PM Modi, Harmoni Beragama, dan Proteksi Masjid Hazrat Nizamuddin

Budaya | 07 Jul 2026 | 10:53 WIB
PM Modi, Harmoni Beragama, dan Proteksi Masjid Hazrat Nizamuddin
Presiden Prabowo Subianto saat menjemput kedatangan PM India Narendra Modi di Bandara Halim Perdanakusumah. (*)

Uwrite.id - New Delhi - India adalah negara dengan keberagaman agama terbesar di dunia. Dalam konteks keberagaman itu, peran pemerintah pusat menjadi sangat penting untuk menjaga harmoni sosial. Perdana Menteri Narendra Modi sejak menjabat terus menekankan pentingnya persatuan dalam keberagaman sebagai fondasi India modern.

Salah satu prinsip yang sering disampaikan Modi adalah “Sabka Saath, Sabka Vikas, Sabka Vishwas, Sabka Prayas”. Prinsip ini secara harfiah berarti bersama semua, pembangunan untuk semua, kepercayaan semua, dan upaya semua. Prinsip ini menjadi kerangka kebijakan yang menyentuh berbagai komunitas keagamaan di India.

Dalam praktiknya, kebijakan ramah semua pemeluk agama diwujudkan melalui perlindungan tempat ibadah, perayaan hari besar lintas agama, dan dialog antar tokoh agama. Pemerintah pusat secara rutin mengadakan pertemuan dengan pemuka Hindu, Muslim, Sikh, Kristen, Buddha, dan Jain untuk membahas isu kebangsaan.

Isu konservasi warisan budaya dan keagamaan juga mendapat perhatian besar. India memiliki ribuan situs bersejarah yang menjadi identitas bersama. Konservasi bukan hanya soal bangunan, tetapi juga menjaga narasi sejarah agar bisa diwariskan ke generasi berikutnya tanpa distorsi.

Di tengah banyaknya situs bersejarah, Masjid Hazrat Nizamuddin di Delhi memiliki posisi khusus. Masjid ini berada di kompleks makam Hazrat Nizamuddin Auliya, seorang sufi besar dari tarekat Chishti yang dihormati lintas komunitas di Asia Selatan.

Hazrat Nizamuddin Auliya dikenal dengan ajaran cinta, toleransi, dan pengabdian kepada kemanusiaan. Ajaran itu membuat dargah dan masjid di sekitarnya menjadi pusat ziarah bukan hanya bagi Muslim, tetapi juga bagi peziarah dari berbagai latar belakang.

Karena peran sejarahnya, Masjid Nizamuddin sering disebut sebagai salah satu pusat spiritual paling berpengaruh di anak benua India. Dari sinilah nilai-nilai tasawuf Chishti menyebar ke berbagai wilayah, termasuk ke Asia Tenggara.

Pemerintah India melalui Archaeological Survey of India dan kementerian terkait telah melakukan berbagai upaya konservasi di area Nizamuddin. Renovasi dilakukan dengan tetap menjaga arsitektur asli Mughal agar keaslian tempat tidak hilang.

Proteksi terhadap masjid ini juga mencakup aspek keamanan dan kebersihan. Aparat setempat ditempatkan untuk memastikan kegiatan ibadah berjalan lancar dan para peziarah merasa aman, terutama saat peringatan Urs dan hari-hari besar Islam.

Kebijakan Modi dalam hal ini menekankan bahwa melindungi situs keagamaan berarti melindungi warisan bersama bangsa. Pernyataan resmi pemerintah sering menyebut bahwa India kuat karena menghormati semua tradisi spiritual yang hidup di dalamnya.

Masjid Nizamuddin tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah. Ia juga menjadi ruang dialog. Banyak seminar, qawwali, dan diskusi lintas agama diadakan di pelatarannya untuk membahas isu damai dan kemanusiaan.

Itulah sebabnya banyak pengamat menyebut Nizamuddin sebagai “center of gravity” dakwah dunia. Gravitasi di sini bukan dalam arti politik, tetapi dalam arti daya tarik spiritual dan intelektual yang menyatukan orang dari berbagai negara.

Dakwah yang lahir dari Nizamuddin bersifat rahmatan lil alamin. Ia tidak memaksa, tidak konfrontatif, dan berakar pada contoh akhlak. Karakter dakwah seperti inilah yang membuat tempat ini dihormati bahkan oleh mereka yang berbeda keyakinan.

Dalam beberapa kunjungan kenegaraan, para pemimpin dari Timur Tengah, Asia Tenggara, dan Afrika juga menyempatkan ziarah ke Nizamuddin. Ini menunjukkan bagaimana tempat ini menjadi titik temu diplomasi budaya dan spiritual.

Kebijakan pemerintah pusat mendukung penuh peran Nizamuddin sebagai jembatan budaya. Program visa ziarah dipermudah, infrastruktur di sekitar area diperbaiki, dan promosi wisata spiritual dilakukan untuk wisatawan domestik maupun internasional.

Konservasi fisik dilakukan dengan hati-hati. Penggunaan material tradisional, pelibatan ahli sejarah, dan konsultasi dengan pengurus dargah menjadi bagian dari proses agar tidak merusak nilai sakral tempat tersebut.

Proteksi hukum juga diperkuat. Setiap upaya vandalisme atau provokasi di sekitar situs keagamaan ditindak tegas. Tujuannya jelas, menjaga agar tempat ibadah tidak menjadi arena konflik politik.

Bagi komunitas Muslim India, perhatian terhadap Nizamuddin adalah bentuk pengakuan negara terhadap kontribusi Islam dalam membangun peradaban India. Masjid ini adalah bukti hidup bahwa Islam telah berakar ratusan tahun di India dengan cara damai.

Bagi komunitas non-Muslim, Nizamuddin adalah simbol toleransi. Banyak kisah tentang bagaimana Hazrat Nizamuddin membantu masyarakat miskin tanpa membedakan agama. Nilai itu yang terus dijaga oleh pemerintah dalam narasi kebangsaannya.

Perdana Menteri Modi dalam beberapa pidatonya menyebut bahwa kekuatan India ada pada kemampuannya merayakan perbedaan. Menurutnya, merayakan perbedaan bukan berarti melemahkan identitas, justru memperkuat persatuan.

Dalam konteks kebijakan luar negeri, India juga memposisikan diri sebagai suara perdamaian. Dengan menjaga situs seperti Nizamuddin, India menunjukkan ke dunia bahwa tradisi spiritual bisa menjadi alat diplomasi lunak yang efektif.

Tantangan tetap ada. Urbanisasi, polusi, dan tekanan populasi di Delhi membuat pelestarian area Nizamuddin menjadi pekerjaan berkelanjutan. Karena itu dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah Delhi, dan masyarakat sipil.

Organisasi masyarakat dan yayasan keagamaan dilibatkan dalam perawatan rutin. Model partisipasi ini sesuai dengan prinsip “Sabka Prayas”, bahwa upaya menjaga warisan harus dilakukan bersama semua.

Ke depan, peran Nizamuddin sebagai center of gravity dakwah dunia diproyeksikan akan semakin kuat. Dengan digitalisasi arsip, siaran qawwali, dan pertukaran ulama, pesan-pesan dari tempat ini bisa menjangkau lebih luas.

Kebijakan ramah semua pemeluk agama tidak berarti menyeragamkan. Justru sebaliknya, ia memberi ruang bagi setiap komunitas untuk tumbuh dengan identitasnya, selama tetap dalam bingkai konstitusi dan persaudaraan.

Pada akhirnya, konservasi dan proteksi Masjid Nizamuddin adalah cermin dari India yang ingin dilihat dunia. India yang menghargai masa lalu, merawat keberagaman hari ini, dan membangun masa depan bersama. Di sinilah letak relevansi kepemimpinan PM India Modi dalam menjaga warisan spiritual sebagai kekuatan pemersatu bangsa. (*)

Menulis di Uwrite bisa dapat penghasilan, Investasikan tulisan anda sekarang juga
Daftar di sini

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar

0 Komentar