R Haidar Alwi, Diangkat Menjadi Dewan Pertimbangan Sultan Keraton Kasepuhan Cirebon

Peristiwa | 21 Sep 2025 | 08:52 WIB
R Haidar Alwi, Diangkat Menjadi Dewan Pertimbangan Sultan Keraton Kasepuhan Cirebon

Uwrite.id - Cirebon, 15 September 2025 – Keraton Kasepuhan Kesultanan Cirebon resmi mengangkat Dr. Ir. Raden Haidar Alwi MT. sebagai Dewan Pertimbangan Sultan. Keputusan ini tertuang dalam Anugerah Nomor 187/KKC-KMA/SS.II/IA/X/2025 yang ditandatangani langsung oleh Sultan Sepuh Jaenudin II Arianatareja (Maulana Syarif Pangeran Heru Rusyamsi Arianatareja, S.Psi., M.H.).

Pengangkatan ini menandai sebuah babak baru, di mana tradisi, adat, dan kebudayaan luhur Kesultanan Cirebon dipertemukan dengan gagasan modern serta kepedulian sosial yang telah lama diperjuangkan oleh Haidar Alwi melalui gerakan Rakyat Bantu Rakyat.

Profil dan Amanah Haidar Alwi

Dr. Ir. Raden Haidar Alwi MT. lahir di Surakarta pada 6 Agustus 1963. Beliau dikenal luas sebagai pendiri Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, dua lembaga yang konsisten menggerakkan program sosial, pendidikan, dan ekonomi kerakyatan di seluruh Indonesia.

Kiprahnya mencakup berbagai program besar, di antaranya:

Gerakan Rakyat Bantu Rakyat, yang telah menjangkau banyak daerah di Indonesia dengan program pangan murah, beasiswa pendidikan, serta pemberdayaan UMKM.

Santunan untuk Dua Juta Anak Yatim dan Dhuafa, sebuah komitmen nasional yang menempatkan anak-anak yatim sebagai prioritas dalam perjuangan sosial.

Program Jumat Berkah, berbagi beras, sembako, serta makan bersama rakyat kecil di berbagai kota.

Dukungan untuk Pendidikan Rakyat, melalui Rumah Pintar Haidar Alwi yang memberikan bimbingan belajar gratis di Gunungkidul dan daerah lainnya.

Dengan rekam jejak itu, pengangkatan Haidar Alwi sebagai Dewan Pertimbangan Sultan bukan hanya penghargaan pribadi, melainkan pengakuan atas dedikasi yang nyata bagi umat dan bangsa.

Tugas Dewan Pertimbangan Sultan

Dalam tata tertib Keraton Kasepuhan, Dewan Pertimbangan Sultan memiliki tugas strategis, antara lain:

Mendampingi Sultan dalam acara adat, tradisi, maupun kenegaraan.

Memberikan nasihat terkait keputusan adat, sosial, budaya, hingga kebijakan pemerintahan tradisional.

Menjadi penghubung aspirasi masyarakat kepada Sultan.

Menjaga nilai-nilai luhur Kesultanan dan pesan leluhur Sunan Gunung Jati: “Ingsun titip Tajug lan Fakir Miskin.”

Mengawasi agar kebijakan Sultan tidak bertentangan dengan adat, agama, dan kepentingan rakyat.

Ikut menjaga kesejahteraan masyarakat adat serta memperhatikan fakir miskin, anak yatim piatu, dan lansia jompo.

 

Amanah ini menuntut kehadiran figur yang tidak hanya paham adat, tetapi juga memiliki kepedulian nyata kepada rakyat. Sosok Haidar Alwi dipandang tepat karena sudah membuktikan komitmennya melalui gerakan sosial yang berskala nasional.

Kesultanan Cirebon dan Makna Pengangkatan

Kesultanan Cirebon berdiri sejak abad ke-15 di pesisir utara Jawa Barat. Didirikan oleh Pangeran Cakrabuana dan kemudian diperkuat oleh Sunan Gunung Jati, Cirebon menjadi pusat penyebaran Islam di Jawa Barat, sekaligus simpul perdagangan dan kebudayaan yang mempertemukan tradisi Jawa dan Sunda.

Hingga kini, Keraton Kasepuhan tetap menjaga warisan leluhur: upacara adat, arsitektur megah, seni topeng Cirebon, dan tradisi keagamaan yang masih hidup. Peran keraton bukan sekadar simbol masa lalu, melainkan benteng kebudayaan yang terus memberi inspirasi bagi kehidupan masyarakat modern.

Dalam konteks itu, pengangkatan Haidar Alwi sebagai Dewan Pertimbangan Sultan memiliki makna strategis: mempertemukan tradisi kesultanan dengan gerakan sosial kontemporer. Dengan kata lain, warisan leluhur dipadukan dengan semangat baru: bagaimana adat dan budaya bisa hadir nyata dalam kehidupan rakyat, terutama melalui aksi-aksi konkret bagi mereka yang kurang beruntung.

 

Pengangkatan Dr. Ir. Raden Haidar Alwi MT. adalah penegasan bahwa perjuangan sosial yang ia lakukan selama ini sejalan dengan pesan suci para leluhur Kesultanan Cirebon. Gerakan Rakyat Bantu Rakyat, santunan bagi jutaan anak yatim, beasiswa pendidikan, dan berbagai inisiatif kerakyatan kini mendapat legitimasi budaya dan spiritual dari keraton tertua di Jawa Barat.

Sebagaimana Sultan Sepuh Jaenudin II Arianatareja menegaskan, anugerah ini harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan berpegang pada adat-tradisi Keraton Kasepuhan. Dengan amanah baru ini, Haidar Alwi diharapkan menjadi jembatan antara nilai luhur tradisi dan tuntutan kemajuan zaman, demi kesejahteraan rakyat Indonesia.

 

Menulis di Uwrite bisa dapat penghasilan, Investasikan tulisan anda sekarang juga
Daftar di sini

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar

0 Komentar