Politisi Ferdinand Hutahean Kritisi Gagalnya Pemimpin dengan Maraknya Pengangguran Gen Z

Tokoh | 18 May 2024 | 21:55 WIB
Politisi Ferdinand Hutahean Kritisi Gagalnya Pemimpin dengan Maraknya Pengangguran Gen Z
Ferdinand berharap agar pemerintah tidak terus-menerus terjebak dalam kebijakan populis dan mulai membangun konsep yang jelas dan terukur untuk pembangunan bangsa ke depan.

Uwrite.id - Belakangan ini, masalah pengangguran di kalangan generasi Z semakin menjadi sorotan publik. Puluhan ribu anak muda yang masuk dalam kategori Gen Z di Indonesia masih mengalami kesulitan dalam mendapatkan pekerjaan yang layak.

Keadaan ini memunculkan kritik tajam dari berbagai pihak, salah satunya adalah politisi Ferdinand Hutahean.

Ferdinand mengatakan seorang kepala negara harus memiliki konsep untuk pembangunan bangsa ke depan.

Politisi Ferdinand Hutahean mengaku prihatin dengan banyaknya jumlah generasi muda (Gen Z) usia 15-24 tahun di Indonesia yang tidak bekerja dan tidak sedang sekolah pada 2023. Ferdinand menganggap hal tersebut sebagai kegagalan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

“Jadi pemimpin harus punya konsep dalam pikiran dalam membangun bangsa. Jokowi gagal punya konsep dan bergantung pada orang lain yang justru menjerumuskannya,” ujarnya.

Ia menilai bahwa kegagalan ini merupakan cerminan dari ketidakmampuan pemimpin bangsa saat ini dalam mengelola sumber daya manusia dan menciptakan lapangan pekerjaan.

Ferdinand Hutahean, dengan tegas menyatakan bahwa Presiden Joko Widodo atau Jokowi tidak dapat berbuat banyak untuk mengatasi masalah pengangguran yang melanda Gen Z.

Menurutnya, selama masa jabatannya, Jokowi hanya fokus pada pembagian sertifikat tanah dan sembako, yang dianggap tidak memberikan dampak signifikan pada perbaikan kualitas hidup dan penyediaan lapangan pekerjaan.

Langkah-langkah ini dikritisi sebagai 'solusi sementara' yang tidak menjawab permasalahan kunci yakni pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

Ketidakmampuan Jokowi dalam menangani masalah ini, menurut Ferdinand, dipicu oleh kurangnya konsep yang jelas untuk membangun bangsa.

Jumlah pengangguran dan mereka yang putus sekolah di kalangan Gen Z yang terus meningkat adalah bukti nyata bahwa pemerintah belum memiliki strategi yang komprehensif dan efektif untuk membenahi sumber daya manusia.

Kebijakan pendidikan dan lapangan kerja yang diterapkan selama ini belum mampu mengatasi tantangan yang ada, dan pada akhirnya menelantarkan banyak generasi muda yang seharusnya menjadi penerus bangsa.

Dalam pandangannya, seorang pemimpin haruslah memiliki visi dan konsep yang solid untuk pembangunan bangsa ke depan. Kebijakan populis semata seperti pembagian sertifikat tanah atau sembako tidak akan cukup untuk menciptakan kondisi ekonomi yang stabil dan berdaya saing.

Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, terdapat sekitar 9,9 juta penduduk generasi muda usia 15 – 24 tahun di Indonesia tidak bekerja dan tidak sedang sekolah pada 2023. Angka itu setara dengan 22,25 persen dari total penduduk usia muda di Indonesia.

Ferdinand menekankan bahwa yang paling dibutuhkan saat ini adalah kebijakan yang dapat meningkatkan kualitas pendidikan, pelatihan keterampilan berbasis industri, serta penciptaan iklim usaha yang kondusif bagi anak-anak muda untuk berinovasi dan berwirausaha.

Menurut Ferdinand, banyaknya jumlah pengangguran dan tak sekolah di kalangan Gen Z karena Jokowi tidak punya konsep membangun bangsa.

“Beginilah negara jika presidennya hanya bisa bagi-bagi sembako dan bagi-bagi sertifikat yang seharusnya itu pekerjaan Pak RT,” kata Ferdinand dikutip dari unggahannya di saluran X, pada Sabtu (18/05).

Lebih lanjut, Ferdinand menegaskan bahwa tugas seorang pemimpin tidak hanya sebatas memberikan bantuan secara fisik seperti sembako, tetapi juga harus mampu membenahi sistem dan tata kelola sumber daya manusia. Pemimpin harus memiliki visi jangka panjang dalam menciptakan lapangan pekerjaan yang menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan pasar kerja. Keberhasilan sebuah bangsa sangat bergantung pada bagaimana ketangguhan dan kualitas sumber daya manusianya.

Sebagai seorang politisi yang vokal, Ferdinand Hutahean berharap bahwa kritik dan saran yang ia sampaikan dapat membuka mata pemerintah dan para pemangku kebijakan. Dia berharap agar pemerintah tidak terus-menerus terjebak dalam kebijakan populis dan mulai membangun konsep yang jelas dan terukur untuk pembangunan bangsa ke depan. Menurutnya, hanya melalui pendekatan yang komprehensif dan berorientasi pada masa depan, Indonesia dapat keluar dari jeratan masalah pengangguran yang kini membelenggu Gen Z.

Dengan demikian, adalah suatu keharusan bagi setiap pemimpin untuk tidak hanya melihat masalah ekonomi dalam jangka pendek, tetapi juga merencanakan dan melaksanakan strategi-strategi pembangunan yang berkelanjutan agar generasi mendatang tidak lagi terperangkap dalam lingkaran setan pengangguran dan kemiskinan. (*)

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar

0 Komentar