
Uwrite.id - Ia bekerja di malam hari bukan karena suka, tapi karena malam tidak banyak bertanya.
Nama di aplikasi tertulis Bayu. Foto profilnya rapi, diambil siang hari. Jaket hijau selalu bersih di luar, tapi bagian dalamnya sudah mulai berbulu. Helm cadangan diikat rapi di belakang motor, bau parfum murah bercampur keringat lama.
Jam di ponsel menunjukkan pukul dua lewat sepuluh. Notifikasi masuk.
Penjemputan: Klub Malam.
Bayu menekan terima. Mesin motor menyala, suara knalpotnya serak tapi setia.
Di depan klub, orang-orang berdiri seperti sisa pesta yang lupa pulang. Ada yang tertawa keras, ada yang diam menunduk. Bayu memarkir motor di pinggir, melepas helm.
“Bayu?” tanya seorang perempuan.
“Iya, Mbak.”
Perempuan itu naik, langkahnya sedikit goyah. Bayu menunggu sampai ia duduk stabil.
“Rumah ya, Mas,” katanya.
“Iya.”
Motor melaju. Perempuan itu diam, lalu tiba-tiba tertawa kecil.
“Mas tahu nggak,” katanya, “orang mabuk itu jujur.”
Bayu tidak menjawab. Ia sudah tahu. Tapi ia juga tahu, orang yang bilang begitu biasanya sedang berbohong pada dirinya sendiri.
Di lampu merah, perempuan itu bersandar sedikit ke punggung Bayu. Bau alkohol dan parfum bercampur. Bayu menahan napas, fokus ke jalan.
“Mas sering narik malam?” tanya perempuan itu.
“Iya.”
“Capek ya.”
“Iya.”
Jawaban Bayu selalu pendek. Bukan karena tidak ramah, tapi karena malam mengajarkannya: terlalu banyak bicara bikin cerita menempel.
Sesampainya di rumah, perempuan itu turun pelan.
“Makasih ya, Mas,” katanya sambil menyodorkan uang tip kecil.
“Iya, Mbak.”
Ia pergi tanpa menoleh. Bayu menunggu sampai pintu rumah tertutup. Baru kemudian ia pergi.
Notifikasi masuk lagi.
Penjemputan: Karaoke.
Kali ini lelaki. Badannya besar, jalannya berat. Ia naik tanpa bicara.
Motor melaju. Jalanan lengang.
“Mas,” kata lelaki itu tiba-tiba, suaranya rendah. “Kalau orang pulang terus nggak disambut, itu namanya apa?”
Bayu diam sebentar. “Pulang.”
Lelaki itu tertawa pendek. “Iya juga.”
Mereka sampai. Lelaki itu turun, membayar pas. Tidak ada tip. Tidak ada terima kasih. Bayu tidak keberatan. Tidak semua orang mampu memberi lebih.
Sekitar pukul tiga, Bayu berhenti sebentar di minimarket 24 jam. Ia membeli kopi kaleng. Duduk di motor, minum pelan.
Di parkiran, beberapa driver lain duduk. Mereka tidak bicara banyak. Hanya anggukan. Persaudaraan tanpa percakapan.
Notifikasi masuk lagi.
Penjemputan: Bar.
Seorang lelaki muda naik. Wajahnya segar, matanya kosong.
“Kos,” katanya.
Di jalan, lelaki itu sibuk dengan ponselnya. Mengetik, menghapus, mengetik lagi.
“Mas,” katanya akhirnya. “Kalau hidup nggak sesuai rencana, itu salah siapa?”
Bayu menatap jalan. “Kadang nggak ada yang salah.”
Lelaki itu diam. Menyimpan ponsel.
“Mas pernah mabuk?” tanya lelaki itu.
Bayu tersenyum kecil. “Jarang.”
“Kenapa?”
“Harus nyetir.”
Lelaki itu tertawa kecil. “Iya ya.”
Sesampainya di kos, lelaki itu turun, berdiri sebentar.
“Makasih, Mas.”
“Iya.”
Bayu melihat punggungnya menghilang di tangga kos yang gelap.
Jam mendekati empat. Udara mulai berubah. Tidak sedingin tadi. Bau pagi muncul perlahan.
Notifikasi masuk lagi.
Penjemputan: Gang Sempit.
Seorang perempuan menunggu. Bajunya sederhana. Matanya merah, tapi tidak mabuk.
“Kita pelan aja ya, Mas,” katanya. “Saya capek.”
“Iya.”
Di perjalanan, perempuan itu tidak bicara. Hanya napas panjang sesekali.
Setelah beberapa menit, ia berkata pelan, hampir seperti bicara sendiri.
“Saya nggak minum.”
Bayu mengangguk. “Iya.”
“Saya cuma capek.”
Bayu tidak menoleh. Ia mengerti. Banyak orang di malam hari tidak mabuk. Mereka hanya lelah.
Sesampainya di tujuan, perempuan itu turun.
“Mas,” katanya. “Terima kasih sudah nggak banyak tanya.”
Bayu mengangguk. “Iya.”
Perempuan itu pergi. Bayu menatap jam. Hampir subuh.
Ia mematikan aplikasi. Mesin motor dimatikan. Ia duduk sebentar, menatap langit yang mulai terang.
Di satu malam, Bayu mengantar puluhan orang. Ia tahu alamat rumah mereka, tapi tidak tahu hidup mereka. Ia mendengar cerita, tapi tidak menyimpannya.
Ia tidak pernah mabuk.
Ia tidak pernah benar-benar ikut pesta.
Ia hanya mengantar orang-orang yang pulang membawa sisa-sisa dirinya.
Ketika matahari muncul, Bayu pulang ke rumah kontrakannya. Ia membuka jaket, menggantung helm.
Di cermin kecil, ia menatap wajahnya sendiri. Biasa saja. Tidak istimewa.
Ia tidur ketika kota bangun.
Dan bangun ketika kota ingin lupa.
Karena di dunia malam,
orang-orang yang tidak pernah mabuk
sering kali adalah mereka
yang paling banyak menanggung cerita orang lain.

Tulis Komentar