Presiden Jokowi Bicara Kondisi Politik Saat Ini: Terlalu Banyak Drama dan Sinetronnya

Politik | 07 Nov 2023 | 11:46 WIB
Presiden Jokowi Bicara Kondisi Politik Saat Ini: Terlalu Banyak Drama dan Sinetronnya
Presiden Jokowi menghadiri puncak HUT ke-58 Partai Golkar di JIEXpo Kemayoran, Jakarta, Jumat malam (21/10/22). (Foto: Merdeka.com)

Uwrite.id - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan keprihatinannya terkait kondisi politik nasional belakangan ini. Dalam pernyataan yang disampaikan dalam acara peringatan HUT ke-59 Partai Golkar di DPP Golkar, Jakarta, pada Senin (6/11/23), Jokowi menyebut bahwa akhir-akhir ini terlalu banyak drama dan sinetron dalam perpolitikan menjelang Pilpres 2024.

Awalnya, Jokowi menekankan pentingnya kompetisi dalam demokrasi sebagai sesuatu yang wajar. Menurutnya, persaingan untuk meraih kekuasaan politik adalah hal yang sah dalam konteks demokrasi. Namun, yang harus tetap dijaga adalah kualitas demokrasi.

"Demokrasi yang tidak memecah belah, tidak saling menjelekkan, dan tidak saling memfitnah; demokrasi yang kita ingin bangun adalah demokrasi yang membangun, yang menghadirkan solusi," kata Jokowi dikutip dari CNN Indonesia, Senin (6/11/23).

Meskipun berkompetisi adalah hal yang bisa diterima, namun Jokowi mengingatkan bahwa belakangan ini terlalu banyak drama dan sinetron dalam perpolitikan. Ia menekankan bahwa yang seharusnya muncul adalah pertarungan gagasan dan ide, bukan pertarungan emosi.

"Kalau yang terjadi adalah pertarungan emosi, repot bagi kita semua. Tidak perlu saya teruskan, karena nanti tidak akan ada arah yang jelas," tambahnya.

Jokowi juga mengajak para kandidat yang akan bertarung dalam Pilpres 2024 untuk tetap menjaga persatuan. Menurutnya, semua pihak yang berkompetisi adalah anggota keluarga, dan setelah berkompetisi, mereka harus kembali bersatu.

"Pertarungan ini adalah pertarungan antar-sesama anak bangsa, antar-anggota keluarga sendiri. Setelah berkompetisi, mari bersatu kembali, rukun kembali," tegasnya.

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar

0 Komentar