari Karhutla, Mereka Akan Nyaman di Habitat Barunya
Bayi orang utan seperti Rayu yang baru belajar hidup akan sangat rentan kalau habitatnya rusak. Maka menyelamatkan mereka dari api adalah langkah pertama. Bukan langkah terakhir.

Uwrite.id - Kutawaringin Timur - Saat rumah kita tiba-tiba dikelilingi api, otak kita langsung berpikir untuk menyelamatkan diri. Kita bisa berlari keluar, menelpon pemadam, atau mengungsi ke rumah tetangga. Kita punya pilihan.  
Tapi bagaimana kalau rumah itu adalah hutan seluas ratusan hektar? Bagaimana kalau tidak ada jalan keluar, tidak ada tetangga, dan asap sudah menutup seluruh arah?  
Itulah kenyataan yang dihadapi satwa liar setiap kali karhutla datang.  
Mereka tidak bisa membaca peringatan. Mereka tidak bisa menelpon bantuan.  

Di tengah kepungan api itulah Raya dan Rayu ditemukan. Keduanya adalah induk dan anak orangutan yang bertahan di atas pohon di kawasan Sampit, Kalimantan Tengah.  
Raya diperkirakan berusia sekitar 20 tahun. Rayu baru sekitar satu tahun, usianya masih butuh digendong dan disusui.  
Tim gabungan dari BKSDA Kalimantan Tengah bersama Orangutan Foundation International (OFI) menemukan mereka saat melakukan patroli dan evakuasi.  
Posisi mereka terjebak, dikelilingi asap dan kobaran api di bawah pohon.  

Proses evakuasi tidak mudah. Petugas harus memadamkan titik api di sekitar pohon, lalu menenangkan Raya yang pasti ketakutan.  
Bayangkan induk yang harus melindungi anaknya dari panas, asap, dan suara pohon tumbang. Instingnya pasti bertarung antara lari dan bertahan.  
Setelah beberapa jam, keduanya akhirnya berhasil diturunkan dengan selamat.  
Kabar baiknya, tidak ada luka bakar serius di tubuh Raya maupun Rayu. Hanya dehidrasi dan stres karena kejadian itu.  

Mendengar kabar mereka selamat, rasanya lega. Seolah ada beban yang sedikit terangkat dari dada.  
Kita ikut bersyukur karena dua nyawa berhasil diselamatkan dari bencana yang merenggut ribuan hektar hutan setiap tahun.  
Foto Rayu yang memeluk erat punggung Raya setelah dievakuasi juga viral. Wajahnya lelah, tapi mereka masih bersama.  
Itu pengingat bahwa kasih sayang induk dan anak ada di mana-mana, bahkan di hutan.  

Tapi setelah lega, muncul pertanyaan yang justru terasa berat. Mereka nanti pulang ke mana?  
Kalau rumah manusia terbakar, kita bisa mengungsi, meminta bantuan, lalu membangun lagi dari awal.  
Pemerintah dan warga bisa gotong royong. Ada tenda, ada dapur umum, ada tempat tinggal sementara.  
Lalu bagaimana dengan Raya dan Rayu?  

Bagi orangutan, rumah bukan sekadar tempat berteduh. Rumah adalah hutan itu sendiri.  
Di sana ada pohon durian untuk makan, ada dahan untuk bergelantungan, ada daun untuk membuat sarang tidur tiap malam.  
Di sana Raya mengajari Rayu cara mencari makan, cara memilih buah yang matang, cara menghindari bahaya.  
Ketika hutan terbakar, yang hilang bukan hanya pohon. Yang hilang adalah dapur, kamar, sekolah, dan tempat bermain mereka.  

Karhutla tidak hanya membakar kayu. Karhutla menghapus memori habitat.  
Satwa kehilangan sumber makanan dan jalur jelajahnya. Induk kehilangan tempat aman untuk membesarkan anak.  
Bayi seperti Rayu yang baru belajar hidup akan sangat rentan kalau habitatnya rusak.  
Maka menyelamatkan mereka dari api adalah langkah pertama. Bukan langkah terakhir.  

Saat ini Raya dan Rayu dititipkan di pusat rehabilitasi OFI di Kalimantan Tengah.  
Mereka akan mendapat perawatan medis, makanan cukup, dan observasi perilaku.  
Tim akan memastikan Rayu tumbuh sehat dan Raya pulih dari trauma.  
Tapi pusat rehabilitasi bukan rumah selamanya. Itu hanya rumah sementara.  

Tujuan akhirnya tetap satu: mengembalikan mereka ke hutan.  
Hutan yang aman, hutan yang punya makanan, hutan yang tidak akan terbakar lagi tahun depan.  
Itu pekerjaan besar. Karena luas hutan yang terbakar di Kalteng setiap tahun angkanya tidak sedikit.  
Lahan gambut yang kering jadi pemicu, ditambah pembukaan lahan dan cuaca panas.  

Karena itu, keselamatan Raya dan Rayu bukan hanya soal mereka berhasil keluar dari kepungan api.  
Keselamatan mereka juga soal apakah kita bisa menjaga agar api tidak datang lagi.  
Soal apakah ada patroli, ada edukasi, ada hukum yang tegas untuk pembakar hutan.  
Soal apakah kita mau mengubah cara kita memperlakukan lahan.  

Orangutan adalah satwa kunci. Keberadaan mereka menunjukkan sehat atau tidaknya hutan.  
Kalau orangutan bisa hidup tenang, artinya rantai ekosistem di bawahnya juga berjalan.  
Ada buah yang dimakan, ada biji yang disebar, ada pohon yang tumbuh.  
Menjaga orangutan sama artinya menjaga hutan. Menjaga hutan sama artinya menjaga iklim kita.  

Kisah Raya dan Rayu bukan kisah satu-satunya. Setiap tahun ada satwa lain yang dievakuasi karena karhutla.  
Ada bekantan, ada beruang madu, ada burung, ada reptil.  
Mereka semua mengalami hal yang sama: kehilangan rumah.  
Dan mereka semua tidak bisa bersuara di rapat atau di media.  

Kita yang bisa bersuara. Kita yang bisa memilih.  
Memilih untuk tidak membeli produk dari perusahaan yang membuka lahan dengan cara membakar.  
Memilih untuk mendukung patroli masyarakat peduli api.  
Memilih untuk ikut menanam dan merestorasi lahan bekas terbakar.  
Hal kecil itu lama-lama jadi hutan lagi.  

Bayangkan beberapa tahun dari sekarang. Rayu sudah besar.  
Ia sudah bisa membuat sarangnya sendiri, sudah bisa mencari makan sendiri.  
Lalu ia bertemu hutan yang hijau, tenang, dan aman.  
Di sanalah ia akan menurunkan anaknya, sama seperti Raya dulu padanya.  

Itu harapan kita semua. Agar Raya dan Rayu benar-benar bisa tenang.  
Tenang karena tidak ada lagi suara sirine pemadam di malam hari.  
Tenang karena tidak ada lagi asap yang membuat sesak.  
Tenang karena rumah mereka, hutan, masih ada dan dijaga.  

Menyelamatkan satu induk dan satu anak memang terasa kecil dibanding luasnya hutan yang terbakar.  
Tapi setiap nyawa yang selamat adalah janji bahwa kita belum menyerah.  
Tugas kita sekarang memastikan janji itu ditepati.  
Dengan menjaga hutan, kita sedang menyiapkan rumah untuk Raya, Rayu, dan generasi setelah mereka. (*)

Menulis di Uwrite bisa dapat penghasilan, Investasikan tulisan anda sekarang juga
Daftar di sini

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar

0 Komentar