Perubahan Cara Belanja Konsumen Secara Daring (Online) Banyak Pedagang Pasar Tradisional Mengeluh Sepi Pengunjung

Ekonomi | 17 Sep 2023 | 21:28 WIB
Perubahan Cara Belanja Konsumen Secara Daring (Online) Banyak Pedagang Pasar Tradisional Mengeluh Sepi Pengunjung
Suasana sepi di Pasar Tanah Abang, Rabu 13 September 2023. (Foto: Berita Satu)

Uwrite.id - Kemajuan teknologi dan penetrasi e-commerce telah mengubah lanskap belanja di seluruh dunia. Di Asia Tenggara, terutama di Indonesia, tren ini juga tidak terhindarkan. Semakin banyak konsumen yang beralih ke belanja secara daring atau online daripada mengunjungi toko fisik, dan dampaknya mulai terasa di berbagai pasar tradisional di Indonesia, termasuk Pasar Tanah Abang, yang merupakan pasar tekstil terbesar di Asia Tenggara.

Pasar Tanah Abang, yang telah berdiri sejak tahun 1735 dan merupakan ikon sejarah pejabat VOC Yustinus Vinck, kini mulai mengalami penurunan pengunjung yang signifikan. Salah satu indikatornya adalah sejumlah toko yang sudah mulai tutup, terutama di lantai 3A, seolah-olah pasar ini tak lagi diminati pengunjung.

Uni Nilam, seorang pedagang yang telah berjualan di Pasar Tanah Abang selama puluhan tahun, mengungkapkan perubahan dramatis ini. Dia menyatakan bahwa pasar kini semakin sepi karena tergerus oleh belanja online. Meskipun dirinya juga mencoba berjualan secara daring, namun masih menemui banyak kendala.

Ketika ia berjualan secara langsung melalui platform online, Nilam hanya mendapatkan kunjungan 2 atau 3 penonton saja. Bagi pedagang seperti Nilam yang bukan selebgram atau artis, ia mengaku mengalami kesulitan untuk bersaing secara online karena tidak memiliki banyak pengikut (follower) seperti selebriti.

"Kondisi offline sangat sepi saat ini karena banyak orang beralih ke belanja online. Bagi saya yang masih pemula, sulit menarik penonton karena saya bukan selebgram atau artis yang memiliki banyak pengikut. Saya terpaksa harus belajar berjualan online untuk tetap bersaing di zaman ini," ujar Nilam seperti yang dilaporkan oleh Berita Satu pada Rabu, (13/9/23).

Nilam juga mengungkapkan bahwa meskipun dia telah berjualan online selama lebih dari satu tahun, omzet yang diperolehnya dari belanja daring hanya sedikit berbeda dari berjualan secara konvensional. Namun, ia mencatat bahwa dapat menjual hingga tiga lusin celana saat berjualan secara online, dibandingkan dengan lima hingga 10 potong celana saja saat berjualan offline.

"Aku sudah lebih dari setahun berjualan di TikTok, tetapi omzetnya tetap terbatas karena saya bukan selebgram terkenal. Walaupun pengikut saya sedikit di online, lebih banyak orang yang membeli secara online daripada datang langsung ke toko," tambahnya.

Di sisi lain, dari sudut pandang konsumen, Vina mengungkapkan keunggulan belanja secara daring atau online. Menurutnya, belanja online lebih murah dan praktis.

"Saya lebih suka berbelanja secara online karena lebih hemat biaya tanpa harus keluar ongkos, dan harganya juga lebih murah. Namun, jika saya tidak menemukan apa yang saya cari secara online, saya masih akan datang ke Pasar Tanah Abang," ungkap Vina.

Perubahan trend pasar ini semakin menegaskan betapa pentingnya adaptasi bagi para pedagang tradisional untuk bersaing di era e-commerce yang semakin berkembang pesat. Kesulitan dalam menarik pelanggan secara online menjadi tantangan yang perlu diatasi, sementara konsumen semakin memilih kenyamanan dan harga yang lebih murah melalui platform daring.

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar

0 Komentar