Prediksi Profesor Jiang Xueqin Soal AS Bakal Kalah Perang dengan Iran Viral Lagi di Internet

Timur Tengah | 09 Mar 2026 | 21:25 WIB
Prediksi Profesor Jiang Xueqin Soal AS Bakal Kalah Perang dengan Iran Viral Lagi di Internet
Analisis tajam Profesor Jiang Xueqin yang memprediksi AS kalah perang dengan Iran kembali viral. (Sumber tangkapan layar: YouTube @ProfJiangClips)

Uwrite.id - Beijing - Jagat media sosial kembali diguncang oleh potongan video lama yang mendadak menjadi kenyataan pahit. Adalah Profesor Jiang Xueqin, seorang sejarawan dan analis geopolitik yang berbasis di Beijing, yang kini namanya mencuat setelah rentetan prediksinya mengenai peta konflik global terbukti akurat. 

Di tengah memanasnya suhu di Timur Tengah pada Maret 2026 ini, satu ramalannya yang paling menyengat kembali diperbincangkan: Profesor Jiang Xueqin prediksi AS kalah perang dengan Iran.

Analisis tersebut pertama kali dilemparkan Jiang pada Mei 2024. Kala itu, banyak pengamat menganggap pernyataannya terlalu spekulatif, bahkan cenderung mustahil. Namun, memasuki tahun 2026, dua dari tiga ramalan besarnya telah terwujud: kembalinya Donald Trump ke kursi kepresidenan Amerika Serikat dan pecahnya konfrontasi militer terbuka antara Washington dan Teheran. 

Kini, publik dunia menatap dengan cemas pada ramalan ketiganya: kekalahan telak sang negara adidaya.

Benteng Alam yang Mustahil Ditaklukkan

Melalui kanal YouTube-nya baru-baru ini, Jiang merilis sebuah video berjudul How Iran can CRIPPLE the West in One Move atau Bagaimana Iran dapat Melumpuhkan Barat dalam Satu Langkah. Dalam video ini Jiang membedah secara teknis mengapa militer Amerika Serikat akan menghadapi jalan buntu jika nekat melakukan invasi darat ke Iran. Kunci utamanya bukan sekadar jumlah tentara, melainkan topografi ekstrem yang dimiliki Negeri Para Mullah tersebut.

"Iran adalah sebuah benteng alami. Geografinya didominasi oleh deretan pegunungan yang sangat terjal," jelas Jiang.

Baginya, keunggulan teknologi satelit dan serangan udara AS akan tumpul menghadapi medan seperti ini. Di gunung-gunung itulah, Iran menyembunyikan pangkalan roket, bunker drone, hingga peluncur rudal balistik yang sulit terdeteksi.

Jiang menekankan bahwa strategi ofensif Iran sangat bergantung pada aspek geografis ini. Jika AS memutuskan untuk masuk, mereka tidak akan menghadapi perang terbuka di padang pasir yang datar, melainkan perang atrisi di celah-celah gunung yang mematikan. 

"Apakah militer Amerika bisa bertahan dari hujan rudal yang muncul dari balik gunung? Jawabannya jelas: tidak," tegasnya.

Perangkap Logistik dan Kekuatan Proksi

Lebih lanjut, Jiang menjelaskan bahwa perang melawan Iran akan menjadi 'lubang hitam' bagi anggaran dan sumber daya militer Amerika. Dengan jalur logistik yang sangat panjang melintasi samudera, pasukan AS akan sangat rentan terhadap gangguan.

Ia juga menyoroti peran kelompok proksi Iran seperti Houthi, Hizbullah, dan Hamas yang telah bertransformasi menjadi kekuatan militer yang memahami betul kelemahan mentalitas Barat. 

Menurutnya, kelompok-kelompok ini tidak perlu mengalahkan AS dalam pertempuran langsung, mereka hanya perlu memperlama konflik hingga ekonomi dan dukungan politik di dalam negeri Amerika runtuh dengan sendirinya.

Jiang menilai bahwa Washington sering kali meremehkan ketahanan domestik Iran. Medan pegunungan, ditambah dengan perlawanan rakyat yang militan, dapat mengubah pasukan penyerang menjadi 'sandera' di wilayah asing. 

Ia memperkirakan butuh jutaan tentara untuk menduduki wilayah sebesar Iran --suatu hal yang mustahil dipenuhi oleh AS tanpa memicu gejolak sosial yang hebat di dalam negerinya sendiri.

Dunia di Ambang Perubahan Tatanan

Jiang Xueqin menyitir bahwa war ini bukan konflik regional biasa. Jika prediksi looses AS ini terjadi, maka peran unipolar AS akan tamat. Dunia yang kita kenal hari ini tidak akan lagi sama setelah debu peperangan di Teheran mengendap.

Akurasi Jiang dalam memprediksi kemenangan Trump di akhir 2024 serta pecahnya perang pada Februari 2026 lalu membuat banyak pihak kini mulai mengkaji serius teori-teori sejarahnya. 
Di tengah klaim keberhasilan militer yang sering digaungkan Washington, suara Jiang Xueqin hadir sebagai peringatan keras: bahwa ada 'perangkap maut' yang siap melumpuhkan kekuatan Barat jika mereka terus memaksakan agenda militernya di Timur Tengah. (*)

Menulis di Uwrite bisa dapat penghasilan, Investasikan tulisan anda sekarang juga
Daftar di sini

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar