Program ECOTERAKO PT Vale: Solusi Limbah Terak di Luwu Timur

Ekonomi | 08 Aug 2026 | 20:33 WIB
Program ECOTERAKO PT Vale: Solusi Limbah Terak di Luwu Timur
Keterangan foto: Salah satu spot lokasi di mana PT Vale Indonesia mengoperasikan fasilitas area pembuangan terak di wilayah Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. [Istimewa]

Uwrite.id - Malili - PT Vale Indonesia mengoperasikan fasilitas area pembuangan terak di wilayah Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Area ini telah lama digunakan untuk menampung limbah hasil peleburan nikel. 

Melihat potensi risiko pencemaran tanah dan air akibat pengelolaan yang tidak sesuai standar, warga dan pegiat lingkungan mendorong adanya mekanisme pengawasan jangka panjang yang melibatkan pemerintah daerah dan masyarakat.

Terak dikategorikan sebagai limbah Non-B3 berdasarkan PP Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Selama ini terak umumnya langsung ditimbun di fasilitas khusus. Jika tidak dikelola dengan baik, praktik tersebut berpotensi menimbulkan degradasi lahan dan pencemaran air. 

Untuk menekan timbunan, PT Vale menginisiasi program ECOTERAKO. Program ini memanfaatkan terak nikel sebagai agregat jalan tambang. Pada 2022, pemanfaatan slag melalui program tersebut berhasil mengurangi timbunan terak sebanyak 3.422.475,20 ton.

“Intinya kita harus tetap patuh hukum. Kita menyadari ada masyarakat di sana, jadi sebisa mungkin penyelesaiannya dilakukan secara humanis,” kata Presiden Direktur PT Vale Indonesia Tbk (INCO), Bernadus Arnanto, usai Peluncuran dan Diskusi Buku Bahlil Lahadalia di Jakarta Pusat, Jumat (07/08).

Di tengah sorotan terhadap dampak lingkungan, perusahaan menegaskan komitmen untuk memperkuat perlindungan bagi masyarakat di sekitar fasilitas sebagai bagian dari tata kelola pertambangan yang bertanggung jawab.

Tuntutan transparansi juga datang dari masyarakat sipil. Sejumlah organisasi lingkungan menilai PT Vale belum mempublikasikan secara terbuka metode pemurnian nikel dan pengelolaan limbah air serta udara. 

Dalam pertemuan dengan DPRD, muncul desakan agar dilakukan audit lingkungan, sosial, dan kepatuhan hukum, serta pemulihan lingkungan di Sorowako. Pemenuhan hak dasar masyarakat lingkar tambang, termasuk akses air bersih, juga menjadi sorotan.

Pernyataan tersebut disampaikan Anto di tengah pembahasan kerja sama strategis. Ia menanggapi kabar keterlibatan divisi baterai Volkswagen AG, PowerCo, sebagai mitra pengembangan smelter hidrometalurgi berbasis High Pressure Acid Leach (HPAL) di Blok Tanamalia.

“Kalau itu memang sudah formal, pasti diumumkan. Ada confidentiality, jadi saya tidak bisa bicara banyak,” ujar Anto.

Lebih lanjut, Bernadus memastikan eksplorasi di Blok Tanamalia masih berjalan. Ia menyebut wilayah tersebut memiliki potensi cadangan bijih nikel yang besar, namun belum dapat merinci jumlahnya.

“Kami fokus dulu untuk mengeksplorasi dan men-justifikasi pengembangan tambang. Saya tidak hafal angka detailnya. Yang jelas, cadangannya bagus,” kata Bernadus.

Ke depan, penguatan perlindungan masyarakat di sekitar area pembuangan terak menjadi tolok ukur penting. Keterbukaan data pemantauan, mitigasi risiko, dan pelibatan pemerintah daerah diharapkan menjadi prioritas, agar masyarakat Sorowako tidak hanya terlindungi, tetapi juga memiliki kepastian atas keselamatan lingkungan hidup di wilayah tambang. (*)

Menulis di Uwrite bisa dapat penghasilan, Investasikan tulisan anda sekarang juga
Daftar di sini

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar

0 Komentar