Pemuda Pancasila Cilimus Kuningan Gelar Pembinaan Kader

Peristiwa | 06 Jan 2026 | 05:03 WIB
Pemuda Pancasila Cilimus Kuningan Gelar Pembinaan Kader
wawancara, mahasiswa UGJ Cirebon di Cilimus

Uwrite.id - CILIMUS — Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) Pemuda Pancasila Kecamatan Cilimus Kabupaten Kuningan, Pak Ade Kurniawan, menyampaikan komitmen organisasinya untuk memperbaiki citra Pemuda Pancasila di tengah masyarakat. Ia menyebut, anggapan negatif yang berkembang selama ini sering lahir dari tindakan segelintir oknum yang tidak memahami aturan organisasi.

“Tidak semua anggota Pemuda Pancasila berkarakter buruk. Kalau ada yang berbuat tidak sesuai aturan, itu oknum. Tugas kami membina, bukan membiarkan,” ujarnya dalam sesi wawancara bersama mahasiswa Universitas Swadaya Gunung Jati, Cirebon.

Pak Ade mengakui, kritik dan komentar sinis kerap muncul di media sosial dan ruang publik. Namun ia menilai, perdebatan daring tidak banyak membantu perubahan. “Kami sikapi sebagai kritik membangun. Kalau diladenin debat di medsos tak ada ujungnya. Yang penting kami buktikan lewat kerja nyata,” katanya.

Pemuda Pancasila berdiri pada 28 Oktober 1959 bertepatan dengan peringatan Sumpah Pemuda. Organisasi ini digagas Jenderal Abdul Haris Nasution sebagai wadah masyarakat untuk ikut menjaga ideologi negara dan keutuhan NKRI. Seiring perjalanan waktu, struktur organisasi meluas hingga tingkat desa, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, dan nasional, serta memiliki lembaga pendamping seperti satuan pelajar-mahasiswa dan lembaga bantuan hukum.

Sudah empat periode menjabat sebagai Ketua PAC, Pak Ade menilai kepemimpinan di tingkat akar rumput menuntut ketegasan sekaligus keteladanan. Menurutnya, arah organisasi sangat ditentukan oleh integritas pemimpin. “Kalau pemimpinnya salah arah, anggota bisa ikut salah. Tugas saya memastikan aturan dipatuhi dan anggota tidak melakukan hal-hal yang merugikan orang lain,” tegasnya.

Alih-alih mendorong praktik yang berpotensi menimbulkan konflik, ia mengaku mendorong pola pemberdayaan. Melalui komunikasi dengan pelaku usaha di wilayah Cilimus, sebagian anggota difasilitasi untuk bekerja, misalnya sebagai petugas keamanan. “Kami tidak punya gaji organisasi. Jadi kami cari cara supaya anggota bisa diberdayakan, bukan menyusahkan masyarakat,” ujarnya.

Pak Ade menambahkan, perubahan citra organisasi tidak bisa hanya mengandalkan pernyataan publik. Konsistensi kegiatan sosial, pembinaan disiplin kader, serta kemitraan yang saling menguntungkan dengan masyarakat dan swasta menjadi pendekatan yang diutamakan. “Kami lahir dari masyarakat dan untuk masyarakat. Tujuannya sederhana: disiplin, bermanfaat, dan menjaga nilai-nilai Pancasila,” tutupnya.

Di balik optimisme tersebut, tantangan tetap ada: sebagian masyarakat masih menyimpan keraguan atas praktik ormas di lapangan. Konsistensi implementasi, transparansi, dan keberlanjutan kegiatan akan menjadi faktor penentu apakah upaya pembenahan ini benar-benar mengubah persepsi publik bukan hanya pada tataran wacana.

Menulis di Uwrite bisa dapat penghasilan, Investasikan tulisan anda sekarang juga
Daftar di sini

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar