PAWON (DAPUR) Rahasia Kegemilangan Peradaban Manusia

Budaya | 14 Apr 2023 | 05:42 WIB
PAWON (DAPUR) Rahasia Kegemilangan Peradaban Manusia

Uwrite.id - "Dimanakah letak Pawon/Dapur ditubuh manusia??"

Dapur menurut khasanah filosofi kebudayaan Nusantara, adalah jiwa dari sebuah rumah. Dapur adalah bhumi para perempuan. Banyak rahasia ilmu, pengetahuan dan spiritualitas disana. Dapur adalah wilayah perempuan. Simbol asal mula. Secara layout sederhana, disana ada tungku, gowah dan pandaringan. Tungku sebagai sarana mematangkan semua bahan makanan. Tempat penrmpaan menuju sebuah sajian. Gowah adalah sarana khusus untuk penyimpanan semua perangkat kerja pedapuran. Sekaligus menjadi ruang privat meditatif para perempuan penguasa dapur. Sedangkan Pandaringan adalah tempat menyimpan padi, beras dan bahan makanan lainnya. Pandaringan juga menjadi tempat pamujan Ibu Dewi Sri. Shang pemberi kesejahteraan.

Filosofi bagi kebanyakan manusia Nusantara terhadap rumah hampir sama. Hanya beda istilah saja. Rupa dan konsepsinya sama. Menganut kosmosentris. Rumah bagian depan adalah bagian laki-laki. Tengah rumah adalah daerah netral. Tempat dimana menjadi sarana interaksi antara laki-laki dan perempuan serta penghuni rumah lainnya. Sedangkan Dapur adalah ruang utama bagi perempuan. Nusantara sangat memuliakan dapur. Itulah mengapa dapur tidak terlepas dari pijakan alam. Konsep Dapur nusantara selalu lantainya dari tanah. Tempat pijakan. Tanah mulia memuliakan. Tempat dimana perempuan menjaga tata kehidupan. Ia dapat menjaga kehidupan dengan sajian dan suguhan bagi anggota keluarga. Dapur juga menjadi sarana untuk persiapan pembuatan sajian dan suguhan persembahan ritual. Dus dapur juga dijadikan tempat meditasi serta pemulian pamujan Dewi Sri. Disini kita harus memahami kebijaksanaan Nusantara dalam memuliakan perempuan sebagai energi feminim. Energi inti dari kehidupan. Bukan memajirnalkan perempuan. Melainkan menempatkan perempuan di dalam ekologinya. Apa jadinya ruh energi feminim tersebut dicabut dari Dapur???

Kaum feminis orientalis menganggap konsep diatas adalah budaya patriarki ekstrim. Dimana perempuan hanya dijajah kaum pria. Dipinggirkan sebagai jongos rumah tangga. Provokasi pemikiran kaum orientalis, bahwa kaum perempuan kudu memberontak terhadap konsepsi kuno tersebut, dapat mengakibatkan ketidakseimbangan tatanan alam. Baik tatanan alam kecil, tengah dan besar. Isu kesetaraan jender yang melenceng dari relnya.

Dapur berdasar konsepsi Nusantara adalah tatanan seimbang. Laki-laki atau energi maskulin letaknya di depan. Ia adalah asesoris bagi rumahtangga untuk berinteraksi ke luar dan gerak interaksi lainnya. Semntara perempuan adalah energi feminim yang menjaga kehidupan dan sumber kehidupan. Ia menjaga dengan memberikan penganan, suguhan dan sajian bagi keluarganya. Semua diracik dari rasa hari. Bertemua dengan rasa peralatan kerjanya dan rasa bahan bakunya. Semua menyatu menjadi rasa baru ; lezat, nikmat dan gurih. Perempuan mengendalikan sistem metabolisme tubuh penghuni rumah dengan sajian dan suguhan. Ia  juga yang mengendalikan sistem distribusi dan stok yang ada. Serta memuliakan si pemberi hidup dan kehidupan. Apalah arti seorang laki-laki tanpa perempuan. Tidak ada yang menjaga tatanan hidupnya. Tidak ada yang menjaga belakang tubuhnya. Timpang karena tidak ada support sistem yang bekerja. Sementara perempuan tanpa lelaki masih tetap dapat menjaga tatanan hidup dan kehidupan. Karena ia telah terbiasa mengendalikan sumber-sumber kehidupan dengan daya rasa dan pikirnya.

Ruang tengah adalah ruang interaksi. Tempat pertemuan antara energi  maskulin dan feminim. Interaksi teersebut jika berimbang dan dinamis akan menciptakan kehidupan baru. Baik yang bersifat transeden ataupun realita. Semua terjadi di titik tengah. Pusat keseimbang daya cipta, rasa dan karsa. Bahan bakar bagi energi maskulin untuk bergerak kasunyatan. Lelah, resah dan gelisah para maskulin setelah menghadapi kasunyatan hidup, akan terhapus dengan sajian dan suguhan ala feminim. Energi menenangkan dan menyenukan.

Pada diri manusia, akal (otak belakang) adalah dapur. Akal dan pikir adalah representasi dari konsepsi. Jembatan dari yang imateri menjadi materi. Gerak raga yang mewujudkan. Akal terletak pada belakang kepala. Ia mendapatkan energi dari jantung dan paru. Akal inilah representasi dari dari energi feminim. Akal yang akan bekerja menyediakan makanan bagi pikir. Ia mengolah segala bahan baku (informasi, data, dll) yang ada. Diracik atas dasar welas asih dan kebijaksanaan. Hingga menjadi suguhan dan sajian bagi pikir.

Ruang tengah/pineal dalam kepala, adalah ruang netral. Tempat interaksi antara akal dan pikir. Ruang dimana segala suguhan dan sajian dinikmati. Energi maskulin akan merasa tenang dan tentram karena diliputi oleh sifat feminim yang dihasilkan, yaitu welas asih dan kebijaksanaan. Pikir akan mempunyai senjata menenangkan untuk kembali menghadapi kenyataan hidup.

Sementara pikir adalah representasi dari energi maskulin. Dimana ia menjadi pengendali dari gerak kasunyatan manusia. Sajian dan suguhan yang diterima dari akal, lalu diolah menjadi konsep, strategi, tahapan langkah, gerak tubuh lalu baru wujud menjadi kenyataan. Baik kenyataan yang gemilang maupun yang tidak mengenakkan. Semua wujud kenyataan tersebut tergantung dari kesempurnaan dari suguhan dan sajian dari dapur. Gemilang atau runtuh, semua karena peranan dapur. Sebagai wujud dari kerahasiaan energi feminim.

Proses dari dapur dapat mewujudkan kegemilangan peradaban manusia. Dapur yang bersih, tertata dan terjaga ekologinya akan mampu memberi sajian dan suguhan yang berkualitas bagi energi maskulin. Dapur tergantung pada energi feminim yang mengendalikannya. Energi feminim yang sudah mengetahui dan sadar akan fungsinya sebagai pusat hidup dan kehidupan akan sangat bermanfaat bagi gerak kasunyatan para maskulin. Daya yang diciptakan tergantu seberapa kuat ia mengendalikan dan memanfaatkan peralatan dan tungku dapur. Daya api tungku semakin besar maka semakin besar pula daya ciptanya.

Begitulah hikayat Pawon atau dapur. 
Siapa yang ingin gemilang maka jangan pernah lepas Dapur dari ekologinya. Muliakan perempuan, muliakan dapurmu, maka gemilanglah hidupmu.

"Hati-hati ketika PROSES memasak, jika engkau teledor dapat terpecik API. Memasak adalah proses bertemunya "rasa" dirimu dengan "rasa" bumbu dan bahan masakan. Semakin kamu memahami dan empati terhadap karakteristik bahan masakan mu, maka kamu dapat dengan mudah menyatukan "rasa" mu dengan "rasa" masakan mu. Tidak ada yang saling mendominasi. Menyatu padu membentuk "rasa" baru yaitu, lezat, gurih dan nikmat. Selamat menyantap masakan mu, tak usah terburu-buru. Resapi dan sesapi kenikmatannya perlahan-lahan. Cukupkan sebelum kenyang. Dan jangan lupa berbagi. Karena masakan akan semakin nikmat jika dinikmati bersama....."

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar

0 Komentar