PEMIMPIN MADEG PANDITO

Budaya | 14 Apr 2023 | 05:33 WIB
PEMIMPIN MADEG PANDITO

Uwrite.id - Seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu menunjukkan kebijaksanaannya. Maksud kebijaksanaan tersebut adalah saat memimpin ia akan mengedepankan prinsip Hasta Brata. Namun ketika lengser keprabon, ia akan mengedepankan Madeg Pandito.

Pemimpin yang Madeg Pandito ialah pemimpin yang mampu membimbing dan menyiapkan calon penerusnya. Dengan penuh welas asih dan kesabaran ia akan mengajarkan dan memberikan pemahaman tentang sikap serta tanggungjawab seorang pemimpin. Serta ia mau manembah untuk calon penggantinya sebagai penasehat atau tempat urun rembuk.

Indonesia butuh pemimpin yang berbudi luhur. Pemimpin yang memahami dimana ia berakar dan bertumbuh. Bukan pemimpin imitatif yang melupakan dan mereduksi tinggalan tanah dan airnya.

Bukan pemimpin yang menawarkan salah benar atas nama ketuhanan. Dan bukan pemimpin yang membawa kawulanya dalam jurang kepalsuan penuh retorika.

Maju atau mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh pemimpin yang berhikmat kebijaksanaan. Iya telah selesai dengan dirinya. Tidak lagi memikirkan eksistensi dirinya saja. Melainkan lebih mementingkan kepentingan negara dan masyarakat. Pemimpin yang berani bicara lantang tentang perikemanusiaan yang beradab di depan mimbar-mimbar bangsa.

Bukan pemimpin yang menjual surgawi penuh bidadari di mimbar-mimbar rumah Tuhan.  Atau pemimpin yang tidak malu menjadi "Calo Tuhan" untuk sekedar merebut kekuasaan.

Indonesia butuh sosok perekat dan pekerja nyata. Pemimpin yang mampu merekatkan semua kepentingan. Mengayomi. Mampu menjahit dengan rapat sesuatu yang telah renggang karena disobek oleh para pencoleng kekuasaan. Pemimpin yang mampu bekerja nyata.

Bukan pemimpin yang hanya pintar berkata-kata. Berbicara seolah-olah ahli dan mampu. Padahal penuh tipu daya dan dengki. Pemimpin yang rela menjual harkat martabat bangsanya demi para majikan yang telah memberinya kuasa.

Indoneia butuh pemimpin yang sanggup mengusung konsep kosmologi. Iya sadar hanya sebagai perantara alam dalam membumikan tata tentram kertaraharja. Semua isi kehidupan di alam ini sejahtera dan bahagia. Saling damai ayem tentram dibawah naungan Pertiwi.

Bukan sosok pemimpin yang menghitamputihkan segala isi kehidupan. Meninabobokan para kawula dengan hembusan delusi ketuhanan dengan tangan kanan. Sementara tangan kirinya merampas kekayaan alam bangsanya. Dan bukan juga pemimpin yang memuliakan dan menuanbesaelrkan para pendatang serta tamu, sambil tangannya melempar para anak keturunan tanah partiwi hanya menjadi sekedar jongos pelayan manusia yang katanya mulia. Absurditas khayali yang diciptakan untuk pengendalian, agar menjadi hambasahaya kaum jubah.

Mari berani tegak dengan melantangkan diri. Jangan hanya tunduk tanpa rasionalitas. Tuhan tidak sekerdil itu. Kita adalah manusia merdeka. Manusia yang berdiri di tanah kaya dan subur. Jangan tunduk menjadi jongos. Jangan jual kepalamu dengan iming-iming sejengkal tanah yang belum tentu si tuan pongah itu akan mampu memasukinya. Mari bangga dengan tanah leluhurmu. Bangga dengan budayamu. Bangsamu bukan bangsa jahil. Tapi bangsa yang sudah punya peradaban besar. Bahkan sebelum Sang Mulia itu dilahirkan. Kita butuh Pemimpin yang memahami Madeg Pandito. Pemimpin tersebut akan hadir, karena kuasa kita. Bukan mereka.

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar

0 Komentar