Pratikno Sehat Walafiat, Tensi Normal, Detak Jantung Stabil, Tengah Aktif Turun ke Daerah Tangani Karhutla

Uwrite.id - Jakarta - Hingga 2 hari terakhir belum ditemukan pemberitaan resmi dari media arus utama maupun rilis kepresidenan yang secara khusus menyebutkan kondisi kesehatan Prof. Dr. Pratikno, M.Soc.Sc. Sementara, beberapa jam kemarin ramai di dunia Maya bahwa beliau dikabarkan sakit. Sampai saat ini belum ada konfirmasi dari situs pemerintah, RS, kementerian, atau juru bicara terkait penurunan tensi dan detak jantung beliau, alhasil beliau boleh dikatakan, masih sehat dan prima.
Pratikno sendiri kemudian membantah beberapa kabar burung yang beredar mengenai dirinya itu. Padahal, saat ini, ia mengatakan, tengah berada di Malang guna melaksanakan rapat koordinasi penanganan karhutla yang melanda Bromo.
"Nggak, saya lagi di Bromo karena kan ada kebakaran. Jadi tadi pagi, jam 06.30 WIB berangkat ke Malang, terus kemudian ke Bromo. Kita rapat koordinasi untuk percepatan pemadaman kebakaran di Bromo," katanya.
"Nggak. Satu, sakit, nggak. Mundur, nggak. Lagi bertugas kok," ujarnya.
Aspek Medis
Dari aspek medis, tekanan darah normal pada orang dewasa umumnya berada di kisaran sistolik <120 mmHg dan diastolik <90 mmHg. Angka 120/80 mmHg kerap dijadikan acuan sebagai tekanan darah sehat ketika tubuh dalam kondisi bugar.
Adapun detak jantung normal saat istirahat untuk dewasa berkisar 60–100 bpm. Detak yang lebih rendah dapat menandakan kebugaran kardiovaskular lebih baik, sementara detak yang konsisten di atas 100 bpm saat rileks disarankan untuk segera dievaluasi.
Para ahli kesehatan menekankan bahwa menjaga stabilitas tensi dan detak jantung membutuhkan pola hidup teratur. Olahraga ringan 30 menit beberapa kali dalam seminggu terbukti dapat menurunkan tekanan darah 5–8 mmHg. Dua gerakan sederhana seperti wall squat dan meremas bola karet juga disebut membantu melenturkan pembuluh darah sehingga aliran darah lebih lancar.
Pola makan turut berperan penting. Konsumsi makanan tinggi kalium seperti pisang, bayam, dan alpukat, ditambah serat dari oat dan sayur hijau, dapat membantu menjaga tekanan darah. Sebaliknya, pengurangan garam, gula, lemak jenuh, kafein, dan alkohol disarankan agar jantung tidak bekerja terlalu keras.
Faktor stres dan jam kerja padat juga memengaruhi kesehatan jantung. Hormon adrenalin saat cemas dapat membuat detak jantung meningkat sebagai respons "fight or flight". Oleh karena itu, teknik relaksasi, tidur cukup 7–8 jam, dan hidrasi yang cukup menjadi penting bagi pejabat dengan jadwal padat.
Pemeriksaan rutin disebut sebagai kunci. Rumah sakit menyarankan pengukuran tekanan darah 2 kali sehari, pagi sebelum sarapan dan malam sebelum makan malam, lalu dirata-ratakan selama 7 hari untuk mendapatkan data akurat. Jika sistolik mencapai 135–140 mmHg atau diastolik 80–85 mmHg, konsultasi ke dokter sangat dianjurkan.
Untuk detak jantung, gejala seperti nyeri dada, sesak napas, pusing, atau detak tidak teratur merupakan tanda yang harus segera diperiksakan. Pemantauan dapat dilakukan secara manual di pergelangan tangan atau leher, maupun melalui perangkat jam tangan pintar.
Pejabat yang Sibuk Kerja, Apa Tipsnya?
Bagi pejabat yang "sibuk kerja", manajemen waktu dan beban kerja menjadi penentu utama kesehatan. Aktivitas fisik ringan 15–20 menit per hari dinilai cukup untuk mencegah penyakit tidak menular. Menjaga hidrasi dan membatasi konsumsi kafein juga membantu menjaga detak jantung tetap terkendali.
Penting digarisbawahi, tanpa pernyataan resmi yang valid, klaim "sakit dan mengundurkan diri" untuk pejabat kementerian tertentu harus menunggu konfirmasi dari sumber terpercaya seperti Kemensetneg, tim dokter kementerian, atau pernyataan langsung yang bersangkutan.
Sebagai patokan umum, indikator "tensi normal" dan "detak jantung stabil" mengacu pada standar 120/80 mmHg dan 60–100 bpm. Menjaganya memerlukan olahraga, pola makan sehat, kelola stres, dan pemeriksaan rutin. (*)

Tulis Komentar