Prabu Niskala Wastu Kancana Ingatkan Bahaya Judi dari 600 Tahun Lalu

Tokoh | 03 Aug 2025 | 22:32 WIB
Prabu Niskala Wastu Kancana Ingatkan Bahaya Judi dari 600 Tahun Lalu
Prasasti Kawali VI berisi peringatan bahaya judi. (Foto: Ist)

Uwrite.id - Di tengah maraknya judi online yang menjangkiti segala lapisan masyarakat, pesan dari abad ke-14 kembali relevan.

Bukan dari aparat, bukan dari influencer anti-judi, tapi dari seorang raja Galuh yang hidup lebih dari 600 tahun lalu: Prabu Niskala Wastu Kancana.

Pesan itu bukan sekadar petuah, disampaikan lewat Prasasti Kawali VI, sang raja menitipkan pesan singkat namun mendalam.

Isi prasasti yang ditulis dalam aksara dan bahasa Sunda Kuna ini sangat lugas. Berikut alih aksara dan alih bahasanya:

Alih Aksara:
"ini pěºṛti[ŋ]gal nu ºatisti rasa aya ma nuṅösi dayöḥ ºiwöºulaḥ botoḥ bisikokoro"

Alih Bahasa:
"Ini peninggalan dari [yang] astiti dari rasa yang ada, yang menghuni kota ini, jangan berjudi, bisa sengsara."

Kalimat itu terpahat di prasasti batu yang ditemukan di kompleks Kabuyutan Astana Gede, Kawali, Kabupaten Ciamis. Bekas pusat pemerintahan Kerajaan Galuh.

Pesannya langsung, tanpa basa-basi. Seolah tahu bahwa dari zaman ke zaman, judi selalu jadi penyakit sosial yang tak kunjung sembuh.

Pesan Moral dari Batu, Bukan Broadcast WhatsApp

Prabu Wastu Kancana dikenal bukan hanya sebagai raja pembangun, tetapi juga pemimpin yang menekankan nilai spiritual dan tata kehidupan masyarakat.

Selain membangun pertahanan kota, ia juga menjaga situs-situs suci. Nilai-nilai etika ditulis dalam bentuk prasasti, agar diwariskan lintas generasi.

Sementara Prasasti Kawali I berisi pujian terhadap dirinya sebagai raja bijak, Prasasti Kawali VI terasa berbeda.

Lebih lugas, lebih membumi. Tidak memuat nama tokoh atau cerita heroik, tapi justru menyoroti hal yang sangat manusiawi: larangan berjudi.

Ketika Aksara Kuno Lebih Tegas dari Regulasi Modern

Hari ini, peringatan bahaya judi datang lewat razia, larangan digital, dan imbauan pemerintah. Tapi ratusan tahun lalu, Sunda sudah mengukirnya dalam batu.

Tidak sekadar simbol, tapi bentuk keprihatinan atas perilaku yang dianggap bisa merusak tatanan masyarakat.

Dalam budaya Sunda, “botoh” tak hanya berarti penjudi, tapi juga seseorang yang hidup dari taruhan, menggadaikan nasib untuk keuntungan instan.

“Bisikokoro” menggambarkan akibatnya: nestapa, kesengsaraan, bahkan kehancuran.

Kalimat sederhana ini membuktikan bahwa nilai-nilai antijudi bukan produk moral modern. Ia sudah ada dalam warisan budaya, dalam sistem kepercayaan, bahkan dalam cara negara lama mengatur rakyatnya.

Dari Sabung Sampai Slot Online

Kini, botoh berubah bentuk. Dulu orang bertaruh ayam, kini bertaruh token dan saldo e-wallet. Dulu dilakukan di belakang lumbung, sekarang lewat grup Telegram.

Tapi hasil akhirnya sering sama: kesengsaraan finansial, konflik keluarga, hingga tindak kriminal.

Prabu Niskala Wastu Kancana, lewat prasasti itu, seolah bicara pada kita hari ini:
"Kalau kamu main judi, yang kamu undang bukan keberuntungan, tapi kesialan."

Peringatan ini bisa jadi lebih tajam dari iklan layanan masyarakat mana pun.

Mungkin, dalam upaya menangkal judi hari ini, kita tidak hanya butuh AI, cyber patrol, atau undang-undang, tapi juga kearifan dari masa lalu yang dipahat dalam batu.***

Menulis di Uwrite bisa dapat penghasilan, Investasikan tulisan anda sekarang juga
Daftar di sini

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar