Pelaku Usaha Wait & See Lihat Arah Kebijakan Bank Indonesia, Sosok Destry Diterima Market

Uwrite.id - Jakarta - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengatakan pelaku usaha masih bersikap wait and see menantikan arah kebijakan BI setelah mundurnya Perry. Proses transisi kepemimpinan diharapkan berlangsung cepat agar memberikan kepastian kepada dunia usaha maupun pasar.
"Kepastian arah kebijakan moneter ini sangat penting agar kita bisa menghadapi berbagai tantangan yang ada, apalagi di tengah ketidakpastian global dan dinamika perdagangan internasional," ujar Shinta.
Stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi menjadi perhatian utama dunia usaha. Kondisi tersebut dinilai penting karena sekitar 70% bahan baku industri nasional masih bergantung pada impor yang sebagian besar menggunakan dolar AS. Gejolak nilai tukar rupiah berdampak langsung terhadap biaya produksi.
Destry Diterima Market
Pengunduran diri Perry menjadi ujian berat bagi independensi, kredibilitas, dan konsistensi kebijakan BI. Pasar kini mencermati apakah proses transisi kepemimpinan dapat berlangsung tanpa mengganggu arah kebijakan moneter.
Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan perhatian pasar di dalam negeri akan tertuju pada fundamental ekonomi dan arah kebijakan pemerintah. Kedua faktor tersebut dinilai lebih menentukan dibandingkan perubahan figur di pucuk pimpinan BI. Investor asing bahkan lebih melihat kemampuan bank sentral menjalankan mandatnya agar tetap menjadi faktor utama dalam membangun kepercayaan terhadap Indonesia.
“Kredibilitas BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi, serta memastikan stabilitas sistem keuangan akan tetap menjadi faktor utama dalam menentukan persepsi investor terhadap Indonesia,” kata Yusuf.
Koordinasi antara BI dan pemerintah juga akan menjadi sorotan. Sinergi kebijakan fiskal dan moneter diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global.
“Selama koordinasi tersebut tetap terjaga dan arah kebijakan BI konsisten, saya melihat pergantian gubernur tidak akan mengubah kepercayaan investor secara signifikan,” ujarnya.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai pengunduran diri Perry menjadi pukulan berat bagi sektor moneter nasional.
Menurutnya, mundurnya Perry lebih dipengaruhi tekanan politik terkait persoalan fiskal, seperti pelebaran defisit APBN, masalah proyek makan bergizi gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih, sehingga memicu kekhawatiran investor. Selain itu, penambahan utang pemerintah yang agresif juga memperburuk profil risiko Indonesia. Namun, BI malah menjadi sasaran kritik karena dianggap gagal menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan kepercayaan investor.
“Intervensi otoritas fiskal ke moneter juga sudah berlebihan, bukan lagi sinergi,” katanya.
Dia menilai kondisi tersebut semakin memburuk setelah pengesahan revisi Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) serta Undang-Undang Pusat Finansial Internasional Indonesia (UU PFII). Klausul imunitas Patriot Bond dalam UU P2SK dinilai melemahkan kewenangan BI dalam mengatur lalu lintas devisa sekaligus mengawasi transaksi lintas negara.
Sementara dalam UU PFII, terdapat kawasan khusus yang memisahkan otoritas pengawasan keuangan, sehingga meski terlihat hanya berdampak pada Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kewenangan BI juga dinilai ikut berkurang.
“Mengembalikan kepercayaan investor tentu tidak mudah, apalagi arah kebijakan moneter berada di bawah kendali eksekutif. Selama masalah tekanan politik ke BI tidak berhenti, pengganti Perry dari internal tidak akan bertahan lama,” ujarnya.
Sosok Pengganti Perry
Selama bertahun-tahun Perry Warjiyo dikenal konsisten menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas harga. Rekam jejak tersebut membentuk tingkat kepercayaan tinggi dari investor global. Ketika figur itu mundur, pasar membutuhkan waktu untuk membangun keyakinan baru terhadap kepemimpinan berikutnya. Presiden harus segera menetapkan pemimpin baru yang cakap.
Rektor Perbanas Institute Hermanto Siregar mengatakan sosok pengganti Perry harus memiliki kompetensi teknikal yang sangat spesifik di bidang moneter, kemampuan komunikasi yang matang, serta jejaring internasional kuat.
"Bank Indonesia itu paling cocok dipimpin oleh orang yang kompetensinya memang berada di bidang moneter. Tugas dan fungsi bank sentral sangat khas dan sangat teknikal, sehingga tidak bisa diisi sembarangan," kata Hermanto.
Karakter kepemimpinan juga menjadi aspek penting. Menurut Hermanto, pimpinan bank sentral harus mampu bersikap tenang dalam setiap situasi karena setiap pernyataannya akan menjadi perhatian pelaku pasar dan dapat memengaruhi persepsi terhadap perekonomian.
"Gubernur Bank Indonesia harus kalem. Tidak bisa memiliki karakter yang mudah meledak-ledak karena sedikit saja pernyataannya dapat langsung dirujuk," ujarnya. (*)

Tulis Komentar