Penanganan Titik Api Hotspot Harus Dioptimalkan, Karhutla di Kalteng Masih Alami Peningkatan

Uwrite.id - Palangka Raya - Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah kembali jadi sorotan utama. Catatan terkini memperlihatkan ratusan insiden karhutla menyebar di berbagai kabupaten dengan ribuan titik panas terpantau sejak awal tahun.
Kapolda Kalimantan Tengah, Irjen Pol Iwan Kurniawan, menekankan agar proses pemadaman digencarkan pada lokasi yang benar-benar terbakar. Hal tersebut disampaikannya saat melakukan tinjauan langsung ke area karhutla di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, beberapa waktu lalu.
"Hari ini saya melakukan pengecekan upaya penanganan karhutla di kawasan Sampit yang diawali dengan patroli udara. Dari hasil pantauan tampak jelas titik-titik panas maupun lokasi yang memang mengalami kebakaran," ujar Kapolda.
Dari hasil pemantauan udara, tercatat 61 titik panas di wilayah Sampit. Namun hanya lima titik yang dipastikan masih aktif terbakar sehingga menjadi skala prioritas dalam penanganan.
"Kita wajib menetapkan skala prioritas karena keterbatasan alat dan personel jika dibandingkan dengan luasnya area terdampak," kata Iwan. Ia menilai strategi paling efektif adalah dengan mengerahkan semua sumber daya yang tersedia.
Pemkab Kotim melalui Bupati Halikinnor sudah mengajukan permintaan bantuan water bombing kepada BPBD Provinsi. Dukungan lewat jalur udara dianggap krusial untuk menjangkau wilayah yang sulit dijangkau pasukan darat.
Di sisi lain, Kapolda juga menginstruksikan jajarannya untuk mengusut tuntas setiap kasus karhutla tanpa terkecuali. Baik individu maupun perusahaan akan diproses secara hukum apabila terbukti lalai.
Data dari BPBD Provinsi Kalteng mencatat, hingga 2 Agustus 2026 terjadi 18 peristiwa karhutla dalam satu hari dengan 91 titik panas. Total lahan yang hangus mencapai 26,535 hektare.
Jika diakumulasi sejak 1 Januari sampai 2 Agustus 2026, terdapat 4.547 titik panas, 877 kejadian karhutla, dan luas area terbakar 1.669,58 hektare. Jumlah ini mengalami kenaikan tajam dibanding periode sama tahun lalu.
Daerah yang tergolong rawan tinggi meliputi Kota Palangka Raya, Pulang Pisau, Kotim, Seruyan, Barito Selatan, Kotawaringin Barat, Sukamara, Gunung Mas, Barito Timur, Barito Utara, Lamandau, dan Katingan.
Kalak BPBD Kalteng, Ahmad Toyib, menyampaikan pihaknya telah memetakan zona rawan dan membentuk posko siaga. "Peralatan dan anggota juga sudah kami siapkan untuk penanganan cepat selama 24 jam," ucapnya.
Di Seruyan, Tim Gabungan Posko 11 Seruyan Tengah sukses memadamkan titik panas di Desa Tangga Batu pada 16 Agustus 2023. Tim tersebut terdiri dari unsur TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, dan warga.
Kepala BPBD Seruyan, M. Aswin, menjelaskan jenis vegetasi pakis dan struktur lahan mineral membuat api cepat merambat. "Untuk itu intensitas patroli perlu ditambah, khususnya saat musim kemarau berkepanjangan," ujarnya.
Di Pulang Pisau, upaya pemadaman karhutla di Desa Tumbang Nusa sudah berjalan selama 32 hari. Dua helikopter water bombing milik BNPB telah melakukan 139 kali penyiraman dengan total 556.000 liter air.
Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, menegaskan pentingnya operasi pemadaman dari udara untuk wilayah yang tak terjangkau darat. "Dua helikopter water bombing sudah kami siapkan. Bila masih kurang akan kami tambah," tegasnya.
BNPB juga telah menggelar Operasi Modifikasi Cuaca tahap pertama pada 16-30 Juni 2026. Tercatat 31 kali penerbangan dengan durasi 63 jam 18 menit serta penggunaan 31.000 kg garam NaCl.
"Saat ini persediaan garam NaCl di Posko OMC tersisa 6.000 kilogram," ungkap Suharyanto. Ia berharap hujan buatan dapat menekan jumlah titik api.
Selain lewat udara, BNPB juga memperkuat Satgas Darat. Usai api berhasil dipadamkan, petugas diwajibkan melakukan proses pendinginan pada lahan gambut agar bara api tidak menyala lagi.
"Hal ini penting karena sifat gambut, api bisa tetap menyala di bawah permukaan selama berminggu-minggu," jelas Suharyanto. Ia turut meminta pemerintah daerah menjamin ketersediaan logistik dan uang saku petugas.
Guna menunjang satgas darat, BNPB menyalurkan pompa air, bahan pemadam, dan flexible tank kapasitas 5 ton. Tangki portable itu dapat diisi dari sungai atau helikopter kemudian disalurkan ke lokasi kebakaran.
"Air yang habis bisa segera diisi ulang melalui helikopter. Ini sangat membantu di titik yang tidak memiliki sumber air," jelasnya. Sebanyak 10 personel tambahan juga dikerahkan ke lapangan.
Di Barito Selatan, karhutla terjadi di Desa Tabakan yang berdekatan dengan area perusahaan. Beruntung hujan turun sehingga meringankan upaya pemadaman. Ketinggian air Sungai Barito juga naik hingga 9 meter dan dapat digunakan.
Kepala BPBD Barsel, Muhammad Iman, menyebut pihaknya terus menjalin koordinasi dengan perusahaan di sekitar. "Kami minta perusahaan turut menyiapkan armada pemadaman mandiri," katanya.
Sementara itu di Kotim, Kodim 1015/Sampit bersama Brimob, Damkar, BPBD, DLH, dan warga berhasil memadamkan 1 hektare lahan di Desa Telaga Baru pada 21 Agustus 2026. Tantangannya berupa angin kencang dan lahan gambut yang masih mengeluarkan asap.
Dandim 1015/Sampit, Letkol Inf Muhammad Ridha, menilai sinergi lintas lembaga menjadi kunci. "Kami tidak bisa bergerak sendiri. Dukungan masyarakat juga sangat menentukan," ujarnya.
Akademisi lingkungan dari Universitas Palangka Raya, Dr. Hamzah, menilai karakter gambut di Kalteng menuntut pemadaman yang tuntas dan menyeluruh. "Jika hanya disiram bagian atas, api akan muncul kembali," katanya.
Menurutnya, pendinginan harus menjangkau kedalaman 50 cm. "Pakai peralatan khusus dan pastikan tidak ada sisa titik panas. Baru bisa dikatakan padam," tegas Hamzah.
Ia juga menyoroti aspek pencegahan. "Sekitar 70 persen karhutla dipicu aktivitas manusia. Sosialisasi dan pengawasan harus diperketat," ujarnya.
Kadis Kehutanan Kalteng, Agustan, menyebut pihaknya telah memerintahkan UPTD dan Manggala Agni untuk meningkatkan patroli. "Kami memfokuskan pada 12 kabupaten prioritas," ujarnya.
Agustan menambahkan, per 25 Agustus tercatat 63 titik panas di 7 kabupaten/kota. "Titik-titik itu berada di Barsel, Bartim, Katingan, Palangka Raya, Pulang Pisau, Seruyan, dan Kotim," jelasnya.
BMKG Kalteng memproyeksikan puncak musim kemarau jatuh pada Agustus 2026. Curah hujan di sebagian besar wilayah hanya berkisar 0-20 mm per bulan.
Prakirawan BMKG Palangka Raya, Rini Wulandari, menyebutkan Hari Tanpa Hujan di beberapa wilayah sudah mencapai 27 hari. "Kondisi ini sangat berbahaya. Risiko karhutla masih tinggi sampai September," katanya.
Merespons situasi tersebut, Sekda Kalteng Nuryakin atas nama Gubernur meminta seluruh bupati/wali kota mengaktifkan posko karhutla. "Jangan menunggu besar baru bergerak. Padamkan sejak masih kecil," pesannya.
Wakil Ketua DPRD Kalteng, Faridawaty Darland, mendesak pemerintah pusat menambah anggaran dan sarana. "Wilayah Kalteng sangat luas. Mengandalkan APBD saja tidak akan mencukupi," ujarnya.
Ia juga meminta perusahaan kelapa sawit dan HTI bertanggung jawab di area konsesinya. "Jangan mengalihkan tanggung jawab ke negara. Itu wilayah usaha mereka," tegas Faridawaty.
Warga diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar. Pelaku akan dikenai sanksi tegas. Posko laporan karhutla juga sudah dibuka di tiap kabupaten.
Dengan kolaborasi operasi udara, darat, serta keterlibatan masyarakat, diharapkan penanganan titik panas dapat berjalan optimal. Pemerintah menargetkan tidak ada lagi kebakaran gambut skala besar hingga akhir musim kemarau 2026. (*)

Tulis Komentar