One Season Wonder, Akankah Power Demokrat Kembali Memuncak

Opini | 26 Aug 2023 | 10:48 WIB
One Season Wonder, Akankah Power Demokrat Kembali Memuncak
SBY menyiapkan penerus jejaknya, Agus Harimurti Yudhoyono. Sebagaimana tersiar Anies Baswedan sudah mengantongi nama bakal calon wakil presiden Koalisi Perubahan dan Persatuan, namun belum untuk diumumkan. (Istimewa)

Uwrite.id - Partai Demokrat pernah menjadi salah satu partai besar di Indonesia. Berdiri sejak 2001, Demokrat memenangi Pemilu Legislatif 2009 dan memimpin parlemen, bersamaan dengan terpilihnya kembali patron Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dalam pemilihan presiden (pilpres) untuk menduduki masa jabatan periode kedua.

Demokrat kemudian menjadi partai baru yang disegani, karena mampu menjadi juara sebelum berusia satu dekade.

SBY sebelumnya terpilih pada Pilpres 2004, namun pada pemilihan legislatif (pileg) tahun itu Demokrat hanya menduduki posisi ke-5.

Sayangnya, kejayaan Demokrat hanya sepanjang satu periode. Setelah keberhasilannya pada 2009, Demokrat tidak pernah kembali mendapati posisi teratas dalam setiap edisi pemilu berikutnya.

Pada pemilu legislatif 2014, Demokrat berada pada posisi ke-7 dengan perolehan jumlah pemilih sah sebesar kurang lebih 12 juta suara. Angka ini turun drastis dari jumlah suara yang didapat pada Pemilu 2004, yakni 21 juta suara. Pada Pemilu 2019, Demokrat masih berada di posisi ke-7 namun dengan penurunan jumlah pemilih menjadi 10 juta.

Sekali menang, lalu berkali-kali kalah, Partai Demokrat tampak berpotensi menjadi one season wonder alias keajaiban satu musim dalam panggung politik Indonesia.

One season wonder merujuk pada istilah yang disematkan kepada sosok, baik individu maupun kelompok, yang hanya berjaya atau hebat dalam satu musim saja. Setelah musim tersebut berakhir, biasanya sosok tersebut hilang bak ditelan bumi.

Istilah ini lebih familiar bagi pecinta sepak bola. Michu, pesepakbola asal Spanyol yang pernah bermain untuk klub asal Inggris Swansea City, pada 2012-2013 menjadi populer karena berhasil mencetak 18 gol dalam debutnya di Liga Inggris (English Premier League), liga sepak bola yang dikenal paling sulit.

Dalam industri musik, dikenal istilah one hit wonder, yang disematkan pada vokalis ataupun grup (band) yang hanya mampu mencetak satu lagu atau album, lalu popularitasnya tenggelam.

Contohnya adalah lagu Gangnam Style - dinyanyikan seorang vokalis Korea Selatan bernama Psy - yang sempat sangat populer di seluruh penjuru dunia. Namun setelahnya, publik tidak mendengar karya populer mereka lagi, meski sebenarnya mereka masih menciptakan lagu.

Terkait popularitas Partai Demokrat, sebuah penelitian mengungkapkan bahwa kegagalan Demokrat untuk bisa mempertahankan pemilihnya salah satunya diakibatkan melemahnya kepercayaan publik pada partai.

Pada akhir masa pemerintahan SBY, Demokrat mendapat sorotan tajam dari publik akibat kasus korupsi besar yang melibatkan petinggi partai.

Sejak memenangkan Pileg 2009, terdapat kurang lebih 10 kader Demokrat di level nasional yang berurusan dengan hukum, sebagian besar tersandung kasus korupsi. Kader yang terlibat termasuk Anas Urbaningrum yang saat itu menjabat sebagai Ketua Umum Partai Demokrat dan Muhammad Nazaruddin yang tengah menjabat bendahara umum partai.

KPK menangkap Nazaruddin pada 2011 terkait kasus korupsi pembangunan Wisma Atlet SEA Games di Palembang, disusul oleh penetapan Anas sebagai tersangka pada 2013 dalam korupsi proyek Wisma Atlet Hambalang dan penahanannya yang dimulai pada 2014.

Proyek Hambalang pertama kali dicanangkan pada masa pemerintahan SBY dan menjadi salah satu skandal korupsi yang paling menyita perhatian publik. Menyusul penetapan Anas sebagai tersangka, Demokrat segera menghelat Kongres Luar Biasa (KLB) dan menetapkan SBY yang saat itu sedang menjabat sebagai Presiden menjadi Ketua Umum Partai.

Terjebak Konflik Internal

Penurunan suara Demokrat pada Pileg 2014 akibat rentetan kasus korupsi ini sudah diprediksi sejak awal oleh berbagai pengamat politik dan lembaga survei.

Menjelang Pemilu 2024 ini, sudah banyak pula pengamat yang memprediksi perolehan suara Demokrat akan semakin menurun, salah satunya karena konflik internal yang pernah melanda partai.

Konflik internal Demokrat mulai terjadi pada 2021, setelah Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), anak sulung SBY, terpilih menjadi ketua umum partai untuk periode 2020-2025.

Terjadi gelombang perpindahan kader partai, baik di level daerah dan nasional, yang cukup besar ke partai-partai lain karena menganggap AHY minim pengalaman di dunia politik dan belum memiliki manajemen kepemimpinan yang matang.

Ini juga membuat Demokrat terbelah menjadi dua kubu – kubu kepemimpinan AHY dan kepemimpinan mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Moeldoko.

Pilihan rasional Demokrat untuk 2024
Ada pola yang kerap terjadi hampir di setiap partai politik, yakni ketua umum partai otomatis masuk ke dalam bursa calon presiden yang akan diusung partainya maupun koalisi partai. Ini memang tidak ada di aturan partai manapun, tapi biasanya partai akan menyodorkan kader terbaik mereka dalam bursa capres dan kader terbaik itu umumnya adalah pemimpin partai.

Demokrat sendiri sudah lama menggadang AHY sebagai capres. Sayangnya, beberapa survei elektabilitas capres selalu menyebutkan bahwa AHY berada di luar tiga besar nama capres.

Namun, AHY kerap masuk dalam tiga besar teratas daftar calon wakil presiden (cawapres) berdasarkan hasil survei.

Salah satu hasil survei bahkan menunjukkan bahwa jika AHY menjadi pasangan cawapres dari bakal capres Anies Baswedan, maka duet mereka akan mampu mengungguli pasangan capres-cawapres lainnya.

Pada tanggal 24 Maret di 2023 lalu, Demokrat memang telah sepakat membentuk Koalisi Perubahan bersama Partai Nasdem dan PKS – dua partai yang telah resmi menyatakan dukungan pada Anies untuk maju sebagai capres.

Partai Demokrat memang cerdik dalam melihat peluang. Secara realistis, peluang untuk mendorong AHY menjadi capres dalam Pemilu 2024 tidak serta-merta menyebabkan akhirnya Demokrat mendorong diri AHY sebagai capres. Belum terbukanya peta jalan AHY dalam politik, baik di legislatif maupun di eksekutif, tentu akan mengurangi daya ungkit AHY dan Demokrat untuk jika mencapreskan diri.

Memang, setiap partai politik pastinya ingin mengusung figur internal partai dalam bursa capres-cawapres.

Ini karena adanya ‘efek ekor jas’ (coat-tail effect), yakni ketika partai mendapatkan limpahan suara dalam pileg jika mencalonkan figur yang populer dan memiliki elektabilitas tinggi. Namun sebenarnya figur tersebut tidak perlu berasal dari dalam Demokrat.

Salah satu strategi yang bisa Demokrat lakukan untuk meningkatkan elektabilitas partai adalah berkoalisi dengan partai lain yang mampu membawanya ikut dalam gerbong pemenang dalam Pemilu 2024.

Yang mana pada akhirnya koalisi itu mengusung AHY sebagai cawapres dan memenangkan pemilu dan menjadi kubu pemerintah, Demokrat akan memiliki peluang untuk rebound sebagai 3 besar di legislatif pada pemilu berikutnya.

Bila AHY bisa mendapati kursi wapres, ini akan menjadi langkah yang bagus bagi AHY untuk mencicip pengalaman di lembaga eksekutif dan membantunya menapaki karier politik untuk pemilu berikutnya. (*)

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar

0 Komentar