Pencarian Udara via Drone Diintensifkan, Guna Melacak Jejak Alpin dan Yufaidin yang Hilang di Gunung Bismo

Uwrite.id - Wonosobo - Tim gabungan SAR kembali mengintensifkan operasi pencarian terhadap dua remaja yang dilaporkan hilang di kawasan Gunung Bismo, Wonosobo, Jawa Tengah. Keduanya adalah Alpin, 15 tahun, dan Yufaidin, 16 tahun, yang terakhir terlihat memasuki area rimba arah Sidongkal pada Selasa, 30 Juni pekan lalu. Hingga hari kedelapan pencarian, jejak keduanya belum ditemukan.
Kondisi medan yang terjal dan cuaca yang sering berkabut menjadi kendala utama tim di lapangan. Karena itu, penggunaan teknologi drone kini menjadi fokus utama operasi.
Koordinator Pos Basarnas Wonosobo, Dani Fitra Maulana, mengatakan pihaknya telah menambah armada drone thermal untuk menyisir area yang sulit dijangkau personel. "Drone akan terbang di titik-titik rawan dan lereng curam yang belum tersentuh," ujarnya, Jum'at pagi (10/07). Gunung Bismo memiliki ketinggian 2.365 meter di atas permukaan laut.
Jalurnya dikenal menantang dengan vegetasi lebat, jurang, dan titik blind spot sinyal komunikasi. Hal ini membuat pencarian manual membutuhkan waktu lebih lama.
Alpin dan Yufaidin dilaporkan berangkat dari rumah di Dusun Rejosari Desa Krinjing pada Selasa, 30 Juni 2026 sekira pukul 12.00 WIB tanpa berpamitan pada keluarga. Mereka sepertinya berencana bermain ke hutan dan kembali sore harinya. Namun hingga malam, keduanya tidak kunjung pulang. Keluarga yang khawatir kemudian melapor pada Rabu dini hari.
Laporan itu diteruskan ke BPBD Wonosobo dan diteruskan ke Basarnas untuk ditindaklanjuti.
Pada tiga hari pertama, pencarian dilakukan secara darat oleh tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, relawan Mapala, dan warga setempat.
Penyisiran dilakukan di jalur pendakian utama dan beberapa jalur alternatif. Tim belum menemukan beberapa barang yang diduga milik korban seperti bungkus alumunium makanan ringan wafer.
Sama sekali belum terlihat tanda-tanda keberadaan Alpin dan Yufaidin di sekitar lereng Gunung Bismo yang disiarkan tim SAR gabungan.
Memasuki hari ketujuh, tim memutuskan untuk menambah unsur udara, di samping tetap mengerahkan bantuan tim satwa Polri (Unit K-9). Dua unit drone dengan kamera thermal dan zoom optik diterjunkan untuk memetakan area seluas 6,5 kilometer persegi di sekitar jalur pendakian.
"Drone thermal sangat membantu di malam hari dan saat kabut tebal. Sensor panas bisa mendeteksi tubuh manusia meski tertutup pepohonan," jelas Koordinator Pos Basarnas Wonosobo, Dani Fitra Maulana. Penerbangan drone dilakukan dua kali sehari, yakni pada pukul 07.00 hingga 10.00 WIB dan pukul 15.00 hingga 17.30 WIB. Area difokuskan pada kawasan hutan Sebrani, lereng barat Gunung Bismo, jalur pendakian via Krinjing, Deroduwur, Silandak, hingga Sikunang.
Waktu tersebut dipilih karena kondisi angin relatif tenang dan visibilitas paling baik. Selain drone, tim juga menggunakan anjing pelacak untuk melakukan pengidentifikasian dari darat.
Senior organisasi relawan Pecinta Alam Wonosobo, Diono Setyo, menyebut medan Gunung Bismo sangat ekstrim. "Ada beberapa spot tebing dengan kemiringan hampir 70 derajat. Kalau terpeleset, sangat berbahaya," katanya.
Tim juga memasang radio komunikasi di beberapa titik tinggi untuk memperluas jangkauan sinyal. Harapannya, jika pesawat seluler Alpin dan Yufaidin masih menyala, mereka bisa menghubungi tim SAR. Pihak keluarga terus menunggu dari rumah, sambil berharap-harap cemas. Ibu Alpin, Turkini, mengaku tidak bisa tidur sejak mendengar anaknya hilang. "Saya hanya minta anak saya ditemukan dalam keadaan selamat," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Sementara itu, ayah Yufaidin, Solihin turut aktif memantau perkembangan. Dirinya membantu menyiapkan foto terbaru kedua korban untuk membantu tim mengenali ciri-ciri di rekaman drone.
Stasiun Klimatologi Jawa Tengah memprakirakan cuaca di puncak Gunung Bismo masih berpotensi hujan ringan dan angin kencang hingga akhir pekan ini. Suhu di malam hari bisa mencapai 10 derajat Celcius.
Kondisi tersebut membuat tim SAR harus bekerja ekstra cepat. Kabut tebal sering turun tiba-tiba dan mengurangi jarak pandang drone menjadi kurang dari 50 meter. Untuk mengatasi itu, tim teknis melakukan kalibrasi ulang pada kamera drone agar sensitivitas thermal-nya ditingkatkan. Mereka juga membawa baterai cadangan agar durasi terbang bisa lebih lama.
Kapolsek Watumalang, AKP Jumali Gala Briyo mengimbau para pendaki lain untuk sementara tidak mendaki Gunung Bismo sampai proses pencarian selesai.
"Kami khawatir menambah jumlah orang hilang," ulasnya. Hingga saat ini, sudah lebih dari 80 personel yang terlibat dalam operasi. Mereka dibagi menjadi 6 SRU yang menyisir dari arah utara, selatan, timur, dan barat puncak.
Tim kesehatan juga disiagakan di posko. Paramedis dari Puskesmas Krinjing membawa obat-obatan, oksigen, dan perlengkapan untuk pertolongan pertama jika korban ditemukan. Warga sekitar Dusun Rejosari Desa Krinjing turut membantu dengan menyediakan makanan dan tempat istirahat bagi tim SAR.
Beberapa warga yang hafal medan juga dilibatkan sebagai pemandu.
Penggunaan drone bukan kali pertama dilakukan di Gunung Bismo. Beberapa tahun lalu, teknologi serupa juga digunakan saat mencari orang hilang yang tersesat selama dua hari dan akhirnya ditemukan dalam keadaan selamat.
Analis SAR Ruskendra Affan dari Undip Semarang menyebut peluang menemukan korban dalam 7 hari pertama masih cukup besar, terutama jika korban tidak mengalami cedera berat. Setelah itu, faktor cuaca dan logistik menjadi tantangan tersendiri. Tim saat ini memfokuskan pencarian di tiga titik yang dianggap paling rawan, yakni punggungan gunung, kawasan vegetasi rapat, serta jalur ilegal atau non-resmi yang dicurigai dilewati korban sejak meninggalkan rumah. Area tebing-tebingan dan curug-curug di sana masih perlu disisir, karena yang di bawah-bawah sudah semua," ungkap Dani Fitra Maulana menambahkan.
Ketiga lokasi itu sering tertutup kabut dan minim sinyal.
Rekaman dari drone setiap hari langsung dianalisis di posko. Jika ada objek mencurigakan, tim darat akan segera menuju lokasi untuk melakukan pengecekan langsung.
Basarnas memastikan operasi akan terus berjalan sampai 'Paket A' itu diketemukan.
"Kami tetap akan melaksanakan tugas pencarian Alpin dan Yufaidin selama 3 (tiga) hari perpanjangan waktu ke depan. Itu komitmen kami," ungkap Dani Fitra Maulana. Masyarakat diminta untuk mendoakan dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Informasi resmi mengenai perkembangan pencarian dapat dipantau melalui unit SAR di posko Krinjing dan media sosial resmi Basarnas Wonosobo. (*)

Tulis Komentar