
Uwrite.id - Orang-Orang yang Tidak Tercatat.
Setiap pagi pukul lima, Pak Wira sudah berdiri di perempatan Pasar Lama dengan rompi ungu yang warnanya hampir jadi cokelat.
Di rompinya tertulis: Petugas Kebersihan.
Di kenyataannya: orang yang jarang dilihat.
Ia menyapu sisa-sisa malam—bungkus mie, puntung rokok, mimpi orang lain yang dibuang sembarangan.
Kota selalu tampak bersih di siang hari, tapi tak ada yang ingat siapa yang membuatnya begitu.
Pak Wira pernah jadi buruh pabrik.
Pernah punya rumah petak.
Pernah punya istri.
Sekarang ia punya gerobak, kamar kos sempit, dan satu nomor telepon yang tak pernah diangkat anaknya sejak ibunya meninggal.
Di lampu merah, mobil-mobil berhenti.
Kaca tertutup.
Orang-orang sibuk dengan layar handphone masing-masing.
Seorang pejabat lewat dengan mobil dinas.
Seorang pengusaha muda lewat dengan mobil mewah.
Seorang influencer memotret kopi.
Pak Wira menyapu di antara mereka, seperti noda yang tak bisa dihapus tapi juga tak ingin dilihat.
Suatu hari, ia jatuh saat sedang membersihkan got.
Kakinya terkilir. Sakitnya sampai ke pinggang.
Ia duduk di pinggir trotoar, terengah.
Tak ada yang berhenti.
Orang-orang melangkahi tubuhnya seperti mereka melangkahi genangan.
Sore itu, supervisor datang.
“Kenapa nggak kerja?”
Pak Wira mencoba berdiri, gagal.
“Kalau nggak kuat, ya diganti. Banyak yang ngantri,” kata supervisor sambil mencatat sesuatu di papan.
Tak ada ambulans.
Tak ada laporan kecelakaan kerja.
Tak ada nama.
Malamnya, Pak Wira pulang pincang.
Di kamar kosnya, ia membuka dompet.
Di dalamnya ada kartu BPJS yang sudah mati,
foto anaknya waktu masih SD,
dan selembar kertas berisi nomor lama istrinya.
Ia tertawa pelan.
“Orang kayak saya,” gumamnya,
“baru kelihatan kalau sudah hilang.”
Besok pagi, kota akan tetap bersih.
Lampu akan tetap menyala.
Dan Pak Wira—kalau tidak datang lagi—
hanya akan digantikan oleh rompi ungu yang lain.
Karena di kota ini,
yang penting bukan siapa yang menyapu,
tapi jalanan tetap terlihat rapi.

Tulis Komentar