
Uwrite.id - Episode ketiga Ragna Crimson memperlihatkan sisi dunia yang semakin brutal, sekaligus mulai menyoroti dinamika relasi antara Ragna dan Crimson.
Cerita dibuka dengan adegan kelam ketika seorang Superior Dragon menyiksa para perempuan, sementara para pengungsi dan pemburu naga berusaha bertahan hidup dari serangan naga di berbagai titik.
Di lokasi lain, Ragna bertarung melawan beberapa naga, sementara Crimson dan sekelompok prajurit hanya mengamati dari kejauhan.
Melalui kilas balik, ditunjukkan kembali kesepakatan antara Ragna dan Crimson. Hubungan mereka masih terasa kaku dan penuh ketegangan. Pelayan Crimson, Slime, bahkan menegur Ragna karena sikapnya yang dianggap tidak sopan.
Namun Crimson menghentikan Slime dan justru tertarik menggali lebih jauh tentang masa depan yang diketahui Ragna. Sayangnya, Ragna hanya memiliki ingatan samar tentang apa yang akan terjadi, membuat Crimson sedikit frustrasi.
Ragna menjelaskan bahwa meski ingatan masa depannya kabur, ia masih bisa menggunakan seluruh Silverine Battle Arts yang diwariskan oleh dirinya di masa depan. Hal ini langsung menarik perhatian Crimson. Baginya, kekuatan Ragna bukan hanya alat pembunuh naga, tetapi juga sumber daya yang bisa dimanfaatkan oleh orang lain.
Crimson pun mulai memamerkan kekuatan dan rencana mereka di hadapan para prajurit untuk membangkitkan semangat dan loyalitas.
Konflik baru muncul ketika seorang pemburu naga bernama Michael meminta bantuan Crimson dan Ragna untuk mengalahkan superior dragon bernama Disas Trois, yang sebelumnya gagal mereka kalahkan di Kota Tortiere.
Namun kondisi Ragna yang melemah membuat Crimson menolak permintaan tersebut. Crimson menilai Ragna belum siap bertarung dan memiliki rencana lain yang lebih “efisien”.
Crimson kemudian menantang motivasi Michael dan rekan-rekannya. Ia menuding mereka ingin menebus rasa malu karena kabur dari pertempuran sebelumnya. Meski terkesan kejam, provokasi Crimson berhasil. Michael dengan jujur mengakui bahwa mereka menginginkan kekuatan seperti yang dimiliki Crimson dan Ragna.
Menanggapi hal itu, Crimson membuat keputusan mengejutkan: ia berjanji meminjamkan Reaper Blade milik Ragna agar Michael dan kelompoknya bisa mengalahkan Trois dan menebus kegagalan mereka.
Rombongan pun menuju Tortiere, ke sebuah gudang senjata berisi senapan yang diperkuat oleh Silverine Battle Arts milik Ragna. Di sini, sisi emosional Ragna mulai terlihat jelas. Ia merasa tidak nyaman dijadikan simbol atau “Reaper” di depan para prajurit.
Ragna juga khawatir Michael dan kawan-kawannya akan mati jika dipaksa menghadapi Trois. Menurutnya, mereka seharusnya tidak dilibatkan dalam pertempuran sekelas itu.
Crimson menanggapi kekhawatiran Ragna dengan cara khasnya—dingin, manipulatif, dan sedikit sadis. Ia menilai rasa takut Ragna akan kehilangan orang-orang terdekat, seperti Leo, berpotensi melemahkan tekadnya untuk membantai naga.
Dalam percakapan yang cukup menusuk, Ragna mengakui bahwa kehilangan orang yang ia sayangi akan menghancurkan hatinya. Crimson justru berterima kasih atas kejujuran itu, meski kemudian melontarkan candaan kejam tentang mengurung Leo agar Ragna tetap fokus.
Ketegangan antara keduanya memuncak, namun Ragna tak berdaya melawan Crimson. Crimson kembali menegaskan posisi mereka: Ragna hanyalah alat. Ia diperintahkan tetap di tempat dan terus menginfus peluru dengan silverine, sementara Crimson akan mengurus Trois menggunakan para prajurit sebagai pion.
Salah satu momen paling disturbing di episode ini terjadi ketika Crimson “mengajari” Ragna arti kutukan. Crimson menembakkan senapan ke mulutnya sendiri hingga terlihat mati, hanya untuk bangkit kembali seolah tak terjadi apa-apa.
Adegan ini menegaskan bahwa Crimson bukan makhluk biasa dan hidup dalam kondisi terkutuk yang jauh lebih ekstrem dibanding Ragna. Crimson meminta Ragna berhenti meratapi nasibnya sendiri.
Sementara itu, Disas Trois masih terus menyiksa para perempuan dengan kekuatan tornado-nya. Crimson sengaja membiarkan penderitaan itu berlangsung, tanpa memberi tahu Michael maupun Ragna.
Keesokan harinya, Crimson membawa seluruh rombongan ke lokasi Trois dan secara terang-terangan mengejek sang naga. Provokasi ini memancing amarah Trois, yang bersumpah akan membunuh Crimson dan semua sekutunya.
Episode pun ditutup dengan Crimson memerintahkan semua orang bersiap untuk pertempuran besar yang akan datang.
Review Singkat
Episode 3 berfungsi sebagai episode pemanasan sebelum pertarungan besar melawan Disas Trois. Meski Ragna tampaknya tidak akan turun langsung ke medan tempur, konsep peminjaman Silverine Battle Arts kepada karakter lain menjadi ide menarik yang memperluas sistem kekuatan seri ini.
Sorotan utama episode ini justru ada pada Crimson. Karakternya digali lebih dalam: cerdas, manipulatif, sadis, namun penuh strategi. Kemampuan bangkit dari kematian dan beragam sihirnya membuat Crimson tampil sebagai figur yang sulit ditebak dan sangat berbahaya.
Sebaliknya, sifat Ragna yang masih menyimpan empati dan ketakutan menjadi kontras kuat yang membuat dinamika mereka semakin menarik.
Meski minim aksi besar, episode ini sukses membangun ketegangan dan ekspektasi. Dengan fondasi konflik yang matang, pertarungan melawan Trois di episode berikutnya terasa menjanjikan dan layak dinantikan.***

Tulis Komentar