Podcast Kopi Aktivis ZARKA: Dari Indonesia, Suara Kemanusiaan Menggema di Tengah Konflik Timur Tengah

Timur Tengah | 18 Oct 2026 | 12:57 WIB
Podcast Kopi Aktivis ZARKA: Dari Indonesia, Suara Kemanusiaan Menggema di Tengah Konflik Timur Tengah
Podcast Kopi Aktivis Perkumpulan ZARKA menyoroti konflik Arab Saudi–Houthi, menyerukan perlindungan WNI, dan mendorong perdamaian dunia demi kemanusiaan.

Uwrite.id - Jatinegara, Jakarta — Eskalasi konflik bersenjata antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman mendapat perhatian dari kalangan aktivis Indonesia. Melalui tayangan Podcast Kopi Aktivis, Perkumpulan Zirah Amanat Rakyat untuk Keadilan (ZARKA) menyerukan perlindungan terhadap warga negara Indonesia (WNI), penguatan diplomasi pemerintah, serta penghentian kekerasan yang mengancam keselamatan masyarakat sipil di kawasan Timur Tengah.

Dalam episode bertajuk “Perang Arab–Houthi Memanas! Rudal Bicara, Kemanusiaan Terbakar!”, diskusi yang dipandu Barto Silitonga bersama narasumber Usra Waiulung (Uca) mengulas konflik tersebut dari perspektif geopolitik, kepentingan nasional, dan tanggung jawab kemanusiaan. Perbincangan menekankan bahwa perang bukan sekadar persoalan kekuatan militer, melainkan menyangkut keselamatan jutaan manusia yang berpotensi terdampak.

Sorotan tersebut menguat menyusul serangkaian serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh dan ancaman terhadap infrastruktur energi Arab Saudi. Reuters melaporkan serangan pada 10–11 Oktober 2026 menimbulkan korban jiwa, ratusan orang terluka, serta gangguan terhadap operasional penerbangan. Kelompok Houthi juga mengklaim serangan terhadap sejumlah fasilitas strategis di negara tersebut.

Dampaknya turut dirasakan masyarakat Indonesia. Kementerian Luar Negeri RI pada 14 Oktober 2026 mengonfirmasi dua WNI mengalami luka ringan akibat serangan di Riyadh pada 11 Oktober. Keduanya telah memperoleh perawatan medis dan diperbolehkan pulang pada hari yang sama. Pemerintah memastikan kedua korban merupakan warga Indonesia yang menetap di Arab Saudi, bukan jemaah umrah.

Menanggapi situasi tersebut, Usra menilai pemerintah Indonesia perlu meningkatkan langkah perlindungan melalui jalur diplomatik dan koordinasi dengan otoritas setempat. Menurutnya, keselamatan WNI tidak boleh bergantung pada perkembangan konflik yang sulit diprediksi.

“Pemerintah Indonesia harus turun,” tegas Usra dalam perbincangan tersebut. Ia juga meminta Kementerian Luar Negeri segera mengambil langkah antisipatif agar tidak muncul korban berikutnya.

Dari sudut pandang geopolitik, Usra berpandangan bahwa ketegangan Arab Saudi dan Houthi tidak semestinya disederhanakan sebagai pertentangan agama. Konflik tersebut, menurutnya, berkaitan dengan persoalan politik, kekuasaan, kepentingan ekonomi, dan persaingan pengaruh di kawasan Timur Tengah.

“Kalau menurut pandangan saya, ini bukan konflik agama,” ujarnya, seraya mengingatkan agar persoalan internal kawasan tidak semakin meluas dan menyeret lebih banyak pihak ke dalam peperangan.

Podcast Kopi Aktivis ZARKA, ruang dialog kritis yang menyuarakan aspirasi rakyat, kebangsaan, dan perubahan.

Perhatian Kopi Aktivis juga diarahkan kepada pekerja migran Indonesia, pelajar, dan masyarakat yang hendak melaksanakan ibadah umrah. Para peserta diskusi menilai bahwa ketidakpastian keamanan maupun gangguan penerbangan dapat berdampak terhadap masyarakat yang tidak memiliki keterlibatan dalam konflik bersenjata.

Selain mendorong perlindungan WNI, perbincangan tersebut menyinggung pentingnya politik luar negeri bebas aktif Indonesia sebagai landasan untuk mengambil peran diplomatik yang konstruktif. Melalui komunikasi antarnegara dan forum internasional, Indonesia diharapkan terus mendorong penyelesaian konflik secara damai dengan tetap menghormati kedaulatan masing-masing negara.

Diskusi turut menyinggung rencana perjalanan Ketua Umum Perkumpulan ZARKA, Teuku Z. Arifin, ke Arab Saudi. Para peserta menyampaikan harapan agar kunjungan tersebut berlangsung aman dan dapat menjadi kesempatan untuk memperhatikan kondisi masyarakat Indonesia di tengah ketegangan kawasan.

Bagi Perkumpulan ZARKA, keterlibatan masyarakat sipil dalam menyuarakan perdamaian merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan fungsi kontrol sosial. Sikap kritis terhadap konflik internasional dinilai perlu tetap mengedepankan nilai kemanusiaan, kepentingan nasional, dan penghormatan terhadap kedaulatan negara.

Pesan tersebut semakin ditegaskan melalui narasi penutup Kopi Aktivis yang menggambarkan ironi peperangan ketika kemajuan teknologi persenjataan justru berhadapan dengan penderitaan masyarakat sipil.

“Hentikan kekerasan! Hormati kedaulatan! Lindungi kemanusiaan!” demikian seruan yang disampaikan dalam penutupan podcast tersebut.

Narasi penutup juga menyampaikan doa agar Tanah Suci Makkah dan Madinah senantiasa berada dalam perlindungan Allah SWT, sehingga umat Islam dari seluruh dunia dapat melaksanakan ibadah dengan aman, tenang, dan tanpa bayang-bayang peperangan.

“Biarlah peta dunia dipisahkan oleh batas negara, tetapi jangan pernah biarkan kemanusiaan terpecah oleh ambisi kekuasaan!” menjadi salah satu pesan yang mengemuka dalam tayangan tersebut.

Melalui ruang dialog Kopi Aktivis, Perkumpulan ZARKA mengajak masyarakat untuk melihat konflik Timur Tengah bukan semata dari sudut pandang persenjataan dan perebutan pengaruh, tetapi juga dari tanggung jawab bersama dalam melindungi kehidupan manusia.

Sebab, kemenangan terbesar sebuah peradaban bukanlah ketika satu bangsa berhasil menaklukkan bangsa lainnya, melainkan ketika senjata dibungkam, perdamaian ditegakkan, dan kemanusiaan kembali dimenangkan.

Dari Indonesia, suara aktivis menggema untuk dunia. M

Menulis di Uwrite bisa dapat penghasilan, Investasikan tulisan anda sekarang juga
Daftar di sini

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar

0 Komentar